Awali dengan Tungku, Menuju Hidup Berkelanjutan…


Ilustrasi (Foto: ytimg.com)

Beberapa waktu terakhir ini, saya tengah gandrung-gandrungnya menjalani hari-hari bertajuk, “Going Traditional, Going Sustainable”. Dalam Bahasa Indonesia, lebih-kurang bermakna hidup secara tradisional dan berkelanjutan. Bentuknya, saya mulai dengan mengubah cara memasak yang awalnya menggunakan kompor gas dan listrik menjadi hanya menggunakan tungku berbahan bakar kayu.

CIta-cita untuk hidup secara tradisional memang sudah mulai merasuki pikiran saya sejak Sekolah Dasar dulu. Saya selalu senang duduk di depan tungku di dapur rumah nenek saya. Beliau memang lebih senang memasak dengan tungku. Padahal, anak-anaknya sudah membelikan kompor minyak, dan juga kompor gas. Namun, tetap saja tungku menjadi pilihannya untuk memasak.

Ketika berada di rumah nenek, tempat tujuan utama saya kala terbangun dari tidur adalah tungku. Tujuannya memang menghangatkan diri. Namun, aroma beraneka kayu yang terbakar dengan harum masakan yang muncul lambat laun membangun memori tersendiri. Bagi saya, aroma tersebut selalu mengingatkan saya tentang desa dan kehidupan guyub di dalamnya. Juga teringat dengan desa dengan udara yang sejuk dan kondisi yang hening.

Berada di depan tungku membuat saya juga senang dengan nyala api. Rasanya, yah seru saja. Melihat gemericik api yang terbakar dan menjalar ke sepanjang kayu. Tidak jarang, nenek saya berusaha mengendalikan nyala api dengan menggunakan air agar masakan tidak gosong.

Mencoba memasak air menggunakan tungku berbahan kayu bakar. (Foto: Yudha PS)

Bagi saya yang masih kecil, nyala api mengundang saya untuk bereksperimen kecil dengan panas. Tak jarang, saya memasukkan plastik, kertas, atau benda-benda lain di sekitar tungku. Tujuannya, tentu mengamati kondisi benda bila terkena nyala api. Meskipun bisa dipastikan hasilnya, tetapi, saya tetap melakukannya, lagi, dan lagi.

Beranjak dewasa, saya jarang ke rumah nenek, bahkan kini terbilang tidak pernah. Alasannya, tentu karena beliau sudah wafat. Namun, kenangan tentang tungku dan aroma masakannya tetap melekat di ingatan saya. Tentunya, memori ini kemudian mulai saling berkelindan dengan wawasan tentang hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Secara kebetulan, dalam satu dasawarsa terakhir ini, saya kerap mengunjungi desa. Salah satu aktivitas favorit saya adalah makan dengan nasi liwet di tengah kebun atau hutan. Nasi liwet sendiri dimasak dengan menggunakan panci yang kerap disebut kastrol. Karena berada di tengah hutan atau kebun, tentu kompornya pun seadanya, yaitu: kayu bakar. Pun dengan sayur dan lauk-pauknya yang dimasak dengan metode yang sama.

Meskipun terkesan primitif, tetapi rasa masakannya lebih nikmat dibandingkan dengan nasi yang dimasak menggunakan kompor atau pun penanak nasi otomatis (rice-cooker). Konon, nasi yang dimasak dengan liwet ini lebih sehat. Apalagi bila dicampur dengan rempah-rempah seperti: serai, daun salam, bawang merah, dan cabai rawit. Tentunya, kandungan gizi dalam nasi menjadi lebih banyak.

Katanya lagi, nasi yang dimasak dengan liwet lebih ramah bagi penyandang diabetes. Menurut sepupu yang memiliki diabetes, kadar “gula” dalam nasi liwet lebih rendah bila dibandingkan dengan nasi “buatan” penanak nasi otomatis. Hal ini membuatnya lebih mampu mengendalikan kadar gula darah dalam tubuhnya.

Kembali ke gaya hidup tradisional. Setelah pindah ke rumah terkini, saya mulai membeli tungku kayu bakar. Sebenarnya keinginan ini sudah lama terpendam. Hanya saja, zaman now sulit untuk menemukan penjual tungku di Bandung. Beruntung, ketika sedang jalan-jalan ke desa di dekat rumah, saya mendapati sebuah motor yang tengah membawa tungku kayu bakar. Langsung, saya merapatkan diri kepada sang pengemudi dan membeli satu tungkunya seharga 60 ribu Rupiah.

Saya mencoba memasak mie instan menggunakan tungku.

Sebagai amatir dalam memasak menggunakan tungku, tentu saya harus belajar banyak hal, terutama cara menyalakan dan mengendalikan api. Hal ini berkaitan dengan kayu sebagai bahan bakar utama tungku. Syarat utamanya cukup sederhana: kayu harus benar-benar kering agar menghasilkan panas yang maksimal.

Selain kering, saya juga belajar tentang kepadatan kayu. Semakin padat kayu, semakin sulit terbakar. Namun, kayu yang padat memungkinkan api menyala lebih lama dan panas. Oleh karena itu, penting untuk membelah kayu yang padat setipis mungkin agar mampu terbakar dengan baik.

Saya juga belajar tentang waktu yang tepat untuk memasukkan kayu. Pada tahap permulaan, sebaiknya masukan kayu yang ringan dengan kepadatan yang renggang. Kayu jenis ini sebaiknya dipotong tipis-tipis agar api bisa menyala besar dengan cepat. Sisipkan pula kayu yang lebih padat di sela-selanya, sehingga api bisa dengan mudah membakar kayu tersebut.

Ketika memasukkan kayu pun harus memperhatikan kondisi api dan kayu di dalamnya. Idealnya, masukan kayu bila api mulai sedikit redup dengan kayu yang ada. Bila api terlalu lemah, kayu akan sulit terbakar. Hasilnya, kepulan asap yang terlampau tebal. Sebaliknya, bila kita memasukkan kayu ketika api masih terlalu besar dan kayu yang ada masih belum terbakar sempurna, maka akan terjadi penumpukkan arang di bagian belakang tungku. Bila sudah seperti ini, kita akan mendapati panen asap yang justru lebih tebal.

Selesai urusan kayu, kini saya mulai dengan bagian masak-memasak. Saya mulai dengan memasak air panas untuk mandi. Pasalnya, ini tahap yang paling sederhana dan mudah. Tentunya, sangat keterlaluan bila masak air panas untuk mandi saja sampai gosong.

Meskipun tampak sederhana, memasak air panas mengajari saya untuk mengatur panas api. Sebisa mungkin, panas api selalu tetap dan tidak menurun. Bila api terlalu dingin, maka air akan sulit panas dan tidak akan pernah mendidih. Dalam hal ini, saya harus benar-benar memasukkan kayu dengan waktu yang tepat. Bila tidak, justru kita akan panen asap.

Bahan bakar lainnya yang kini mulai jadi favorit saya adalah batok kelapa. Batok kelapa cukup padat, tetapi memiliki ketebalan yang cukup tipis. Hal ini membuatnya mudah terbakar. Terlebih lagi, arang batok kelapa cukup panas, sehingga memudahkan saya untuk memasak nasi liwet dengan tingkat kematangan yang cukup baik.

Usai mampu melewati tahap mendidihkan air panas, saya kemudian belajar memasak mie instan dan menggoreng tahu. Lagi-lagi, saya harus berusaha agar panas api tetap, sembari memastikan masakan di atasnya tidak gosong. Dalam proses ini, beberapa kali saya terpaksa menyantap tempe dan tahu yang gosong. Namun, peristiwa ini justru membuat saya lebih mampu memasak mie instan dan tahu lebih baik lagi.

Usai sukses dengan mie instan, tempe, dan tahu, beberapa hari terakhir saya mulai memberanikan diri memasak nasi liwet. Belajar dari tukang bangunan di seberang rumah, memasak nasi liwet harus memperhatikan panas api sebelum dan sesudah nasi mengeluarkan uap.

Pada tahap permulaan, saya mulai dengan api besar dan panas. Di dalam tungku tampak lidah api menjilat-jilat pantat panci berjuluk kastrol. Setelah dari dalam kastrol muncul uap, tarik semua kayu yang ada di dalam tungku. Mulai tahap pertengahan ini, masaklah nasi hanya dengan menggunakan bara dari arang kayu yang ada dalam tungku.

Sesekali, buka tutup panci dan aduk isinya. Pastikan nasi tetap mendidih pada tahap ini. Setelah uap dari dalam panci mulai berkurang, cek setiap 5-10 menit sekali keadaan nasi. Pastikan, bara api tetap tersedia. Bila kadar air pada nasi sudah mulai hilang, berarti nasi liwet sudah matang.

Menurut saya, memasak nasi masih tahapan awal dalam pertungkuan. Tantangannya cenderung mudah hingga menengah. Ke depannya, ada banyak sayuran dan panganan yang lebih rumit untuk dimasak dan memiliki tantangan tersendiri ketika meraciknya menggunakan tungku. Step by step saja lah yah.

Memasak nasi menggunakan panci berjuluk kastrol. (Foto: Yudha PS)

Kembali ke soal hidup tradisional dan berkelanjutan. Bagi saya, memasak menggunakan tungku berarti mengurangi penggunaan gas LPG. Meskipun gas lebih ramah lingkungan, tetapi ongkos eksplorasi dan transportasinya menghasilkan cukup banyak jejak karbon.

Di sisi lain, kayu bakar tersedia di sekitar rumah saya. Selain sisa kayu dalam proses membangun rumah, saya juga bisa mendapatkan kayu sisa tebangan pohon atau batang-batang yang sudah layu dan mati. Hal ini membuat saya bisa menekan jejak karbon untuk mengangkut kayu-kayu tersebut ke rumah saya.

Khusus untuk batok kelapa, saya bisa mendapatkannya secara cuma-cuma dari warung dekat rumah. Setiap harinya, mereka menghasilkan belasan limbah batok kelapa dan bingung untuk membuangnya. Kini, mereka bisa lega karena tidak harus memikirkan sampah batok kelapa yang menggunung. Dan saya pun senang karena bisa memanfaatkan batok kelapa untuk sesuatu yang berguna: bahan bakar untuk memasak.

Dari segi kualitas penganan, menurut saya, makanan yang dimasak dengan menggunakan tungku lebih baik daripada menggunakan gas dan penanak nasi otomatis. Dua tahun belakangan ini, kami selalu kebingungan dengan kualitas nasi yang memburuk ketika dimasak menggunakan penanak nasi otomatis. Dalam hitungan jam setelah dimasak, nasi menjadi mudah basi dan berlendir.

Namun, ketika dimasak menggunakan tungku, nasi bisa awet sampai 4 hari tanpa dipanaskan. Rasanya pun masih tetap enak dan nikmat. Hal ini semakin meyakinkan saya bahwa cara tradisional lebih baik dibandingkan cara modern. Satu hal lagi, panganan pun lebih enak dan kaya rasa.

Urusan berkelanjutan, sederhananya, menurut saya, tungku berbahan bakar kayu lebih berkelanjutan dibandingkan gas. Saya tidak perlu bingung memikirkan harga gas yang semakin lama semakin mahal. Saya juga tidak perlu memikirkan gas yang selalu langka pada waktu-waktu tertentu. Kini, fenomena tersebut sudah jadi angin lalu bagi saya.

Bagaimana dengan Anda? Berminat mencoba juga?***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s