Sekali Hanyut, Perbatasan Negara Pun Terlewati


Sebuah kapal nelayan terdampar di pantai salah satu desa di Pulau Ayau. Pulau ini memiliki potensi ikan yang sangat kaya di pekarangan terdepan Indonesia. (Foto: Yudha PS)

Kepulauan Ayau terletak di ujung utara Raja Ampat. Kepulauan ini juga sekaligus sebagai batas wilayah antara Indonesia dan dua negara tetangganya, yaitu: Filipina dan Palau. Jarak kedua negara itu pun cukup dekat dari Ayau, yaitu sekitar 8 jam dengan menggunakan kapal cepat.

Untuk menuju Kepulauan Ayau, saya sendiri harus mengarungi lautan selama 6 jam menggunakan speed-boat alias kapal cepat dari Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Masyarakat yang menggunakan kapal perintis mensyaratkan waktu dua hari untuk mengarungi rute yang sama dengan saya.

Letak Kepulauan Ayau sendiri berada di beranda Samudera Pasifik. Sekitar satu jam menjelang tiba ke Kepulauan Ayau, kami harus menunggangi ombak tinggi samudera lepas. “Masih beruntung cuacanya cerah, jadi ombaknya kecil,” kisah Amir, yang menjadi kawan perjalanan kami siang itu. “Bila musim angin, ombak tinggi sekali, sampai beberapa meter tingginya,” lanjutnya, yang membuat kami cukup ciut memikirkannya.

Musim Angin sendiri terjadi pada Oktober hingga Januari setiap tahunnya. Disebut juga musim Angin Utara karena bertiup dari utara ke selatan. Musim ini ditandai dengan tiupan angin kencang ditambah ombak yang tinggi. Bahkan, bagian utara Kepulauan Ayau harus berhadapan dengan abrasi akibat datangnya musim ini.

Masyarakat Kepulauan Ayau sendiri umumnya berprofesi sebagai nelayan. Area terumbu karang yang luasnya dua kali lipat dari ukuran pulau, menjadi habitat terbaik bagi ikan untuk tinggal dan berkembang biak. Hal ini membuat masyarakat bisa dengan mudahnya menangkap ikan. “Asal mau pergi ke laut, pasti mendapatkan ikan,” ungkap Aser, tokoh masyarakat Kepulauan Ayau. “Tuhan memanjakan kami dengan ikan yang banyak di sini,” kisahnya.

Saking banyaknya ikan di Kepulauan Ayau, membuat masyarakat negara tetangga berbondong-bondong menangkap ikan di Kepulauan Ayau. Bahkan, pernah beberapa warga negara tetangga menyewa rumahnya sebagai tempat tinggal selama mengumpulkan ikan di Kepulauan Ayau. Jumlahnya pun bisa berpuluh-puluh ton. Setelah kapal penuh, mereka pun pergi untuk mengolahnya di negara asal.

Hanya saja, aktivitas ini sudah tidak ada dalam waktu beberapa tahun terakhir ini. Pasalnya, pemerintah Indonesia memperketat penjagaan di perbatasan negara. Hal ini membuat warga negara asing terhalang untuk menangkap ikan kembali di Kepulauan Ayau.

Meskipun kaya dengan ikan, tidak setiap waktu masyarakat Ayau bisa menangkap satwa kaya protein tersebut. Mereka harus berhati-hati ketika kabut dan hujan mulai turun. Salah-salah, mereka bisa hanyut ke negara tetangga.

Bahkan, ketika saya menginjakkan kaki di Kepulauan Ayau, 3 orang warganya masih terjebak di Filipina. Mereka menunggu proses kepulangan setelah terdampar lantaran tersesat di dalam kabut dan cuaca buruk.

Oleh karena itu, ketika kami hendak kembali menuju Waisai, kru kapal cepat kami memastikan cuaca benar-benar baik. Pasalnya, salah perhitungan kami pun bisa hanyut. Kalau sudah hanyut begitu, bukan hanya kesempatan bakar ikan yang kami lewati, tetapi juga perbatasan negara.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s