Bila Hujan Besar…


Ilustrasi. Foto: nbcsandiego.com

Saya termasuk orang yang selalu merasa khawatir ketika melihat hujan besar turun dari langit. Dulu, waktu masih tinggal di Cimahi, hujan besar sudah pasti berarti bocor di rumah. Gara-garanya, struktur atap yang rapuh, sehingga air selalu mencari celah untuk tiba di bawah langit-langit.

Solusinya, orang tua saya harus membongkar dan membangun ulang atap rumah. Karena biayanya yang terlampau besar pada saat itu, kami tidak pernah memperbaiki atap rumah tersebut. Hasilnya, ruang tengah selalu saja kuyup ketika hujan besar datang. Tentunya, kami harus selalu bekerja keras untuk membuat lantai tetap kering dan tidak pernah mampu menikmati hujan yang membasahi pohon dan ranting di luar.

Hampir dua puluh tahun kemudian, atap yang bocor masih “menghantui” saya. Kali ini, hal tersebut terjadi di kantor dan rumah kontrakan saya. Kantor saya di Bogor merupakan sebuah Rumah Joglo yang 90 persen bahannya terbuat dari kayu jati tua. Strukturnya kokoh dan detailnya cukup rapih.

Meskipun demikian, tidak ada gading yang tidak retak. Sambungan genting tanah liat dan genting kaca selalu menyisakan air hujan di lantai di bawahnya. Sialnya, meja kerja saya terletak tepat di sambungan genting tersebut. Hasilnya, saya selalu mengungsi ketika hujan datang. Tentunya, hujan yang selalu mengguyur Bogor setiap hari, membuat saya harus mengungsi saban hujan datang.

Begitu pula di rumah kontrakan saya. Hujan besar berarti waktunya main air bagi si kecil. Air muncul tidak hanya dari atap rumah, tetapi juga merembes dari tembok dan lantai dapur. Hasilnya, air selalu menggenangi ruang tamu, kamar tidur belakang, dan dapur setiap hujan datang.

Padahal, rumah kontrakan saya itu terbilang tinggi dibandingkan jalan, yaitu sekitar satu meter. Hanya saja, limpahan air yang cukup banyak dari rumah belakang membuat air selalu memiliki kesempatan untuk datang dan bertamu. Sistem drainase yang buruk antara rumah kontrakan kami dan rumah-rumah di belakangnya membuat banjir selalu hadir ketika hujan besar.

Banjir paling ekstrim terjadi baru-baru ini. Limpahan air datang tidak hanya dari lantai dapur dan dinding kamar tidur belakang. Namun juga masuk dari langit-langit dapur dan kamar tidur belakang. Saking derasnya, mirip air terjun di kolam-kolam ikan koi besar dan arwana. Usut punya usut, saluran pembuangan air di loteng tersumbat. Hasilnya, air menggenang hingga mencapai permukaan genting dan menyulap rumah kontrakan saya menjadi kolam ikan dengan air terjun buatan yang sungguh memukau saya.

Si kecil tentu senang dengan kondisi ini. Dia bisa asik main air ruang tamu sambil menonton film kartun kesukaannya. Saya, tentu panik. Selain harus memindahkan kasur dan baju, juga khawatir air-air tersebut bersilaturahmi ke kabel-kabel terkelupas yang mengandung listrik. Tentunya, saya bisa pindah alam seketika bila tersengat.

Bicara soal hujan besar, pernah sewaktu SMA, guru agama saya mengajari cara memindahkan awan hujan. Entah bagaimana caranya, jadwal turunnya hujan bisa mundur sedikit dari seharusnya. Seperti misalnya kita yang bisa meminta pemutaran film di bioskop mundur sedikit dari jadwal yang terpampang di pengumuman.

Hal paling ekstrim, awan hujan bisa pindah ke wilayah lain, sesuai kehendak mereka yang memindahkannya. Di Jawa Barat, urusan pindah memindahkan awan hujan sudah menjadi komoditas industri. Sebuah acara besar pasti mengeluarkan biaya untuk membayar orang yang konon mampu memindahkan awan hujan ke luar wilayah acara.

Belakangan, setelah fasih menjadi “kontraktor” alias pengontrak rumah, saya mulai senang berkebun di halaman. Satu hal yang umumnya saya harapkan ketika baru menanam di kebun adalah air dari langit. Ke sini-sini, saya mulai memahami bahwaTuhan menyediakan rezeki bagi makhluk-Nya yang ada di bumi melalui hujan. Di situ terdapat air yang membersihkan sekaligus menjadi asupan cairan bagi hewan, tumbuhan, dan tentu saja manusia.

Hujan merupakan salah satu bentuk limpahan kasih sayang-Nya terhadap makhluk-makhluk di muka bumi. Melalui hujan pula, Dia mendekap segala yang ada di bawah langit dengan penuh cinta. Tentunya, dengan cinta hakiki dari Sang Pecinta Sejati.

Kini, kala hujan besar tiba di kantor, barangkali itu kesempatan untuk saya meninggalkan meja kerja dan santai sejenak di ruang tengah sambil menikmati secangkir kopi hangat dan goreng pisang. Bila hujan besar bertandang ke rumah, barangkali memang saatnya saya untuk membersihkan lantai yang memang jarang saya sapu, apalagi saya pel. Dan tentunya, hujan membuat saya bisa belajar tentang cinta dan kasih sayang Dia kepada makhluk-makhluk-Nya yang ada di permukaan bumi.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s