Pinogu, Kopi Organik Persembahan Gorontalo Tua


Ilustrasi. Foto: komoditas.co.id

Salah satu sajian khas Gorontalo adalah Kopi Pinogu. Menariknya, kopi ini tumbuh secara organik dan hanya terdapat di sebuah wilayah tua di provinsi Gorontalo bagian timur bernama Pinogu. Wilayah ini sudah ada sejak tahun 1500-an masehi dan dipercaya sebagai tempat berasal orang-orang Gorontalo. Meskipun disebut-sebut sebagai cikal bakal Kota Gorontalo, tetapi wilayah ini jauh dari modern.

Pinogu merupakan sebuah kecamatan terpencil di Kabupaten Bone Bolango yang bertetanggaan langsung dengan wilayah Kota Gorontalo. Wilayah ini berada di tengah hutan dengan fasilitas serba minim, termasuk transportasi. Untuk menuju wilayah ini, orang harus berjalan kaki selama lebih-kurang delapan jam. Transportasi yang paling memungkinkan untuk bisa melewati jalur ini hanyalah motor trail dengan waktu tempuh sekitar 4 jam lamanya. Bila enggan berjalan, kita bisa menggunakan jasa ojeg yang khusus menuju Pinogu. Tarifnya, lumayan menguras kantong, yaitu: sekitar 250 ribu sekali jalan.

Nama Pinogu sendiri berasal dari kata Pinogumbala yang dalam bahasa Suwawa berarti tempat perkelahian. Konon, wilayah ini merupakan tempat bertempurnya dua pangeran yang saling merebut tahta kerajaan Bangio. Kini, makam pangeran serta permasuiri dan kedua anaknya terdapat di puncak bukit di Pinogu. Konon, peziarah yang berdoa di lokasi tersebut akan terkabul keinginannya.

Kopi Pinogu sendiri merupakan jenis yang khas di Indonesia dan jarang ditanam di nusantara, bahkan mungkin dunia. Berbeda dari umumnya kopi di Indonesia yang berjenis Robusta dan Arabika, Kopi Pinogu merupakan campuran antara Robusta dan dan Liberika. Kedua jenis ini mulai ditanam sejak 1875 dan menjadi kopi favorit Ratu Wilhelmina saat itu.

Menariknya, Kopi Pinogu bersih dari zat-zat kimia anorganik, termasuk pestisida dan pupuk. Kondisi ini erat kaitannya dengan akses transportasi yang sulit menuju dan di wilayah Pinogu, termasuk untuk mendistribusikan pupuk dan pestisida serta zat-zat kimia anorganik perkebunan lainnya. Hasilnya, para petani merawat Kopi Pinogu dengan bahan-bahan alami yang ada di wilayah tersebut.

Masyarakat Pinogu sendiri merasa cukup dan senang dengan kekayaan alam berupa Kopi Pinogu. Meskipun wilayahnya terpencil, masyarakat Pinogu lebih memilih untuk tinggal di desanya dan enggan pergi ke kota. Pasalnya, wilayah Pinogu merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, termasuk kelestarian alamnya dan kopi organiknya.

Namun, pilihan untuk tinggal di Pinogu tidak berlaku bagi Kopi Pinogu sendiri. Kopi ini malah malang melintang ke seluruh Gorontalo sebagai sajian khas Serambi Madinah ini. Kita bisa menemuinya di berbagai kedai kopi di seantero provinsi Gorontalo, termasuk Pohuwato, tempat saya tinggal selama di Gorontalo. Bahkan, sebagian kopi malah mengembara jauh ke seluruh Indonesia sebagai buah tangan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Gorontalo.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s