“Mas-nya Sudah Nikah Atau Sudah Kawin?”


Foto: cdn.skim.gs

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari seorang kawan yang baru saya kenal malam ini di Gorontalo. Tentunya, sebagai pemuda yang gemar pemikiran liar, saya mengerti maksud pertanyaan itu. “Saya sudah nikah dan sudah kawin, mas,” jawab saya yang disusul dengan tawa kami bersama.

Meskipun hanya candaan, tetapi bagi pemuda-pemuda Gorontalo, pertanyaan ini menyimpan kegelisahan yang cukup besar. Pasalnya, sebagian pemuda di sebagian wilayah Sulawesi memilih untuk kawin sebelum nikah.

Istilah nikah sendiri tentunya merujuk ke prosesi pernikahan yang mensyaratkan mempelai pria dan wanita, wali, saksi, serta ijab kabul. Sedangkan kawin merupakan julukan bagi bertemunya sel sperma dan sel telur di dalam vagina. Dengan kata lain, kawin merupakan istilah yang disematkan untuk aktivitas seksual.

Sebagian dari kita tentu familiar dengan kata “kawin” ketika masih duduk di bangku sekolah dulu. Istilah ini banyak disebut-sebut dalam pelajaran biologi yang merujuk peristiwa reproduksi hewan dan tumbuhan. Di beberapa daerah, kata “kawin” memang merujuk ke prosesi pernikahan. Namun, belakangan ini, generasi-generasi kelahiran 1980 sampai 2000 di sebagian besar kota-kota di Indonesia gemar menyematkan kata ini ke dalam makna dalam pelajaran biologi: aktivitas seksual.

Kembali ke budaya nikah dan masyarakat Sulawesi. Di tradisi masyarakat sebagian daerah di Sulawesi, menikah membutuhkan biaya yang sangat besar sekali, khususnya untuk urusan mahar alias mas kawin. Sebagai contohnya adalah tradisi menikah masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan.

Untuk meminang gadis pujaannya, seorang pria harus membayar mahar yang sangat besar sekali. Konon, pria tersebut harus menggantikan seluruh biaya yang dikeluarkan orang tua sang gadis, mulai dari dia lahir sampai detik-detik menjelang ijab kabul. Bagi kalangan yang memiliki uang “tanpa nomor seri”, tentu urusan ini termasuk hal yang mudah. Namun, urusan mahar ini menjadi masalah besar bagi para pemuda dari kalangan menengah ke bawah.

Mahar yang sangat besar ini juga terjadi di Gorontalo. Saya tidak sempat untuk bertanya tentang hal-hal yang membuat nilai mahar di daerah ini menjadi sangat tinggi. Satu hal yang pasti, para pemuda Gorontalo dari kalangan menengah ke bawah banyak yang mengeluhkan tentang tradisi tersebut.

Jalan pintasnya, sebagian pemuda Gorontalo ada yang nekad untuk “kawin” dengan gadis pujaannya. Tentunya, sepasang “darah muda” ini melakukannya atas kesadaran masing-masing. Setelah berhasil membuat gadis pujaannya hamil, tentunya orang tua sang gadis terpaksa untuk menikahkan anaknya dengan pria yang menghamilinya tersebut. Bila sudah begitu, nilai mahar pun langsung jatuh ke titik terendah dan membuat sepasang muda-mudi tersebut bisa menikah dengan biaya yang lebih terjangkau.

Pilihan lainnya, mencari gadis dari daerah lain yang lebih terbuka dan bersedia menerima mahar yang rendah. “Kalau di Jawa bisa menikah dengan mahar yang murah, besok saya ikut mas pulang ke Jakarta, deh,” tekad kawan baru saya, beserta derai tawa penuh harap.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s