Dari Mac OS ke Linux Ubuntu? Lumayan Juga…


Ilustrasi. (Foto: etsystatic.com)

Awal Desember 2016 lalu merupakan salah satu momen paling menyedihkan bagi saya. MacBook Air yang sudah menemani saya sejak pertengahan 2012 lalu, akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya.

Padahal, hari itu, cuaca di Tarakan, Kalimantan Utara, cukup terik, tanpa ada tanda-tanda akan terjadinya hujan atau badai. Pun sang MacBook Air tengah saya ajak menyusun pengalaman ketika berkunjung ke desa-desa perbatasan di Nunukan dan Malinau. Tempatnya, pun cukup nyaman: sebuah warung kopi legendaris di sudut Kota Tarakan.

Tanpa ada tanda-tanda kerusakan, tiba-tiba saja MacBook Air saya mati. Saya pikir baterainya sudah habis. Tanpa pikir panjang, saya pun segera menuju bandara untuk check-in sekalian mengisi ulang baterai MacBook Air saya di ruang tunggu.

Namun, ketika saya coba isi ulang, MacBook Air saya tidak kunjung terisi. Ketika saya coba tekan tombol power, mesin terdengar hidup, tetapi tidak ada tanda apa pun di layar. Pada titik ini, saya pun mulai sadar bahwa ada tanda-tanda kerusakan yang cukup vital.

Setibanya di Bandung, saya pun memeriksakan MacBook Air ke tempat reparasi produk Apple langganan saya. Dan benar saja, MacBook Air saya rusak berat. Logic Board-nya rusak. Fungsi perangkat ini sama seperti Mother Board di komputer dan laptop pada umumnya. Itu berarti, biaya penggantiannya akan sangat mahal.

Logic Board sendiri merupakan papan tempat beberapa komponen vital MacBook Air disematkan, seperti: prosesor dan VGA. Komponen-komponen tersebut terpasang secara permanen di Logic Board. Rusaknya Logic Board berarti seluruh komponen secara otomatis tidak bisa dipergunakan kembali.

Untuk menggantinya, tempat reparasi sendiri menawarkan dua pilihan yang kedua-duanya mensyaratkan biaya yang cukup mahal. Pilihan pertama, tempat reparasi mencari Logic Board bekas yang masih bagus untuk menggantikan Logic board MacBook Air saya. Harganya cukup membuat saya meriang dan pusing tujuh keliling: 4,5 juta Rupiah.

Pilihan kedua, tempat reparasi akan membeli Logic Board baru. Harganya, ini juga lumayan dahsyat dan bikin saya setengah mati, yaitu: 7,5 juta Rupiah. Nilai ini sama dengan harga MacBook Air bekas yang banyak beredar di pasaran Indonesia.

Memiliki MacBook Air sendiri merupakan sesuatu yang masih terbilang “mimpi” bagi saya, bahkan hingga hari ini. Bagaimana pun, perangkat tersebut harganya cukup mahal dan menguras kantong, terutama untuk ukuran orang Indonesia. Bila tidak terlalu pandai “mencetak” uang, rasanya barang tersebut akan selalu jadi cita-cita bagi mereka yang menginginkannya.

Saya sendiri mendapatkan MacBook Air yang kini rusak tersebut secara cuma-cuma. Kala itu, pada pertengahan tahun 2012, saya mengikuti sebuah perlombaan menulis tingkat nasional. Beruntung, saya menjadi salah satu pemenangnya, dan berhak untuk membawa pulang MacBook Air 13′ yang menjadi idaman para peserta lomba.

Kembali ke MacBook Air saya yang rusak. Karena kedua pilihan biaya tersebut terlalu mahal, akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan MacBook Air saya tetap mati dan teronggok di antara buku-buku di rumah. Selanjutnya, saya berusaha untuk “move-on” dari MacBook Air dan MacOS.

Langkah pertama, saya memilih sistem operasi untuk menggantikan MacOS. Jelas, sistem operasi jendela bukan pilihan. Selain rentan terhadap virus, sistem operasi tersebut juga cenderung berat dan labil.

Awalnya, saya berniat untuk mempergunakan HackintOS. Sistem operasi ini merupakan MacOS yang telah dimodifikasi dan bisa dipasang di komputer non-Apple. Namun, karena laptop pinjaman dari kantor tidak memiliki kapasitas perangkat keras yang sama dan cara instalasinya yang cukup ribet, akhirnya saya mengurungkan niat tersebut.

Setelah cukup lama berkontemplasi sembari berselancar di dunia maya, akhirnya saya memilih untuk kembali ke Linux Ubuntu. Selain kapasitas perangkat keras lapop pinjaman sesuai, saya juga menilai Ubuntu merupakan sistem operasi yang cukup mudah dibandingkan distro Linux lainnya.

Langkah selanjutnya, yang cukup menantang bagi saya, mencari aplikasi pengganti untuk aplikasi yang biasa saya gunakan di MacOS. Untuk urusan dokumen dan multimedia, aplikasi ini tidak terlalu sulit. Pasalnya, saya biasa menggunakan VLC untuk multimedia dan Libre Office untuk aplikasi perkantoran. Tentunya, kedua aplikasi ini termasuk dalam kategori Free and Open Source Software (FOSS) dan tersedia di Ubuntu.

Menariknya, Libre Office bisa membuka file-file berbasis Keynote. Keynote sendiri merupakan aplikasi presentasi milik Apple. Saya sendiri banyak mempergunakan aplikasi ini untuk membuat presentasi. Tentunya, fasilitas ini membuat saya bisa membuat banyak presentasi saya yang dibuat di Keynote. Meskipun slide presentasi banyak yang rusak, tetapi sedikitnya menumbuhkan harapan.

Adapun untuk browser, saya beralih dari Safari ke Chrome. Saya juga baru tahu bahwa Chrome sudah tersedia untuk versi Ubuntu. Cara menginstalnya pun cukup mudah: tinggal unduh, klik ganda pada aplikasi, ikuti petunjuknya hingga selesai, dan aplikasi pun terinstal.

Aplikasi selanjutnya adalah Telegram dan whatsApp. Untuk Telegram, saya tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Telegram.org memang menyediakan aplikasi untuk Linux Ubuntu. Hanya saja, saya tidak menemukan aplikasi WhatsApp untuk Linux Ubuntu. Untuk urusan yang satu ini, saya mempergunakan browser melalui web.whatsapp.com.

Ada juga aplikasi yang berurusan dengan data di awan, seperti: DropBox dan Google Drive. Untuk Ubuntu, hanya DropBox yang menyediakan aplikasi bagi sistem operasi berfilosofi Afrika ini. Namun, Google Drive sama sekali tidak menyediakannya. Sedangkan untuk urusan Torrent, saya beralih ke Deluge BitTorrent Client. Cara kerja aplikasi ini tidak kalah hebatnya dibandingkan uTorrent.

Salah satu pekerjaan rumah yang masih menghantui saya adalah aplikasi catatan untuk menulis. Ketika menggunakan MacBook Air, saya banyak menggunakan EverNote untuk aktivitas menyusun kata dan menaruh catatan. Sayangnya, aplikasi ini tidak tersedia di Ubuntu. Terpaksa, saya mencoba beralih ke SimpleNote sambil berharap tersedia EverNote versi Ubuntu pada masa yang akan datang.

Aplikasi lainnya yang masih saya cari penggantinya adalah MindMap. Ketika mempergunakan MacOS, saya sendiri mempergunakan aplikasi berbayar untuk urusan memetakan pikiran tersebut. Sayang, ketika beralih ke Ubuntu, saya harus merelakan aktivitas tersebut terhenti atau berpindah ke atas kertas.

Dari jajaran grafis, saya cukup merindukan SketchUp. Aplikasi ini cukup mampu memenuhi hasrat saya yang kerap mewujudkan imajinasi ke dalam bentuk tiga dimensi. Selain ringan, SkechUp juga mudah dioperasikan oleh orang-orang awam dan non-arsitek seperti saya. Banyak orang merekomendasikan Blender. Namum, aplikasi ini masih cukup rumit bagi saya.

Adapun untuk keperluan layouting, saya mengganti InDesign dengan Scribus. Meskipun tidak selengkap InDesign, tetapi Scribus mampu memenuhi kebutuhan saya untuk urusan menyusun tata letak kata dan gambar di atas kertas.

Dan ternyata, ketika saya menuliskan catatan ini, tidak terasa, sudah tiga bulan saya bermigrasi dari MacOS ke Ubuntu. Secara garis besar, rasanya cukup nyaman dan tidak terlalu buruk juga. Terlebih lagi, pekerjaan saya pun hanya berkutat seputar menulis dan menulis, sehingga tidak menuntut perangkat keras yang terlalu mewah dan mahal. Namun, kalau ada yang mau ngasih MacBook lagi, tentu saya terima dengan senang hati, seperti saya menerima MacBook Air pada 2012 lalu.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s