Kafe, Musik, dan Konflik


Foto: kompasiana.com

Ambon dikenal sebagai kota yang penuh kafe dan musik. Di dalam kafe, orang-orang Ambon biasa menghabiskan waktu untuk mengobrol sembari menikmati kopi. Durasinya pun bukan lagi sejam-dua jam, tetapi bisa sampai tiga-empat hari. “Kalau pun pulang ke rumah, biasanya hanya untuk mandi dan ganti baju. Setelahnya, mereka kembali ke kafe untuk mengobrol,” kisah Baihajar Tualeka, seorang tokoh wanita Maluku, ketika saya temui di Kafe Joas, Ambon.

Selain kopi, masyarakat Ambon juga paling senang bernyanyi dan bermain musik. Mereka mengekspresikan semua hal dalam kehidupannya melalui musik. Sama seperti mengobrol sembari menikmati kopi di kafe, bernyanyi dan bermain musik ini bisa mereka lakukan berhari-hari lamanya. Hal inilah yang kemudian mendorong julukan Ambon Kota Musik.

Meskipun demikian, tidak ada gading yang tak retak. Walaupun masyarakat pesisir umumnya terbuka terhadap orang baru dan perbedaan, tetapi Ambon tetap saja pernah dilanda konflik horisontal. Konflik terbesar terjadi pada rentang waktu 1999 hingga 2002, tepat setelah rezim Orde Baru tumbang yang digantikan oleh era Reformasi.

Kala itu, masyarakat Ambon dari dua agama mayoritas saling menyerang satu sama lain. Ratusan rumah dibakar, ribuan orang mengungsi, dan kota ini berubah menjadi kota mati. Kehidupan masyarakat yang toleran, plural, dan damai tiba-tiba hancur luluh lantah seketika. Padahal, kehidupan semacam itu sudah terbangun hingga ratusan tahun sebelumnya.

Kini, berbagai elemen masyarakat Kota Ambon tengah berjuang dan bahu membahu menyambungkan kembali tali persaudaraan yang putus akibat konflik. Kedua pihak yang berkonflik berusaha untuk membuka dialog dan pintu maaf sebesar-besarnya. Salah satunya, tentu masih dengan cara lama: mengobrol sembari menikmati kopi di kafe dan bernyanyi sampai berganti hari. “Bila sudah bernyanyi bersama, orang-orang Ambon yang berkonflik bisa langsung akrab kembali,” tandas Kaka Bai.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s