Gorontalo, Merdeka Sebelum Indonesia


Patung Nani Wartabone di Gorontalo (Foto: liputan6.com)

Patung Nani Wartabone di Gorontalo (Foto: liputan6.com)

Gorontalo merupakan provinsi keempat yang terbentuk setelah Orde Baru tumbang. Provinsi ini resmi berpisah dari induknya Sulawesi Utara pada 2000 silam. Alasannya sederhana, Gorontalo ingin lebih sejahtera. Pasalnya, dominasi suku Minahasa di pemerintahan Sulawesi Utara membuat daerah Gorontalo menjadi salah satu daerah tertinggal di Sulawesi pada masa Orde Baru.

Politik kesukuan merupakan faktor yang cukup penting di Sulawesi Utara. Umumnya, suku-suku yang mendominasi pemerintahan akan mensejahterakan daerah asal sukunya. Hal ini menjawab pertanyaan tentang banyaknya daerah yang masih terbelakang di berbagai daerah yang berbasis suku, termasuk Sulawesi Utara.

Setelah melihat kesuksesan Gorontalo yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, membuat beberapa wilayah berbasis suku lainnya di Sulawesi Utara bertekad untuk membentuk provinsi sendiri. Dua di antaranya adalah wilayah Bolaang Mongondow yang terletak di antara Gorontalo dan Manado, dan wilayah Sangihe yang terletak di utara Manado. Tujuannya satu: meningkatkan kesejahteraan suku dan wilayahnya masing-masing.

Gorontalo sendiri merupakan sebuah suku besar yang mendiami sebagian Sulawesi bagian Utara modern. Sama seperti suku-suku lainnya di Indonesia, Gorontalo juga memiliki beberapa marga yang melekat di belakang nama orang-orangnya. Beberapa marga bahkan cukup familiar di telinga publik Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Habibie, Uno, Niode, Pomalingo, Monoarfa, Bone, dan Gobel.

Menariknya, wilayah suku Gorontalo sendiri sudah merdeka sebelum Indonesia terbentuk. Mereka memproklamasikan kemerdekaannya pada 23 Januari 1942. Mereka memanfaatkan kepergian Belanda yang ketakutan menyusul kehadiran Jepang di wilayah Nusantara. Proses tersebut berada di bawah pimpinan Nani Wartabone, tokoh masyarakat Gorontalo.

Uniknya, walaupun masyarakat Gorontalo memproklamasikan Pemerintahan Gorontalo, tetapi bendera yang digunakan justru merah-putih, bendera Indonesia kini. Hal unik lainnya, lagu kebangsaan yang mereka gunakan adalah “Indonesia Raya” ciptaan WR Supratman. Hal ini tidak terlepas dari peran Nani Wartabone yang merupakan pendiri Jong Gorontalo sekaligus aktivis perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika tinggal di Surabaya.

Selepas Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Gorontalo langsung menjadi bagian dari Indonesia. Sama seperti pendahulu mereka Nani Wartabone, orang-orang Gorontalo juga memiliki andil besar dalam pembangunan Indonesia. Hal ini tampak dari banyaknya tokoh-tokoh nasional yang berkontribusi besar dalam membangun Indonesia, seperti: BJ Habibie dan keluarga Gobel.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s