Tak Ada Kacang, Tak Ada Pacaran


Ilustrasi (Foto: hamptonfarms.com)

Ilustrasi (Foto: hamptonfarms.com)

Dalam Bahasa Gorontalo, Pohuwato berarti “Tempat orang-orang berjalan”. Disebut demikian, karena pada masa lalu, Pohuwato merupakan tempat singgah orang-orang yang berjalan dari Kota Gorontalo modern menuju kota-kota besar lainnya di Sulawesi, seperti: Palu dan Makassar.

Kini, Pohuwato sudah berkembang menjadi sebuah kabupaten dengan 13 kecamatan. Tahun ini, Kabupaten yang memiliki 104 desa ini bertekad untuk menjadi kabupaten digital. Pada 2017 mendatang, Pemerintah Pohuwato berencana untuk memasang internet pita lebar dan membangun jaringan lokal di area pusat pemerintah dan perkantoran.

Rencana ini akan diteruskan dengan membangun jaringan lokal yang menghubungkan pemerintah kabupaten dengan 104 desa dan 13 kecamatan di Pohuwato pada tahun-tahun mendatang. Niatnya satu: meningkatkan layanan kepada masyarakat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Namun, di mata saya, keunikan Pohuwato justru terletak di kacang. Yah, kacang tanah yang selalu jadi kudapan ketika kita menonton bola, dan juga bahan dasar bumbu rujak dan gado-gado. Bagi masyarakat Pohuwato, apapun minuman dan makanan ringannya, kacang harus selalu ada di dalamnya.

Sebagai contoh, ketika saya menikmati sajian es kelapa muda. Di dalam minuman tersebut tersaji kacang tanah, tentunya lengkap dengan serutan kelapa muda, gula merah, dan es batu. Ketika memakannya, kesegaran kelapa muda bercampur dengan kriuk-kriuk gurihnya kacang. Bahkan, teman saya berkali-kali menambah kacang saking menikmatinya.

Contoh lainnya adalah Apeng Balek. Di Pulau Jawa, makanan ini dikenal sebagai Apem. Sampai di Pohuwato, lidah Gorontalo menyebutnya sebagai Apeng. Karena panganan ini dipanggang bolak-balik, disebut lah Apeng Balek. Artinya, Apem yang memanggangnya di bolak-balik. Menariknya, Apeng Balek ini mengandung kacang tanah yang tersebar secara merata.

Ketika sampai di lidah, manisnya Apem bercampur dengan gurihnya kacang yang membuat orang menjadi ketagihan. Saking ketagihannya, Ipan Zulfikri sampai secara khusus memintanya sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Pulau Jawa. Beruntung, Ibu Kepala Desa Malangao memberikan Apeng Balek sebagai oleh-oleh sampai satu kotak besar. Jumlah ini cukup untuk jadi kudapan orang satu kampung di Tasikmalaya.

Kembali ke kacang. Saking dekatnya kacang tanah dengan orang-orang Pohuwato, kudapan ini selalu jadi menu wajib ketika orang berpacaran. Umumnya, muda-mudi Pohuwato memakan kacang tanah dengan pisang. Caranya, pisang dan kacang tanah dimasukkan ke mulut, kemudian dikunyah secara bersamaan. Hasilnya, lembut dan manisnya pisang berjaling dengan gurihnya kacang.

Saking pentingnya kacang dan pisang ketika waktu berpacaran tiba, membuat makanan ini menentukan kelanggengan hubungan seseorang. Bila sang cowok lupa membawa kacang ketika ngapel, bisa dipastikan hubungan kedua sejoli tersebut akan segera berakhir.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s