Asal Jawa, Lidah Gorontalo


Ilustrasi. (Foto: ichef.bbci.co.uk)

Ilustrasi. (Foto: ichef.bbci.co.uk)

Meskipun berada di wilayah Gorontalo, tetapi kebanyakan orang-orang di Taluditi, Pohuwato, justru berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Bahkan, di beberapa desa, kita bisa dengan mudah menemui kesenian khas jawa, seperti: wayang kulit. Pasalnya, kecamatan Taluditi merupakan satu dari dua wilayah transmigrasi di Kabupaten Pohuwato, Gorotalo.

Di Taluditi sendiri, sekitar 60 persen penduduknya berasal dari Jawa Timur. Adapun sebagian besar penduduk dari 40 persen sisanya merupakan warga lokal Gorontalo dengan sedikit penduduk Nusa Tenggara Barat serta Bali. Pemerintah sengaja mendatangkan mereka ke wilayah ini dalam program Transmigrasi pada era tahun 1990-an. Saat itu, Taluditi sendiri masih berupa hutan belantara tanpa penduduk.

Pertemuan masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda ini menyebabkan “benturan” kebudayaan. Satu hal yang paling terasa adalah makanan. Salah satunya adalah bahan baku makanan kedua masyarakat yang tidak lumrah dari sudut pandang masing-masing masyarakat.

Sebagai contoh, panganan berbahan baku Gambas dan Paria. Bagi orang Gorontalo, kedua tumbuhan tersebut dianggap belukar dan hama. Bahkan, masyarakat lokal mengenal Gambas sebagai sarang tikus. “Namun, oleh mereka (masyarakat Jawa) malah dijadikan makanan,” ungkap Wazir Zakaria, Camat Taluditi.

Meskipun begitu, lambat laun masyarakat pendatang dan lokal mulai mampu menerima perbedaan makanan tersebut. Masyarakat lokal mulai mengkonsumsi panganan-panganan pendatang. Gambas dan Paria yang oleh masyarakat lokal dianggap sebagai belukar, mulai dikonsumsi sebagai sayur. “Sekarang, enak saja kalau makan Gambas. Tinggal dijadikan bahan untuk Sayur Bening,” kisah Wazir.

Meskipun demikian, pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” berlaku juga bagi warga pendatang di tanah Gorontalo. Penduduk Jawa lambat laun mulai terbiasa dengan rasa pedas. Skala pedasnya pun bukan hitungan satu atau dua cabai rawit semata, tapi bisa sampai 15 cabai rawit. Bila tidak mampu mengkonsumsi makanan pedas tersebut, bisa jadi bahan tertawaan.

Seperti yang menimpa rekan saya, Ipan Zulfikri. Ketika tengah berjalan-jalan di sekitar kantor kecamatan Taluditi, sosok bertubuh besar dan tinggi ini tertarik dengan gado-gado yang dijual di warung milik penduduk lokal. Seketika, ayah satu anak ini pun memesan satu porsi. Ketika ditanya tingkat kepedasan, Ipan hanya bilang, “Setengah”.

Ibu-ibu penjual gado-gado menafsirkan kata tersebut sebagai setengah dari jumlah cabai rawit yang biasa dikonsumi masyarakat setempat, yaitu: 6 buah. Sebelum ibu-ibu penjual gado-gado memasukkan cabai ke adonan, Ipan langsung menghentikannya. Dia pun mengambil satu buah cabai rawit paling kecil, kemudian mematahkannya menjadi dua, lalu mengembalikan setengah bagiannya, dan memasukkan setengah bagian lainnya ke adonan gado-gado.

Semua warga yang sedang berkumpul di warung gado-gado terbelalak kaget. Beberapa detik kemudian, mereka kemudian tertawa terbahak-bahak. Pasalnya, mereka mentertawakan Ipan yang hanya berani makan setengah buah cabai rawit. “Pasti bukan orang sini, yah?” tanya si ibu yang diamini oleh Ipan.

Menurut si ibu warung, umumnya masyarakat lokal memesan gado-gado dengan jumlah cabai rawit minimal mencapai 15 buah. Bahkan, ada yang memesan gado-gado dengan jumlah cabai rawit mencapai 20 buah. “Sayang, (beli gado-gado dengan) uang lima ribu Rupiah kalau cabainya cuma sedikit,” tandas si ibu penjual gado-gado.

Kembali ke kisah warga transmigrasi Gorontalo asal Jawa. Ketika berkunjung ke Pulau Jawa pun, para keturunan Jawa ini juga selalu mencari panganan pedas untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Lidah mereka sudah tidak cocok lagi dengan makanan Pulau Jawa yang umumnya terasa manis. Bila sudah begini, restoran Padang kerap menjadi sasaran mereka ketika waktu makan tiba.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s