Tuhan, Titip Saudara Saya!


Ilustrasi. (Foto: forwallpaper.com)

Laju bus jurusan Tasikmalaya-Jakarta yang saya tumpangi harus berhenti di bilangan jembatan layang Rajapolah, malam itu. Sebabnya sepele, saya enggan membayar ongkos bus eksekutif yang mensyaratkan penumpangnya membayar dengan tarif penuh sampai tujuan akhir. Padahal, saya hanya menempuh setengah perjalanan dan hendak turun di bilangan Cileunyi, Bandung.

“Uang saya tidak cukup untuk ongkos, kang. Saya minta turun di sini,” Argumen saya setengah bersikukuh.

“Tapi ngak ada bus lain lagi, penuh semua,” balas sang kernet, mencari alasan untuk mempertahankan saya.

“Memangnya akang mau saya bayar separuhnya?” gertak saya kemudian.

Tanpa bisa memilih, sang kernet pun meminta supir untuk berhenti dan menurunkan saya. Sialnya, mereka menurunkan saya di tempat yang cukup gelap.

Rasanya, 90 menit sebelum tengah malam bukan merupakan waktu yang tepat untuk menunggu bus di tempat yang gelap. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan menuju tempat yang lebih terang. Saya berjalan hingga menemukan titik yang tepat untuk menunggu bus yang hendak pergi ke barat. Sebuah tempat di antara pos polisi dan tenda nasi goreng yang dihiasi lampu penerang jalanan di atasnya.

Tak seberapa lama, seorang pria muda berkaos hitam dan bercelana jeans datang dengan motor trail “gelap”-nya. Disebut gelap, karena tidak ada satu lampu pun yang terpasang di tubuh motornya. Tampaknya, sang pemilik tengah gandrung mempreteli seluruh aksesoris motornya, hingga rangka utama motor saja tampak dari luar.

Usai memarkirkan motornya, sang pemuda beranjak menuju tukang nasi goreng. Dia langsung memesan satu porsi untuk di bawa pulang. Sembari menunggu nasi goreng matang, sang pemuda duduk di atas motornya. Sebuah rokok disulutnya, kemudian dihisapnya dalam-dalam, dan dihembuskan ke udara secara perlahan.

“Mau ke mana, kang?” tanyanya kepada saya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya menikmati rokoknya. “Ke Bandung,” jawab saya singkat.

“Habis berkemah?” tanyanya lagi, setelah melihat ransel saya yang besar.

“Bukan, habis berkunjung ke saudara di Jatiwaras,” terang saya.

Puas dengan keheranannya, dia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, dan menghembuskannya ke udara. Jujur, saya agak cemas berada di dekatnya malam itu. Wajahnya yang tanpa senyum dengan anting di telinga kirinya membuat saya tanpa sengaja menjatuhkan stigma negatif kepadanya.

“Asli dari sini, kang?” tanya saya, mencoba membuka percakapan.

“Iya, saya tinggal di sini. Tapi, kerja sih di Tasimalaya Kota,” jawabnya, sembari menyebutkan salah satu perusahaan bus ternama di Tasikmalaya sebagai tempatnya bekerja.

“Sebagai apa, kang?” tanya saya kembali.

“Supir bus eksekutif. Jurusan Tasikmalaya-Lebak Bulus,” jawabnya yang menyentil penasaran saya.

“Supir bus? Kok bisa masih muda sudah jadi supir bus?” celetuk saya, keheranan.

“Bapak saya supir bus. Saya belajar mengemudikan bus darinya,” paparnya, yang disambut anggukan kepala saya.

“Sekarang, mencari pekerjaan itu susah. Harus ada uang untuk memuluskan segalanya,” kisah lulusan SMK bidang otomotif ini kepada saya.

Matanya jauh memandang ke kerumunan cahaya mobil yang malang melintang di jalan Rajapolah malam itu. Pikirannya seolah-olah tengah terbang ke masa lalu, mengenang betapa susahnya dia mendapatkan pekerjaan kala itu.

“Sekarang, saya sudah tiga tahun menjadi supir bus,” kenangnya.

“Biasanya, saya berangkat dari Tasik jam 5 pagi dan jam 11 malam,” lanjutnya, sembari menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya ke udara secara perlahan-lahan, lagi dan lagi.

“Kang, nasi gorengnya sudah matang,” tiba-tiba saja tukang nasi goreng membuyarkan lamunannya.

Dia kemudian mengambilnya, dan menitipkannya kepada rekannya yang juga ada di situ.

“Duluan saja, pakai motor saya. Nanti tolong jemput saya lagi di sini,” instruksinya kepada sang teman.

Tak terasa, perbincangan malam itu mengantarkan kami ke satu jam sebelum tengah malam. Sambil menikmati sorot cahaya mobil yang datang dari sebelah timur, dia dengan setia menemani saya untuk menunggui bus yang tarifnya sesuai dengan kantong saya malam itu. Dan ketika bus yang ditunggu-tunggu datang, saya langsung beranjak menaikinya. Tentunya, sembari menyampaikan terima kasih kepada sang pemuda.

“Titip saudara saya,” teriak sang pemuda, kepada sang kernet yang masih satu perusahaan bus dan saling mengenal satu sama lain.

Mendengarnya, hati saya langsung terenyuh. Pasalnya, “menitipkan saudara” antar sesama awak bus merupakan perkara yang cukup serius. Awak bus yang dititipi akan sepenuh hati menjaga “titipan”-nya. Bahkan, tidak jarang sang “saudara” tersebut diberi potongan harga, dan tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan tumpangan gratis. Biasanya, kondisi ini terjadi bila sang “saudara” menempuh jarak yang cukup dekat dan tidak melewati pos pemeriksaan.

Peristiwa malam itu seperti mengingatkan diri saya untuk kesekian kalinya agar tidak menilai orang dari luarnya. Bisa saja, seorang yang tampak negatif di luarnya, ternyata sangat positif di dalamnya. Orang yang tampak tak acuh dan garang di luar, ternyata sangat peduli dan lembut di dalam.

Pelajaran lainnya, seseorang bisa saja menjadi buruk karena dampak lingkungan yang buruk pula. Dia yang memiliki “bibit” kebaikan di dalam hatinya, harus rela “mengorbankan”-nya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan. Sebuah lingkungan yang keras dan tidak mengizinkan kebaikan tumbuh sedikit pun. Bahkan, barangkali, kita juga berkontribusi secara tidak langsung dalam membangun lingkungan buruk untuk orang lain tersebut.

Ah, Tuhan, tolong jaga saudara saya itu untuk selalu memelihara kebaikan. Juga jaga saudara-saudara saya yang lain untuk senantiasa memelihara kebaikan dan menebarkan kasih sayang kepada siapa pun, tanpa memandang latar belakang sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Jagalah mereka dalam perjalanan hidupnya, baik di dunia ini maupun setelah ini. Tuhan, titip saudara saya, selamanya…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s