Konser Angklung KPA 3: Sarasa Katha Tauryatrika, Kisah Indah dalam Tiga Simfoni


The Dream Team ESA 2016 sejenak sebelum menampilkan suguhan permainan angklungnya. (Foto: Yudha PS)

The Dream Team ESA 2016 sejenak sebelum menampilkan suguhan permainan angklungnya. (Foto: Yudha PS)

“Malem ini kosong, ngak?” tiba-tiba seorang kawan menyapa saya melalui layanan pesan singkat Jumat pagi pada 15 Juli 2016 lalu. “Ada 1 free tiket konser KPA3 malam ini di Granus UNPAD. Berminat?” lanjutnya lagi. Mendengar kata gratisan, tentunya saya langsung mengiyakan dengan penuh semangat. Terlebih lagi, kondisi kanker alias kantong kering yang tengah melanda saya hampir sepanjang semester pertama 2016 ini, membuat diri ini tidak bisa jauh-jauh dari rumah. “Datang jam 7 malam, ya,” pesannya kemudian.

KPA3 sendiri merupakan julukan bagi Keluarga Paduan Angklung SMA Negeri 3 Bandung. Kelompok ini termasuk paling tua di Bandung dan sudah ada sejak 1980. Salah satu aktivitasnya yang begitu tinggi pamornya di kalangan masyarakat angklung di Bandung adalah muhibahnya ke Eropa dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini. Muhibah ini berada dalam naungan program berjuluk Expand The Sound of Angklung, yang disingkat ESA. Umumnya, mereka berpartisipasi dalam berbagai festival musik di Eropa dan memainkan angklung di beberapa perguruan tinggi di beberapa negara.

Tahun ini, KPA3 berencana menggelar muhibah kelimanya di daratan Eropa melalui program ESA 2016. Sebagai bentuk pelepasan tim yang akan berangkat, KPA3 menggelar Preliminary Concert of Expand The Sound of Angklung 2016 bertajuk Sarasa Katha Tauryatrika. “Sarasa Katha” sendiri artinya “Kisah yang Indah”. Sedangkan “Tauryatrika” bermakna “Tiga Simfoni: Lagu, Musik Instrumental, dan Tarian”.

Tepat pada jam 7 malam, saya sudah terpakir dalam antrian di depan Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung, tempat konser akan dilangsungkan. Ketika dipersilahkan masuk, saya langsung mencari tempat yang paling nyaman untuk melihat keseluruhan konser.

Saya sendiri mendapatkan tiket penonton reguler yang letaknya cukup jauh dari panggung. Beruntung, seorang kawan menawarkan kursi VIP temannya. Hal ini membuat posisi saya jauh lebih baik dari sebelumnya.

The Dream Team 1 KPA3 usai melantunkan dua lagu pembuka konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)

The Dream Team 1 KPA3 usai melantunkan dua lagu pembuka konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)

Tepat jam 7.30 malam, lampu ruangan mulai digelapkan. The Dream Team 1 KPA3 beranjak mulai menyusun formasi di panggung. Di ujung ruangan, narator membacakan sepenggal puisi pembuka, yang diiringi menyalanya lampu pertunjukkan berwarna-warni dari kejauhan. Kemudian, lagu Rather Be yang dipopulerkan oleh Clean Bandit resmi membuka pertunjukkan mereka malam itu, yang disusul oleh Suite dari Badai Pasti Berlalu.

Bagi saya, lagu pembuka ini terasa terlalu kasar dan mendadak, kurang halus. Pikiran saya langsung terbang ke konser Bandung Philharmonic Orchestra pada April 2016 lalu di Gedung Merdeka. Memori ini saya panggil untuk mencoba membangun “feeling” menonton konser musik dalam diri saya.

Seingat saya, konser Bandung Philharmonic Orchestra sendiri dimulai dengan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang diiringi orkestra. Cara ini, bagi saya, berhasil membangun suasana di dalam gedung pertunjukkan. Namun, cara ini ternyata tidak berlaku di konser KPA3. Hasilnya, saya tidak terlalu berhasil membangun “rasa” menonton musik, yang berujung kepada ketidak-nyamanan dalam menonton konser tersebut.

Mood menonton semakin hambar ketika tetiba saja rombongan Wakil Gubernur Jawa Barat memasuki ruangan pertunjukkan dan berjalan ke tempat duduk terdepan di tengah-tengah lagu. Hal ini juga dia lakukan ketika beranjak pergi ke luar gedung pertunjukkan: pamit, pergi, dan dilakukan di tengah-tengah lagu. Belum lagi, para fotografer seenak udel memotret kedatangan para pejabat dengan menggunakan lampu kilat di tengah-tengah konser. Kejadian ini membuat mood saya sebagai penonton semakin amburadul.

Rasanya, meskipun Deddy Mizwar dalam sambutannya beberapa kali mengajak hadirin untuk menghargai budaya Jawa Barat, dalam hal ini musik dan angklung, tetapi sikap dia dan rombongan tidak mencerminkan kecintaannya kepada musik, angklung, dan mungkin juga budaya.

Barangkali, akan lebih elok bila panitia pertunjukkan mengatur rombongan pejabat agar masuk dalam jeda antar lagu. Atau, Deddy Mizwar sebagai pelaku seni, akan lebih elok bila dia berhenti sejenak di pintu masuk hingga lagu berakhir, baru menempati kursi yang disediakan.

Kembali ke pertunjukkan angklung. The Dream Team 1 merupakan salah satu tim angklung terbaik yang kerap membawa nama KPA3. Namun, mereka bukanlah tim yang akan berangkat ke Eropa. Mereka hanya mendapatkan peran untuk membuka pertunjukkan tim ESA pada konser malam itu.

The Dream Team KPA3 sendiri hadir dengan gaun malam bernuansa modern yang begitu indah. Sayangnya, penampilan mereka tidak begitu baik malam itu. Bunyi angklung yang terlalu lemah, dan suara perkusi yang terlalu keras, membuat lagu yang mereka mainkan agak kurang harmonis di telinga saya.

Sang konduktor pun tampak kurang leluasa memimpin para pemain angklung. Bisa jadi karena pakaiannya yang terlalu ketat, sehingga menyulitkannya bergerak leluasa. Bisa juga karena undakan tempat berdirinya konduktor yang terlalu tinggi dan goyang, sehingga konduktor ragu-ragu untuk bergerak.

Bagaimana pun juga, seorang konduktor berperan besar untuk membangun nuansa pertunjukkan. Bila konsentrasinya terganggu, bisa jadi timnya gagal untuk membangun nuansa lagu. Ujung-ujungnya, lagu-lagu yang disajikan terasa hambar dan sebatas bunyi-bunyian tanpa rasa.

Gangguan lainnya bagi saya malam itu adalah dua layar multimedia di kanan dan kiri panggung. Dalam setiap lagunya, layar tersebut menampilkan multimedia yang selaras dengan lagu yang dimainkan. Sebagai contoh, ketika The Dream Team membawakan Suite dari Badai Pasti Berlalu, cuplikan tayangan film Badai Pasti Berlalu muncul di kedua layar.

Alih-alih indah dan membangun suasana, kedua layar yang terlalu kecil dan letaknya terlalu pinggir tersebut justru menjadi polusi visual tersendiri. Ditambah lagi, antara cuplikan multimedia dengan permainan lagu tidak harmonis. Ujung-ujungnya, antara multimedia dan suara angklung justru saling melemahkan, bukan menguatkan.

Selepas penampilan dua lagu dari The Dream Team 1 KPA3, The Dream Team ESA segera menyusun formasi di atas panggung. Para pemain wanita tampak begitu percaya diri dengan kebaya berwarna merah berkainkan batik. Sedangkan para pria begitu gagahnya dengan jas takwa berwarna cokelat muda. The Dream Team ESA sendiri akan berangkat ke Eropa pada akhir Juli hingga awal Agustus 2016 mendatang. Rencananya, mereka akan singgah di tiga festival musik.

Persinggahan pertama mereka adalah International Youth Music Festival II di Bratislava, Slovakia pada 24-27 Juli 2016. Bratislava sendiri dikenal sebagai kota musik. Di kota ini, The Dream Team ESA akan berpartisipasi dalam dua kategori lomba, yaitu: Ensembles with Free Instrumentation dan Mix Ensembles: Folk Music Ensembles.

Persinggahan kedua adalah Prague Folklore Days di Praha, Republik Ceko, pada 28-31 Juli 2016. Ajang tahunan ini disediakan untuk kelompok musik tradisional amatir di seluruh dunia. Tahun ini, festival tersebut akan diikuti oleh dua ribu peserta. Sedangkan persinggahan ketiga adalah SIVO Festival di Odoorn, Belanda, pada 1-8 Agustus 2016. Pada festival tahunan ini, setiap peserta harus menampilkan musik dan tarian dari negaranya masing-masing.

The Dream Team ESA membuka pertunjukkan dengan lagu Circle of Life yang juga jadi pembuka film Lion King. Tim ini memainkan angklung dengan cukup matang. Dibandingkan dengan penampilan tim pertama, suara angklung tim ini terdengar lebih harmonis dan menyatu dengan alat musik perkusi dan bas akustik yang mengiringinya.

Miryam Wedyaswari, sang konduktor The Dream Team ESA 2016, menyapa hadirin usai menampilkan lagu Circle of Life dalam konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)

Miryam Wedyaswari, sang konduktor The Dream Team ESA 2016, menyapa hadirin usai menampilkan lagu Circle of Life dalam konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)

Miryam Wedyaswari, sang konduktor, pun tampak lebih berpengalaman dalam membangun nuansa lagu. Dia begitu leluasa dalam bergerak dibandingkan konduktor tim sebelumnya. Faktor undakan tempat berdirinya konduktor yang terlalu ringkih pada penampilan tim pertama, bisa jadi benar. Berbeda dengan konduktor sebelumnya yang berdiri di undakan kedua, Miryam justru memilih undakan pertama sebagai tempatnya berdiri dan memimpin tim. Keputusan ini membuatnya berdiri lebih kokoh dan leluasa dibandingkan konduktor tim pertama.

Meskipun demikian, sajian multimedia di kanan-kiri panggung tetap saja menjadi polusi visual bagi saya. Rasanya, penampilan mereka akan lebih elok bila disandingkan dengan penampilan teaterikal layaknya versi teater Lion King a la Broadway, Kota Newyork, Amerika.

Penampilan selanjutnya, The Dream Team ESA memainkan lagu-lagu John William yang disajikan secara medley. Untuk bagian pertama, mereka memainkan lagu tema film Harry Potter, film Jurassic Park, film Extra Terrestrial, dan lagu Somewhere in My Memory dari film Home Alone. Hal ini diikuti dengan penampilan medley bagian kedua yang masih karya John William. Pada bagian ini, mereka memainkan lagu tema film Superman, film Star Wars, dan film Indiana Jones.

Menutup sesi pertama, The Dream Team ESA mempersembahkan tiga lagu klasik yang akan dimainkan dalam festival musik di Eropa mendatang. Ketiga lagu tersebut adalah Vocalise OP. 34 No. 14 gubahan Sergei Rachmaninoff, Pizzicati from Sylvia gubahan Léo Delibes, dan Rhapsody in Blue (Excerpt) gubahan George Gershwin.

Vocalise sendiri merupakan rangkaian ke-14 Romances yang ditulis pada 1915. Keunikannya, karya ini satu-satunya komposisi dalam Opus No. 34 yang tidak memiliki lirik. Keunikan ini sempat dikeluhkan oleh Antonina Nezhdanova. Meskipun demikian, Rachmaninoff percaya bahwa suara dan penjiwaan bisa menyampaikan perasaan jauh lebih dalam dan beragam dibandingkan kata-kata.

Adapun Pizzicati from Sylvia merupakan salah satu karya musik balet terbaik sebelum periode Tchaikovsky. Karya ini ditulis pada 1876 berdasarkan drama Aminta karya Torquato Tasso. Lagu ini begitu kaya akan melodi dan banyak orang menyimpulkannya sebagai karya yang indah. Salah satu bagian terkenal dari komposisi ini ada pada babak ketiga untuk mengiringi salah satu solo tersulit dan memperlihatkan kemampuan teknik balerina yang menawan.

Sedangkan Rhapsody in Blue merupakan sebuah karya konserto simfoni jazz yang dianggap sebagai musik klasik Amerika paling terkenal. Ditulis pada 1924 dan diperdengarkan kepada khalayak pada 12 Februari 1924. Karya ini menunjukkan kepiawaian Gershwin dalam menggabungkan musik populer saat itu dengan elemen-elemen musik klasik. Rhapsody in Blue begitu monumental dalam sejarah musik di Amerika. Pasalnya, karya ini berhasil mengangkat musik jazz yang dipandang sebagai musik rakyat dan tidak bergengsi kala itu dibandingkan musik klasik.

Sajian The Dream Team ESA pada sesi pertama ini menyadarkan saya bahwa para pemain angklung dan komposernya harus bekerja keras untuk menyelaraskan angklung dengan musik-musik yang ada di dunia. Karakteristik alat musik bambu yang umumnya berbunyi dengan cara “dipukul”, tidak melulu mampu menyajikan musik dunia modern dengan baik.

Sebagai contohnya pada sajian tiga musik klasik terakhir. Bagi saya, hanya Pizzicati from Sylvia yang mampu diadaptasi dengan baik oleh The Dream Team ESA. Pasalnya, langgam ini banyak bermain dengan ketukan nada pendek, sekitar 1/32 sampai 1/4 ketukan.

Sedangkan ketika mereka memainkan dua lagu lainnya, terdengar tidak lebih dari suara bambu yang dipukul-pukul secara acak. Saya benar-benar hampir tidak mampu menangkap sebuah musik ketika The Dream Team ESA memainkan Vocalise dan Rhapsody in Blue.

Terlebih lagi untuk langgam Vocalise. Rachmaninoff merancang agar pendengar langgam ini mampu menempuh perjalanan emosional, mulai dari perasaan hampa, putus asa, takut, sampai harapan yang tidak kunjung terpenuhi. Tentunya, banyak nada yang panjangnya lebih dari 1/4 ketukan. Rasanya, lagu seperti ini lebih cocok dimainkan dengan alat musik gesek yang lebih mampu menghasilkan suara “menyayat-nyayat” hati, dibandingkan alat musik pukul seperti angklung yang lebih cocok memainkan lagu dengan nada riang.

Sajian Bajidor Kahot persembahan The Dream Team ESA 2016. (Foto: Yudha PS)

Sajian Bajidor Kahot persembahan The Dream Team ESA 2016. (Foto: Yudha PS)

Menginjak sesi kedua, The Dream Team ESA menampilkan ragam kesenian daerah di Indonesia. Pada sesi kali ini, mereka ditantang untuk tidak hanya menyajikan musik, tetapi juga tarian dan drama musik. Saya cukup takjub melihat para penampil mengganti baju dan dandanannya dengan cekatan, hanya dalam hitungan menit. Mereka menggunakan beragam kostum, tergantung tarian yang akan mereka sajikan. Ada kostum untuk Tari Merak, Tari Ratoh Duek dari Aceh, Tari Bajidor Kahot yang campuran Tari Jaipongan dan Tari Ketuk Tilu serta sedikit nuansa Bali, Tari Jali-Jali, hingga kostum untuk tarian Dayak dan Bali.

Pada tiga penampilan pertama sesi kedua, The Dream Team ESA menampilkan Tari Ratoh Duek dan Bajidor Kahot. Kemudian dilanjutkan dengan Parade Pesona Indonesia yang menampilkan berbagai tarian Indonesia secara “medley” dengan diiringi suara kendang.

Penampilan selanjutnya, The Dream Team ESA menampilkan sajian lagu dan tarian dari Riau berjudul Lancang Kuning dan lagu Betawi berjudul Keroncong Kemayoran. Mereka juga menyajikan lagu Sunda berjudul Percoma. Uniknya, penampilan yang satu ini menawarkan drama musikal. Dua orang pemerannya berakting sambil bernyanyi diiring oleh penampilan angklung di belakangnya.

Pada penampilan sesi kedua, saya melihat para pemain sudah tampak kelelahan. Suara musik angklung sudah mulai melemah dibandingkan pada sesi pertama. Energi penari pun sudah mulai terkuras. Hal ini tampak dari gerakannya yang kurang enerjik, kurang greget, dan maknanya agak kabur.

Sebenarnya, masih ada empat sajian penampilan lainnya. Sayangnya, saya sudah dijemput dan harus segera pulang. Pasalnya, bila tidak segera pulang, saya bisa ditinggalkan oleh sang penjemput. Kantong yang kosong dari Rupiah membuat saya tidak punya posisi tawar yang cukup untuk bertahan hingga akhir pertunjukkan.

Sebagai sebuah pertunjukkan angklung siswa SMA, KPA3 layak mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Mereka mampu memainkan angklung dengan lagu yang sangat beragam dan jenis tarian yang cukup variatif. Dari segi manajemen pertunjukkan, konser Sarasa Katha Tauryatrika termasuk konser yang sukses. Alur acara terbilang cukup baik, tanpa hambatan berarti.

Satu hal yang membuat saya terpukau adalah jajaran sponsor untuk kegiatan ini. Banyak perusahaan nasional dan pemerintah turut menorehkan namanya sebagai sponsor untuk konser ini. Beberapa nama besar yang tidak asing bagi saya, antara lain: Pertamina, BNI, Kimia Farma, Biofarma, Telkom Indonesia, PGN, dan Bank BJB. Selain itu, Pemkot Bandung, Pemprov Jawa Barat, dan Kementerian Pariwisata juga turut menjadi sponsor acara tersebut.

Namun, dari sisi profesionalitas, tentunya konser kemarin masih amat jauh dari baik. Bagaimana pun, pertunjukkan angklung siswa SMA lebih dominan nuansa pembelajarannya dibandingkan profesionalnya. Dalam konteks belajar, tentunya akan banyak kemudahan dan toleransi dari berbagai pihak. Hal inilah salah satu fasilitas pertunjukkan tingkat anak SMA.

Tentunya, hal ini berbeda 180 derajat bila berbicara pertunjukkan profesional. Para pemainnya umumnya berlatih sangat keras dan serius untuk mempersiapkan sebuah konser. Bahkan, aktivitas utamanya setiap hari adalah latihan. Ketika menggelar konser pun, mereka dibayar secara profesional. Taruhannya, tentu kepuasan penonton.

Ditambah lagi, para pemain profesional memiliki latar belakang musik yang kuat, termasuk sang konduktor. Mereka menempuh jalur pendidikan musik formal dengan durasi bertahun-tahun lamanya. Tidak heran bila mereka mampu menyajikan permainan musik yang berkualitas, karena mereka hidup untuk musik.

Tantangan lainnya, musisi profesional kerap kesulitan mendapatkan uang, bahkan untuk menggelar sebuah konser besar. Jarang ada sponsor yang mau mengeluarkan uang untuk pertunjukkan musik yang serius. Bahkan, sebuah konser profesional yang luar biasa di Bandung baru-baru ini berhasil terselenggara berkat pengorbanan sang ketua panitia yang menjual mobilnya untuk membiayai konser tersebut.

Kembali ke konser Sarasa Katha Tauryatrika KPA3 dan Dream Team ESA 2016. Angklung dirancang oleh Daeng Soetigna sebagai sarana belajar musik bagi kalangan awam. Memainkan angklung di Eropa tentunya akan lebih manis lagi bila dilandasi visi pendidikan musik Daeng Soetigna. Tidak hanya visinya tentang angklung sebagai sarana belajar musik, tetapi juga visinya tentang musik dan seni sebagai sarana untuk membangun toleransi antara masyarakat Indonesia dan dunia.

Selamat jalan untuk Dream Team ESA 2016. Ditunggu oleh-olehnya…***

* Foto mempergunakan kamera Canon EOS D70 milik Anissa “Flo” Trisdianty. Nuhun pinjaman kameranya dan kesediaan mengantarkan saya ke tempat acara, Flo… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s