Eva dan Evi: “TwiRies, Inilah Kisah Kami Berdua!”


Twiries: The Freaky Twin Diaries (Foto: arintyawidodo.wordpress.com)

Ringan, menghibur, sekaligus menggemaskan. Penilaian ini rasanya cocok untuk dialamatkan kepada buku TwiRies: The Freaky Twins Diaries buah karya si kembar Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki. Membacanya, membuat kita terinspirasi sekaligus terpingkal-pingkal dengan kepolosan dan kejahilan novelis dan blogger kembar asal Bandung ini.

Sesuai namanya, Twins Diaries, buku ini mengisahkan pengalaman dan kenangan hidup keduanya, sejak mereka kecil hingga berkeluarga kini. Menariknya, buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan, santei, mengalir, dan kocak. Hal ini membuat mata pembacanya langsung tertambat sejak kalimat pertama pada lembar pertama hingga titik paling akhir di halaman ke-303. Bahkan, pembacanya tidak akan rela mengalihkan pandangannya dari buku ini, barang sedetik pun.

Buku terbitan de Teens ini semakin asyik dibaca dengan selipan gambar-gambar komik yang mengisahkan penggalan kisah-kisah menarik Eva dan Evi. Gambar-gambar ini melengkapi paparan kisah si kembar dalam bentuk tulisan. Terkadang, gambar-gambar ini begitu menyentuh pembaca dengan menampilkan kelakukan si kembar yang begitu polos dan manis. Namun, tidak jarang membuat pembacanya tertawa, bahkan terpingkal-pingkal, melihat aksi usil dan nakal si kembar. Untuk aksi yang satu ini, mereka menjuluki sebagai “Twin Evil”.

Melalui buku ini, Eva dan Evi tidak hanya semata-mata mengisahkan kehidupannya. Lebih dari itu, keduanya seperti mewakili respon saudara kembar lainnya tentang persepsi umum masyarakat terhadap mereka. Satu hal yang perlu dicamkan oleh para pembaca: saudara kembar paling tidak suka dibanding-bandingkan, dalam aspek apa pun. Bahkan, Eva dan Evi melalui buku ini seperti ingin menandaskan bahwa mereka adalah dua individu terpisah yang memiliki karakternya masing-masing. Tampak jelas tersirat keinginan mereka untuk dihargai dan dilihat secara unik sebagai sosok tunggal yang terpisah dari saudara kembarnya.

Satu hal yang perlu dicamkan oleh para pembaca: saudara kembar paling tidak suka dibanding-bandingkan, dalam aspek apa pun.

Eva dan Evi merupakan saudara kembar yang sama-sama terjun di bidang sastra dan industri kreatif. Eva sendiri pernah menelurkan tiga novel yang masing-masing berjudul: I’m Not an Underdog (bukupop, 2006), Dunia Trisa (Stiletto Book, 2011), dan Love Puzzle (Teen @ Noura, 2013). Lulusan Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia ini juga menulis skenario untuk film pendek, video, dan animasi pembelajaran.

Sedangkan Evi menulis dua novel yang masing-masing berjudul: Marshmallow (Chibi Publisher, 2008) dan CineUs (Nourabooks, 2013). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung ini dikenal kerap menulis puisi dan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Bahkan, puisi dan cerpennya itu pun telah dibukukan dalam berbagai antologi.

Twin Diaries sendiri merupakan buku pertama duet Eva dan Evi. Mereka menyusun buku ini berdasarkan cara pandang khalayak terhadap saudara kembar. Hal ini tampak dari cara menampilkan bagian pertama yang bercerita seputar: persamaan dan perbedaan mereka, pertanyaan-pertanyaan “bodoh” yang kerap dialamatkan kepada si kembar, kemampuan telepati, dan pengalaman bertukar peran kehidupan.

Pada bagian ini, Eva dan Evi juga menampilkan enak dan tidak enaknya memiliki saudara kembar. Mereka menyebutnya sebagai “Twin Miracle” untuk keuntungan memiliki saudara kembar, dan “Twin Curse” sebagai julukan untuk hal-hal negatif dalam memiliki saudara kembar.

Bagian kedua adalah kisah cinta Eva dan Evi yang seringkali terdengar konyol dan menggelikan. Sebagai contoh, ketika Eva sudah memiliki pacar, Evi kemudian mengejar target untuk memiliki pacar juga. Ketika Eva putus, Evi pun terinspirasi untuk ikut-ikutan putus. Atau, ketika Evi dibelikan sepatu oleh pacarnya, dia malah meminta satu pasang lagi untuk Eva.

Salah satu penggalan cerita di buku Twiries. (Foto: luckty.wordpress.com)

Sedangkan bagian ketiga, Eva dan Evi sama-sama menulis “Surat Cinta” untuk saudara kembarnya. Pada bagian ini, Eva mencurahkan isi hatinya kepada Evi, begitu pun sebaliknya. Dari surat ini, tampak kebesaran cinta satu sama lain. Cinta yang saling mengikat kehidupan mereka, dari mulai kandungan ibu, hingga kini beranjak dewasa dan berkeluarga. Kata-kata mereka begitu menyentuh, hingga saya bisa merasakan bagaimana mereka berbagi kehidupan dan penuh cinta kepada saudaranya selama ini.

Secara keseluruhan, saya menilai buku ini menarik dan asyik, baik secara bahasa maupun secara cerita. Hanya saja, untuk buku semenghibur ini, rasanya 303 halaman masih terlalu pendek. Belum lagi, ukuran hurufnya yang relatif besar dengan gambar komik yang hampir terdistribusi di setiap bagian, membuat buku ini habis dibaca sekali duduk.

Setelah buku ini, belum terdengar kabar dari keduanya untuk mengeluarkan buku lanjutan. Saya pribadi menyarankan agar mereka membuat komik atau mungkin novel atau bahkan novel-komik berdasarkan kehidupan mereka selama ini. Kisahnya pun bisa dibagi dalam beberapa seri. Misalnya, seri Eva dan Evi di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, seri si kembar di SMP dan SMA, atau mungkin juga seri keduanya semasa kuliah dan bekerja. Rasanya, setiap jenjang tersebut memiliki kisah dan konflik yang menarik untuk diangkat sebagai komik atau novel.

Saya pribadi menangkap kesan yang berbeda-beda pada setiap jenjang tersebut, berdasarkan Twiries tentunya. Misalnya saja ketika di jenjang Taman Kanak-Kanak. Cerita Eva dan Evi tampak begitu polos dan imut serta menggemaskan, mungkin seperti Upin dan Ipin. Banyak pelajaran moral yang bisa diangkat pada jenjang tersebut.

Contohnya saja ketika mereka berdua mengambil mangga. Evi yang mengambilnya, sedangkan Eva yang memotongnya, sebuah aktivitas yang menampilkan nilai kerjasama. Atau ketika mereka bersama-sama pergi untuk membeli komik dan uangnya kurang, tetapi mereka tetap berangkat. Kejadian tersebut menyiratkan nilai-nilai keberanian untuk bertindak.

Rasanya, setiap jenjang kehidupan si kembar memiliki kisah dan konflik yang menarik untuk diangkat sebagai komik atau novel.

Juga pada jenjang SMP dan SMA. Kita bisa melihat begitu konyolnya mereka ketika mengerjai orang melalui telepon. Atau juga keisengan mereka ketika bertukar sekolah, yang mengajarkan tentang rumput kita masih lebih hijau sempurna dibandingkan rumput tetangga.

Seri-seri kisah si kembar juga bisa dimasukkan cerita-cerita imajinatif, seperti: kemampuan teleportasi layaknya serial televisi Magic Girls. Atau mereka bisa jadi detektif kembar yang kerap menyelidiki kasus-kasus aneh berbau luar angkasa, seperti X Files.

Apa pun itu. Saya melihat banyak kisah yang bisa digarap oleh duet si kembar Eva dan Evi selanjutnya. Saya pribadi sebagai pembaca, tentunya hanya bisa menunggu untuk membaca karya mereka selanjutnya.***

3 thoughts on “Eva dan Evi: “TwiRies, Inilah Kisah Kami Berdua!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s