Bertemu Dua Almarhum


Ilustrasi. (Foto: allaboutbible.com)

Dalam dua pekan terakhir ini, saya bertemu dengan dua almarhum. Disebut demikian, karena keduanya memang sudah berada di alam kubur. Kedua almarhum tersebut adalah om Sukar Samsudi dan kang Danny Akung. Tentunya, saya tidak bertemu mereka di alam dunia, melainkan dalam mimpi.

Sosok pertama yang saya temui adalah om Sukar Samsudi. Semasa hidupnya, beliau pernah menjadi Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Barat dan District Governor di Rotary Indonesia. Saya mengenal beliau di Rotary Club Bandung Selatan, beberapa bulan sebelum beliau wafat. Meskipun mengenal beliau dalam waktu yang cukup singkat, tetapi tokoh pengusaha Jawa Barat tersebut banyak menorehkan kenangan yang tak terlupakan bagi saya.

Saya memimpikan beliau pekan lalu. Dalam mimpi tersebut, saya sekeluarga mengunjungi beliau di rumahnya. Ketika kami datang, beliau langsung menyambut kami dan langsung mempersilahkan kami masuk. Raut wajahnya begitu gembira ketika kami datang. Lucunya, beliau menyambut kami menggunakan piyama berwarna putih.

Lantai rumah om Sukar terbuat dari kayu. Ketika kami tiba di tengah rumah, lantai kayunya ternyata sudah lapuk dan keropos karena basah. Bahkan, saking keroposnya, kami bisa dengan mudah mengangkat lantai kayu tersebut. “Iya, lantai kayunya sudah keropos. Om teh pengen menggantinya dengan lantai keramik,” ungkap om Sukar dalam mimpi tersebut.

Kebetulan, dalam kunjungan tersebut, saya datang bersama orang tua saya. Ayah saya kemudian langsung berinisiatif untuk memperbaiki lantai kayu tersebut. Dalam mimpi tersebut, Ayah saya mengganti lantai kayu tersebut dengan keramik berwarna putih susu.

Saya sendiri dan beberapa orang lainnya mengobrol dengan om Sukar di halaman belakang rumahnya. Dalam mimpi tersebut, beliau tampak sumringah menerima kehadiran kami. Tidak henti-hentinya beliau menyampaikan kegembiraannya kepada kami. “Om teh senang kalian datang ke sini,” tutur om Sukar, beberapa kali.

Setelah cukup waktu berkunjung, kami pun pamit pulang. Dalam mimpi tersebut, ayah saya kebetulan sudah selesai mengganti lantai kayu keropos tersebut menjadi lantai keramik. Meskipun demikian, om Sukar tampak kurang puas dengan lantai keramik yang terpasang.

“Om teh pengennya bukan keramik putih kaya gini, tapi keramik yang lebih abu. Sudah om siapin kok keramiknya,” papar om Sukar. “Nanti deh om suruh orang lagi untuk menggantikan (keramik putih tersebut dengan pilihan beliau),” lanjutnya. Kemudian, om Sukar pun mengantarkan kami sampai gerbang rumahnya. Dan saya pun terbangun.

Adapun sosok kedua yang saya temui adalah kang Danny Akung. Dalam mimpi tersebut, dikisahkan bahwa saya sedang menunggu di sebuah rumah sakit yang lantai, pintu, jendela, dinding, serta kursinya berwarna putih. Di rumah sakit tersebut, orang-orang juga memakai pakaian serba putih.

Tiba-tiba, kang Danny Akung keluar dari salah satu pintu yang ada. Beliau menggunakan pakaian jeans dan kaos putih berbalutkan jaket berwarna putih juga. Wajahnya sumringah dan tersenyum lebar khas kang Danny. Beliau menyapa setiap orang yang dikenalnya di mimpi tersebut.

Saya kaget bukan kepalang. Pasalnya, dalam mimpi tersebut, saya sadar beliau sudah wafat, tetapi beliau ternyata masih hidup. Sempat saya berpikir bahwa itu kembarannya. Namun, ada dorongan untuk memastikan bahwa itu kang Danny Akung dengan memanggilnya.

Ternyata, setelah saya panggil, benar saja, itu kang Danny Akung. “Hei, Yudh,” sapa beliau. Sontak, saya merasa terguncang dan semakin kaget. “Apa kabar, Yudh?” tanya beliau. “Baik, kang,” sambut saya sambil mengangguk keheranan. “Saya lagi nyariin kang Abuy, nih. Soalnya, janjian dengan dia (kang Abuy),” ungkap beliau. Kang Budi Abuy sendiri merupakan pendiri sekaligus vokalis Time Bomb Blues.

Dalam mimpi tersebut, saya sebenarnya ingin bertanya bagaimana beliau bisa ada di hadapan saya. Padahal beliau baru saja meninggal beberapa pekan lalu. Namun, pertanyaan itu tertahan. Alasannya sederhana, saya tidak enak menanyakan hal tersebut kepada beliau.

“Ini ada oleh-oleh buat kamu,” kang Danny kemudian memberikan tiga buah tangan. Namun, yang saya ingat hanyalah dua buah pemberian, yaitu: pick gitar dan kaos Time Bomb Blues. “Ini kaosnya ukurannya L. Cukup kan dengan kamu?” komentar beliau. “Kegedean sih, kang, tapi muat lah dipakai,” ungkap saya.

Tiba-tiba saja, dari pintu rumah sakit, kepala kang Abuy nongol dan langsung memanggil kang Danny. “Saya pergi dulu, yah,” dan kang Danny pun menghampiri kang Abuy. Penasaran dengan keduanya, saya pun menguntit mereka berdua.

Lucunya, kang Abuy menyampaikan pertanyaan saya ke kang Danny. “Kamu teh bukannya udah meninggal? Kenapa masih ada di sini,” tanya kang Abuy, blak-blakan. “Oh iya? Kapan?” kang Danny bertanya balik. “Kemarin-kemarin,” jawab kang Abuy. “Oh, gitu. Ya udah atuh, saya pergi lagi,” komentar kang Danny. Dan beliau pun tiba-tiba menghilang. Dan saya pun terbangun.

Saya pribadi tidak tahu makna mimpi tersebut. Namun, satu hal yang tidak biasa dari kedua mimpi tersebut: mereka berdua berbicara. Saya pernah dengar cerita dari masyarakat kampung di Jawa Barat, katanya orang yang wafat dan hadir di mimpi kita tidak akan pernah berbicara. Mereka umumnya hanya diam.

Biasanya, pesan disampaikan oleh orang-orang yang masih hidup yang ada di sekitarnya dalam mimpi tersebut. Hal ini pernah terjadi beberapa kali di mimpi saya. Salah satunya ketika kakek saya wafat. Di dalam mimpi tersebut, saya melihat kakek dan nenek saya yang telah wafat terbaring di sebuah kereta. Kemudian, ada orang yang bertanya kepada saya, “Kapan kamu mau ke Gombong?” Gombong, Kebumen, Jawa Tengah merupakan kota tempat tinggal kakek dan nenek saya. Keduanya dimakamkan di kota tersebut.

Nah, berbeda dengan mimpi-mimpi saya sebelumnya tentang orang-orang yang sudah wafat. Kedua almarhum yang baru saja hadir dalam mimpi saya justru bisa berbicara. Dan bahkan mereka berbincang-bincang dengan saya.

Ah, mimpi itu membuat saya jadi bertanya-tanya tentang aktivitas kedua almarhum di alam kubur sana. Sedang tersenyum kah? Sedang bergembira kah? Atau sebaliknya? Apa pun itu, dan pertanda apa pun mimpi itu, salah satu teman saya hanya berkomentar singkat, “Kirim Alfatihah saja.”***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s