Membangun Sanggar Muda Sekepeer, Dalam Khayalan Tapinya…


Ilustrasi. (Foto: i.huffpost.com)

Tabuhan kaleng dan botol kaca mengalun riuh di tengah-tengah tanah kavling kosong di Sekepeer, Sindanglaya, Bandung, kemarin siang. Anak-anak dengan semangat menabuhnya sembari menyanyikan lagu-lagu dangdut yang tengah populer di masyarakat. Berisik, sudah pasti. Namun, melihat keluguan dan ekspresi mereka dalam bermain musik “kaleng” dadakan tersebut, justru membuat saya berpikir bahwa mereka memiliki potensi yang siap untuk dikembangkan.

Tanpa sadar, khayalan saya terbang seiring dengan bertebarannya suara musik a la anak-anak Sekepeer tersebut ke berbagai penjuru arah mata angin. Mata saya kemudian tertambat di sejumlah lahan kavling kosong yang berhamparkan gulma dan rumput liar. “Andai, lahan kavling tersebut tersedia untuk dijadikan sanggar anak-anak dan pemuda Sekepeer,” lamun saya.

Lebih jauh, khayalan saya mengajak untuk memikirkan jenis-jenis sanggar yang ingin saya bangun. “Tentunya, sanggar seni salah satu pilihan yang perlu diperhitungkan,” pikir saya, lebih mendalam. Di sanggar tersebut, anak-anak dan pemuda Sekepeer bisa berlatih seni, khususnya musik dan tari. Terpikir untuk membuat sanggar musik gamelan dan akustik klasik. Di dalamnya, anak-anak dan pemuda bisa mengeksplorasi jenis-jenis musik tradisional dan modern serta memadukannya dalam bentuk karya-karya kontemporer. “Not, bad,” gumam saya.

“Hanya seni saja,” kembali khayalan saya mengajak untuk berpikir lebih jauh. “Tampaknya asik juga untuk membuat sanggar elektronika dan teknologi informasi dan komunikasi,” lanjut saya. Sesuai namanya, di dalam sanggar elektronika, anak-anak dan pemuda bisa belajar merangkai berbagai perangkat elektronik. Mulai dari yang termudah, seperti: merakit lampu, radio, dan turbin angin, sampai yang agak canggih sedikit, seperti: robot, dan mungkin juga komputer.

Bersanding dengan sanggar elektronika, tersedia juga sanggar teknologi informasi dan komunikasi. Di sini, anak-anak dan pemuda Sekepeer diajak untuk menjadi produsen di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Mereka diajak untuk mengenal komputer lebih dalam, belajar bahasa pemrograman, sampai membangun percobaan untuk membuat robot sendiri.

“Tentunya, perpustakaan juga harus ada,” khayalan saya kemudian menginterupsi. “Keren juga,” tanggap saya. Di dalam perpustakaan, anak-anak dan pemuda bisa mengeksplorasi dunia melalui buku, dan mungkin juga internet. Mereka diajak untuk menyelami dunia sastra dan pengetahuan melalui perpustakaan. Tidak hanya mengkonsumsi bacaan semata. Mereka juga diajak untuk menulis dan mengkritisi bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan.

Tidak hanya buku. Perpustakaan ini juga mengajak anak-anak dan pemuda untuk menonton film-film bermutu. Dari mulai genre sastra sampai dokumenter. Lebih seru lagi bila dibarengi ajakan untuk membuat film, entah itu fiksi maupun yang berbasis dokumenter.

“Apa yah nama yang layak untuk sanggar itu,” khayalan saya tidak sabar untuk memberi nama. “Sanggar Muda Sekepeer?” usul saya. “Terdengar menarik,” gumam khayalan saya. Dan tiba-tiba, khayalan itu meledak seiring berhentinya permainan musik “kaleng” anak-anak Sekepeer, yang berganti dengan suara-suara lodong dan petasan yang menggelegar.

“Ah, dasar anak-anak,” komentar saya, menyudahi khayalan saya siang itu.***

2 thoughts on “Membangun Sanggar Muda Sekepeer, Dalam Khayalan Tapinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s