Gunakanlah Kalimat Aktif, Kecuali…


Ilustrasi. (Foto: amazonaws.com)

Dalam berbagai pelatihan menulis, saya selalu mendorong audiens untuk menggunakan kalimat aktif dan berstruktur SPOK. Menurut kang Irfan Khosirun, direktur Kaba Media Bandung, pembaca lebih mudah memahami dan mengingat informasi yang disusun menggunakan kalimat aktif. Kiat lainnya, penulis harus menyandingkan kata kerja aktif dengan subjek agar pembaca dapat langsung membayangkan kalimatnya.

Kalimat aktif sendiri merupakan kalimat yang berpredikat kata kerja. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja ditandai salah satunya oleh awalan “me-“, seperti: menabung, melempar, memakan, menggosok, dan melempar. Dalam struktur SPOK, kalimat aktif ditandai dengan Subjek sebagai pelaku.

Konsekuensi penggunaan kalimat aktif adalah penulis harus selalu menghadirkan pelaku. Sebagai contoh, “Budi memakan ikan.” Bila kalimatnya hanya, “Memakan ikan,” tentunya menimbulkan pertanyaan, “Siapa yang memakan ikan tersebut?”

Adapun kalimat pasif ditandai dengan subjek yang dikenai perbuatan atau aktivitas. “Subjek penderita” istilahnya. Biasanya, predikat kalimat ini ditandai dengan kata-kata yang memiliki awalan “di-“ atau “ter-“. Kalimat pasif sendiri tidak memerlukan pelaku, seperti halnya dalam kalimat aktif.

Sebagai contoh, “Ikan dimakan.” Contoh lainnya: Indonesia dinilai sebagai bangsa yang ramah. Dari kedua contoh di atas, kalimat sudah bisa berdiri tanpa harus memiliki pelaku, dalam hal ini: orang yang memakan dan orang yang menilai.

Dalam beberapa kesempatan, alih-alih mendorong penggunaan kalimat aktif, saya justru menyarankan orang untuk menggunakan kalimat pasif. Seperti beberapa waktu lalu, ketika saya menyunting tulisan seorang kawan. Dalam tulisan tersebut, banyak informasi yang sensitif dan juga politis. Contohnya adalah informasi sebuah lembaga dunia yang mengancam untuk mencabut gelar besar yang diberikannya kepada Indonesia.

Informasi tersebut kami dapatkan dari seorang tokoh di Bandung yang secara kredibilitas baik. Sayangnya, kami tidak menemukan satu berita pun di media massa yang memuat informasi tersebut. Mengerikannya lagi, menurut penuturan sang tokoh, ancaman tersebut hanya disampaikan secara lisan kepada beberapa tokoh di Bandung, bukan dalam bentuk surat resmi dari lembaga terkait.

Akhirnya, saya memilih untuk menggunakan kalimat pasif agar bisa menghilangkan nama lembaga tersebut dari tulisan teman saya. Bagaimana pun, bila tidak didukung oleh data yang akurat berupa dokumen, saya justru khawatir posisi kawan saya terancam.

Kalimat pasif juga umum digunakan dalam laporan lembaga dan penelitian. Umumnya, laporan jenis ini tidak membutuhkan pelaku. Sebagai contoh, sebuah lembaga menggelar survei di beberapa titik di Bandung. Kalimat yang digunakan dalam informasi ini adalah,” Survei digelar di beberapa titik di Kota Bandung.”

Itu untuk kasus-kasus khusus. Di luar kondisi tersebut, saya selalu membiasakan untuk menggunakan kalimat aktif.***

2 thoughts on “Gunakanlah Kalimat Aktif, Kecuali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s