Rumah Ramah Lingkungan, Jembatan untuk Belajar Tentang Alam


Ilustrasi. (Foto: abnamro.com)

Rumah. Istilah ini tidak hanya berarti tempat tinggal. Bagi saya, rumah juga berarti sanggar untuk menumbuhkan kesadaran tentang lingkungan, setidaknya di era perubahan iklim seperti saat ini. Hal inilah yang coba saya bangun dalam beberapa bulan ke depan. Sebuah rumah yang bukan hanya tempat berlindung saya dan keluarga, tetapi juga ruang belajar kami untuk lebih ramah kepada alam.

Pelajaran pertama kami tentang rumah ramah lingkungan adalah fungsi setiap bagian di dalamnya. “Rumah itu tidak harus besar, tetapi fungsional,” begitu petuah aki Herry Constadi, seorang arsitek ternama Kota Bandung. Beliau juga menyarankan agar saya menyingkirkan istilah “gudang” di dalam rumah. Pasalnya, gudang hanya akan menjadi timbunan barang-barang yang tidak terpakai. Oleh karena itu, ketiadaan gudang cenderung mendorong penghuninya untuk selektif dalam memilih barang. Ujung-ujungnya, menjadi berlaku lebih hemat dan ramah lingkungan.

Ini pula yang coba saya bangun: sebuah rumah dengan besar secukupnya, tetapi setiap bagiannya memiliki peruntukkan yang jelas. Ruang bawah tangga bisa digunakan untuk lemari, teras depan bisa untuk lesehan tamu, garasi mobil bisa juga untuk area penyerapan hujan, dan dinding kosong bisa digunakan untuk rak buku. Masing-masing bagian saya coba pikirkan matang-matang fungsinya kelak.

Pelajaran kedua, rumah ramah lingkungan juga berbicara tentang bahan yang digunakan untuk membangunnya. Jujur, bagi sebuah keluarga kecil seperti saya, membangun sebuah rumah memiliki tantangan yang sangat besar, khususnya dari segi pendanaan. Oleh karena itu, untuk menekan biaya, saya berusaha untuk memilih secara selektif bahan-bahan yang akan digunakan.

Untuk menjawab tantangan ini, kami sekeluarga berkeliling ke berbagai toko bangunan di sekitar rumah. Tujuannya sederhana: bertanya tentang spesifikasi bahan yang cocok untuk rumah kami. Adapun kriterianya adalah harganya murah tetapi berkualitas dan kuat serta tahan lama. Proses ini ternyata mengantarkan kami kepada pencerahan selanjutnya: rumah sederhana.

Disebut rumah sederhana, karena kami memang menghilangkan banyak bagian rumah. Sebagai contoh, bata penyusun dinding bagian dalam dibiarkan terlihat tanpa ditutupi semen dan cat tembok. Kemudian langit-langit lantai pertama dibiarkan tanpa penutup. Adapun kabel listrik hanya ditutup dengan selang besi. Lainnya lagi, tinggi rumah diperpendek dari 300 sentimeter menjadi hanya 270 sentimeter.

Hasil hitung-hitungan di atas kertas, cara ini bisa mengurangi biaya pembangunan. Nilai tambahnya, dari sudut pandang lingkungan, cara ini mengurangi sedikit “dosa” lingkungan saya. Setidaknya, bahan baku yang digunakan bisa dikurangi, sehingga turut mengurangi jejak karbon dibandingkan rumah sejenis pada umumnya.

Tentunya, cara ini memunculkan tantangan baru: membangun nuansa seni di setiap bagian rumah, sehingga rumah saya tidak terlalu terlihat kurang bahan dan modal. Saya pribadi belum terpikirkan caranya. Mudah-mudahan, seiring berjalannya waktu akan ada inspirasi-inspirasi baru.

Terkait dengan bahan rumah yang ramah lingkungan, beberapa kawan menyarankan untuk menggunakan kayu bekas. Namun, ternyata, kayu bekas sudah menjadi komoditas kini. Setelah bertanya ke beberapa kawan yang berpengalaman, penggunaan kayu bekas justru meningkatkan biaya pembangunan rumah. Oleh karena itu, bahan yang satu ini tidak memenuhi kriteria bahan baku rumah saya, yaitu: murah.

Pelajaran selanjutnya, rumah ramah lingkungan mensyaratkan pengolahan limbah rumah tangga. Saya sendiri berencana untuk melengkapi rumah saya dengan bak-bak penampungan air bekas mandi dan pencucian piring. Nantinya, di dalam bak-bak tersebut, air akan disaring menggunakan pasir dan sabut kelapa, kemudian diendapkan, dan dinetralisir oleh tanaman Eceng Gondok.

Setelah dinilai cukup bersih, air ini akan dialirkan ke area tanam untuk memenuhi kebutuhan air tetumbuhan yang hidup di dalamnya. Di ujung area tanam terdapat lubang biopori. Harapannya, air yang cukup bersih ini akan kembali memenuhi cadangan air tanah, sehingga mampu mencukupi kebutuhan air bersih penghuni rumah.

Lubang biopori juga akan digunakan untuk membuang sampah-sampah organik yang dihasilkan dapur, seperti: potongan sayur-sayuran dan kulit buah-buahan. Lubang biopori ini akan dibuat di sekeliling rumah, sehingga mampu menyerap air hujan agar lagi-lagi menjadi cadangan air tanah.

Ilustrasi. (Foto: pinimg.com)

Pelajaran keempat, rumah ramah lingkungan mampu memproduksi kebutuhan sayur-sayuran dan buah-buahan untuk penghuninya. Dalam hal ini, saya menyediakan area tanam yang akan ditanami berbagai sayur-sayuran dan buah-buahan yang mudah dipelihara dan disukai keluarga kami. Area tanam lainnya adalah berupa Menara Tanam.

Menara Tanam sendiri merupakan istilah yang merujuk ke tabung berdiameter 20 sentimeter dengan tinggi 120 sentimeter. Di tengah tabung terdapat tabung yang lebih kecil berdiameter 5 sentimeter dengan tinggi 100 sentimeter. Sekujur permukaan tabung 5 sentimeter sendiri dilubangi oleh bor. Sedangkan tabung berdiameter 20 sentimeter diberi lubang-lubang dengan diameter 5 sentimeter.

Di antara kedua tabung diisi tanah, sedangkan tabung berdiameter 5 sentimeter diisi oleh sampah organik. Kemudian, pada lubang-lubang di sekujur permukaan tabung berdiameter 20 sentimeter diisi oleh benih-benih sayuran. Sayuran ini siap dikonsumsi ketika usia panennya tiba. Rencananya, Menara Tanam ini akan digunakan sebagai pagar rumah agar fungsinya lebih optimal.

Pelajaran terakhir, yang juga agak sulit diwujudkan untuk saat ini, rumah ramah lingkungan harus mampu memproduksi energinya sendiri. Saya pribadi berencana untuk menaruh panel surya di atap rumah dan turbin angin di sisi depan dan samping rumah.

Dalam kondisi optimal, satu panel surya bisa memberikan suplai listrik hingga 200 watt. Sedangkan satu turbin angin bisa memberikan suplai listrik hingga 600 watt pada kecepatan penuh. Bila saya berencana menaruh 10 panel surya dan empat turbin angin, berarti saya memiliki potensi suplai listrik mencapai 4.400 watt. Jumlah ini mampu memenuhi kebutuhan listrik lima rumah berkapasitas 900 watt.

Namun, jumlah tersebut hanya hitung-hitungan di atas kertas. Kenyataannya, efektivitas panel surya dan turbin angin untuk menghasilkan listrik di Kota Bandung cenderung sangat rendah. Meskipun begitu, mengingat obrolan kang Budhiana yang tengah membangun pembangkit listrik tenaga surya di atap Masjid Salman ITB mungkin bisa memberikan pencerahan. Menurutnya, pemasangan perangkat energi ramah lingkungan tersebut bukan tentang menghasilkan listrik semata. “Pemasangan solar panel di Salman ITB ditujukan untuk menginspirasi dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya energi ramah lingkungan,” ungkap tokoh pers Jawa Barat ini.

Itu pula yang ingin saya coba ajarkan kepada anak saya, bahwa membangun rumah ramah lingkungan adalah keniscayaan bagi masa depannya. Bagaimana pun, hidup bukan hanya sekedar “numpang” di bumi ini. Lebih dari itu, hidup adalah proses untuk memahami alam dan belajar tentangnya. Lebih jauh, proses ini diharapkan membawa kita untuk mengenal hakikat-Nya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s