Membangun Blog dengan Domain Sendiri


Ilustrasi (Foto: nfrc.co.uk)

Banyak orang bertanya kepada saya tentang cara memiliki blog dengan domain berakhiran .COM  atau .NET. Tidak jelas alasan mereka untuk memiliki domain berbayar tersebut. Tampaknya, mereka mulai bosan memiliki blog gratisan dengan embel-embel WordPress.com atau Blogspot.com di belakang nama blog mereka.

Berbicara tentang blog dengan domain berbayar, salah satu cara yang umumnya ditempuh adalah membeli hosting dan domain di perusahaan penyedia kedua layanan tersebut. Hosting sendiri merupakan tempat penyimpanan data di internet, sedangkan domain adalah alamat tempat penyimpanan yang akan diakses oleh banyak orang.

Ibaratnya, ketika kita mau membangun rumah, dua hal yang harus kita punya adalah lahan untuk membangun rumah, dan alamat lahannya. Hosting sendiri diibaratkan sebagai lahannya. Sedangkan domain adalah alamat lahan tersebut.

Di atas lahan, orang bisa membangun rumahnya. Tentunya, ukuran dan arsitektur rumahnya disesuaikan dengan kapasitas lahannya. Semakin besar luas lahannya, semakin besar ukuran rumah yang bisa kita bangun. Namun, bila kapasitas lahannya kecil, rumah yang kita bangun pun hanya ala kadarnya saja.

Begitu pun dengan tempat penyimpanan data di internet berjuluk hosting. Bila kapasitas hosting besar, kita bisa membangun leluasa membangun blog dan memasukkan banyak foto, video, dan tulisan ke dalamnya. Namun, bila kapasitas hosting kecil, tidak banyak yang bisa kita masukkan.

Sedangkan alamat lahan berfungsi untuk menunjukkan lokasi rumah kita. Bila ada tamu yang hendak berkunjung, mereka akan dengan mudahnya menemukan rumah kita hanya dengan bekal secarik kertas bertuliskan alamat rumah. Dalam hal ini, fungsi domain sama dengan alamat rumah. Domain memungkinkan orang untuk mengunjungi blog kita.

Perusahaan penyedia layanan hosting dan domain umumnya menyediakan kapasitas dan harga serta skema pembayaran yang variatif. Ada yang tahunan, ada yang bulanan, ada juga yang menyediakannya secara gratis. Untuk detailnya, silahkan cari sendiri perusahaan penyedia layanan hosting.

Adapun terkait nama domain, hal yang satu ini juga bisa dipesan di perusahaan yang melayani penyewaan hosting. Domain sendiri diperpanjang setahun sekali. Satu hal yang harus diperhatikan: nama domain harus unik. Bila nama domain yang ingin dipesan sudah ada yang memilikinya, berarti kita harus mencari nama lain.

Saat ini, di internet ada banyak domain. Lima domain yang umumnya banyak dikenal adalah: COM, NET, EDU, ORG, dan GOV. Masing-masing domain ini memiliki peruntukkan khusus. Com sendiri kependekan dari Company yang ditujukan untuk perusahaan. Adapun Net merupakan kependekan dari Network dan ditujukan untuk lembaga yang bergerak di bidang jaringan.

Sedangkan Edu kependekan dari Education. Domain ini ditujukan untuk lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Org ditujukan untuk Organization atau lembaga nirlaba. Gov alias Goverment merupakan domain untuk pemerintahan. Di luar lima domain tersebut, ada banyak nama domain lain, seperti: TV untuk televisi, INFO terkait situs informasi, dan MIL yang khusus bagi militer.

Meskipun memiliki peruntukkan masing-masing, tetapi aturan tersebut tidak baku. Saya bisa saja membuat domain YUDHAPS.COM untuk blog atau situs pribadi, meskipun saya bukan perusahaan. Juga terbukti di blog ini, YUDHAPS.ORG, padahal saya bukan lembaga nirlaba. Bila saya ingin, bisa saja saya juga memiliki YUDHAPS.EDU, padahal saya bukan lembaga pendidikan. Atau bahkan YUDHAPS.GOV, meskipun saya bukan pemerintahan.

Domain-domain yang saya sebutkan di atas disebut dengan Top Level Domain yang disingkat TLD. Sederhananya, TLD merupakan sistem pengelompokkan paling atas atau paling umum. Ibaratnya, TLD dalam sistem penamaan makhluk hidup merupakan pengelompokkan yang paling atas dan mendasar: hewan atau tumbuhan.

Ketika seseorang memasukkan sebuah nama domain di browser (perambah), maka sistem di internet akan melihat kelompok domain terlebih dahulu. Apakah sebuah situs merupakan kelompok COM, NET, ORG, EDU, GOV, atau yang lainnya? Misalnya, ketika memasukkan YUDHAPS.ORG, maka sistem akan langsung menuju kelompok domain-domain ORG. Dari situ, dia akan mencari alamat YUDHAPS. Setelah ketemu, baru sistem di internet akan mengarahkan browser ke tempat penyimpanan YUDHAPS.ORG.

Cara kerja Domain Name System (DNS). (Foto: wikimedia.org)

Selain TLD, ada juga ccTLD yang merupakan singkatan dari Country Code Top Level Domains. Pada penamaan domain ini, pengelompokkan berdasarkan negara. Untuk Indonesia, kode negaranya adalah ID. Kode negara ini berada di belakang TLD yang menandakan bahwa lembaga tersebut berada di negara Indonesia.

Berbeda dengan TLD yang menggunakan tiga huruf, kode yang menyusul ccTLD menggunakan dua huruf, yaitu: perusahaan adalah CO.ID, lembaga nirlaba adalah OR.ID, lembaga pendidikan adalah AC.ID, dan pemerintahan adalah GO.ID. Ada juga domain-domain tertentu yang berada di luar tata cara penamaan di atas, seperti: WEB.ID untuk situs web di Indonesia, dan DESA.ID untuk domain desa-desa di Indonesia.

Pengelola domain Indonesia adalah PANDI. Berbeda dengan TLD yang bisa dibeli sesuka hati, pembelian domain Indonesia mensyaratkan dokumen resmi. Untuk perusahaan dan lembaga harus menyertakan salinan akte pendirian, NPWP, dan KTP pembeli domain. Sedangkan untuk pemerintahan harus menyertakan dokumen resmi dari otoritas terkait.

Oleh karena itu, situs-situs yang berakhiran ID umumnya lebih terpercaya dibandingkan situs-situs yang menggunakan TLD. Kelebihan lainnya, kasus pengambilan domain sebuah lembaga atau perusahaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab minim terjadi. Lebih lanjut mengenai domain ID dan cara pembeliannya bisa dibaca di situs PANDI.ID.

Kembali ke cara membuat blog. Setelah memiliki hosting dan domain, si empunya bisa langsung memasang Content Management System (CMS) yang akan mempermudah penggunanya untuk mengelola konten dan tampilan blognya. Dalam hal ini, orang umumnya menggunakan WordPress. Pasalnya, CMS yang satu ini memiliki teknologi yang stabil, aman, dan mudah dioperasikan, bahkan oleh orang awam sekali pun.

Ada banyak keuntungan dari blog yang dibangun dengan membeli hosting dan domain sendiri. Salah satunya, kita bisa merancang tampilan blog sesuai dengan keinginan. Keuntungan lainnya, kita bisa memasukkan kode-kode khusus yang memberikan keuntungan profit, seperti memasang iklan.

Meskipun begitu, bagi saya, cara yang dipaparkan di atas tersebut cukup merepotkan. Setidaknya, ada tiga hal yang membuat repot ketika mengelola hosting dan domain sendiri. Kerepotan yang pertama, pemilik blog harus rajin-rajin memantau kerja blognya, khususnya dari segi sistem dan keamanan. Seringkali, bila tidak cakap mengelola sistemnya, blog kita terkena serangan peretas. Ujung-ujungnya, blog kita dimatikan oleh perusahaan penyedia layanan. Dampak paling ekstrimnya, blog kita hilang karena ulah si peretas.

Kerepotan yang kedua, kita harus rajin-rajin mengingat pembayaran tahunan untuk hosting dan domain kita. Bila tidak dibayar, ujung-ujungnya hosting dan domain kita hilang dalam semalam. Konten-konten yang sudah dipublikasikan di dalam blog bisa lenyap tak berbekas.

Sedangkan kerepotan yang ketiga, kita harus mempelajari banyak hal teknis di bidang pemrograman web dan jaringan. Apalagi bila terjadi masalah-masalah di luar kemampuan kita. Rasanya, bikin hidup kita hancur berantakan hanya untuk mengurusi blog yang tidak seberapa.

Oleh karena itu, saya sendiri memilih menempuh jalur lainnya untuk memiliki blog dengan nama domain sendiri. Bagi pengguna WordPress, perusahaan blog yang satu ini menyediakan berbagai layanan premium. Salah satu layanannya memungkinkan penggunanya untuk menyematkan domain sendiri ke blog yang sudah dimilikinya. Saya pribadi menggunakan jalur ini untuk YUDHAPS.ORG. Layanan premium WordPress sendiri bisa diakses di menu TOKO atau SHOP dalam deretan menu di dashboard.

Bagi saya, kelebihan layanan ini dibandingkan blog dengan hosting dan domain sendiri adalah terjamin konten-konten saya selama ini bila saya lupa memperpanjang domain. Konten-konten itu masih tetap aman di MYUDHAPS.WORDPRESS.COM. Selain itu, saya tidak perlu repot untuk mengurusi hal-hal yang bersifat teknis terkait sistem.

Meskipun begitu, layanan ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya, tampilan blog saya tidak bisa dirubah sesuai keinginan. Sebenarnya, WordPress sendiri menyediakan layanan agar penggunanya bisa merubah tampilan blognya di WordPress.com. Namun, layanan premium ini cukup mahal bagi saya saat ini. Terlebih lagi, saya memang pengguna yang lebih menitikberatkan konten dibandingkan tampilan.

Kelemahan lainnya, saya tidak bisa memasukkan layanan iklan semisal Google Adsense. Oleh karena itu, semua konten yang ada di blog saya ini tidak bisa dimonetisasi.

Selain WordPress, Blogspot juga menyediakan hal yang sama. Kelebihan dari layanan blog milik Google ini, penggunanya bisa merubah tampilan blog sesuka hati. Selain itu, pengguna juga bisa memasukkan layanan Google Adsense ke situsnya. Saya pribadi lebih cocok dengan layanan blog WordPress dibandingkan Blogspot milik Google. Hal inilah yang membuat saya tetap bertahan di WordPress.

Meskipun begitu, bagi saya, sebuah blog yang baik bukan dipandang dari nama domain atau layanan yang dipergunakan, melainkan konten yang disajikan. Bagi saya, blog yang baik adalah blog yang mampu menyajikan konten-konten yang orisinal dan baik bagi publik serta diperbaharui secara berkala. Bila sudah begitu, bukan lagi kita yang mencari pembaca, tetapi pembaca yang akan mencari-cari kita.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s