Sosok Istimewa di Balik AASC 2015


Sosok Istimewa AASC 2015 (Foto: Maringan, Arsip AASC 2015)

Sosok Istimewa AASC 2015 (Foto: Vania Febriyantie, Arsip AASC 2015)

Hari ini, di rumah yang tengah diguyur hujan dan dipeluk dingin Kota Bandung, saya iseng-iseng melihat arsip foto-foto Asian-African Students Conference (AASC) 2015. Di tengah-tengah kicauan kenangan, mata saya tiba-tiba tertuju ke sebuah foto hitam-putih. Bagi banyak orang, foto ini dan sosok di dalamnya tampak tidak istimewa. Namun, tidak bagi saya.

Di dalam foto tersebut, sesosok bertubuh besar tengah duduk di tempat pajangan bendera-bendera. Di belakangnya, berderet bendera negara-negara di Asia dan Afrika. Sedangkan di depan sosok tersebut, sebuah kursi dan bangku kosong dibiarkan tanpa penghuni. Di sepasang pintu di dekat meja, tertambat tulisan “Committee I”. Itu adalah ruang peserta komite I AASC 2015 bersidang.

Sosok tersebut seperti tengah merenungi sesuatu. Saya sendiri berusaha menebak-nebak isi pikiran beliau ketika foto tersebut diambil. Mendengarkan isi pembicaraan di sidang komite? Merenungi makna Asian-African Students Conference 2015? Atau mungkin sedang beristirahat sejenak setelah mengunjungi kelima ruang sidang lain sebelumnya?

Apa pun itu, satu hal yang pasti, sosok ini memiliki andil yang besar dalam membidani AASC 2015. Beliau benar-benar bekerja keras untuk mewujudkan konferensi mahasiswa Asia-Afrika kedua setelah 1956 ini. Sosoknya sangat bersahaja dan tipikal pemain belakang layar. Banyak orang pastinya merasakan karya dan kerja besarnya di Museum Konperensi Asia-Afrika, tanpa pernah mengenal sosoknya.

Beliau adalah Desmond Satria Andrian. Kang Desmond sendiri mulai turun tangan sejak AASC 2015 mulai mencari bentuknya. Salah satu buah pemikiran adalah tema konferensi ini, yaitu: Reinvigorating the Bandung Spirit: “Working Towards the Asian-African Youth Leadership”. Kemudian, tema ini beliau turunkan menjadi enam topik bahasan untuk masing-masing komite, yaitu: nilai budaya Asia-Afrika, pendidikan inklusif, sociopreneurship, media sebagai pilar demokrasi, open source untuk kemerdekaan digital, dan jejaring global.

Dalam teknis pelaksanaan, mahasiswa magister hubungan internasional Universitas Parahyangan ini yang memilih komponen paling penting AASC 2015, yaitu: presiden yang memimpin jalannya konferensi, dan sekjen yang menangani operasional keseluruhan konferensi.

Selama persiapan hingga hari H, kang Desmond berusaha keras untuk menjaga semua alur kerja kepanitiaan bekerja sesuai dengan rencana. Beliau membimbing kepanitiaan yang diisi oleh Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika, dan memberikan kebebasan panitia untuk berekspresi dan bereksplorasi. Tidak segan-segan, beliau juga memasang badan dari ancaman pengacau-pengacau berkedok pihak yang ingin berkontribusi.

Pada saat pelaksanaan, kang Desmond berjibaku untuk mensukseskan acara ini. Bahkan, ketika para panitia tidur di hotel sekitar jalan Braga pada hari H, beliau justru tidur di bawah meja kerjanya hanya dengan beralaskan spanduk bekas. Hal tersebut ditempuh alumni sastra Perancis Universitas Padjadjaran ini untuk memastikan panitia bekerja dengan maksimal dan beristirahat dengan optimal. Beruntung, tubuhnya cukup prima untuk menghalau dinginnya lantai dan udara malam Gedung Merdeka.

Beberapa masalah krusial pada saat pelaksanaan AASC 2015 dapat diselesaikan berkat campur tangannya. Misalnya saja, ketika ada ancaman untuk memboikot konferensi. Beliau yang bekerja keras untuk menjembatani proses tersebut, sehingga ancaman tersebut bisa diselesaikan dengan baik.

Pada sesi-sesi di setiap komite, kang Desmond banyak memantau jalannya persidangan. Beliau ingin memastikan bahwa seluruh proses persidangan bisa terlaksana dengan baik dan peserta sepakat untuk menyimpulkan communique akhir.

Tenang bagai samudera dan kokoh bagai gunung, begitulah kang Desmond, khususnya dalam penyelenggaraan AASC 2015. Banyak orang menilai bahwa beliau adalah sosok penjaga Api Bandung di Museum Konperensi Asia-Afrika. Api Bandung sendiri merupakan ruh dan semangat yang membangkitkan Sukarno dan pemimpin Asia-Afrika lainnya untuk melawan keterpenjaraan bangsa-bangsa kulit berwarna.

Sebagaimana Api Bandung, sang penjaga pun menggelorakan ruh dan semangat pembebasan tersebut. Ruh dan semangat tersebut dirambatkannya kepada setiap orang yang memiliki sumbu untuk Api Bandung menyala dalam dirinya. Api Bandung ini pula yang beliau tiupkan kepada para pemuda Asia-Afrika untuk menggelorakan semangat pembebasan dan perubahan bangsa kulit berwarna.

Bagi kang Desmond, sang penjaga Api Bandung, 1 Mei merupakan hari sakral. Saat itu, seluruh dunia memperingati hari buruh sebagai simbol perubahan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Pada hari itu juga, secara kebetulan, Final Communique AASC 2015 berhasil dirumuskan dan ditandatangani oleh tiga perwakilan pemimpin muda Asia-Afrika.

Alam semesta seperti mensiratkan bahwa AASC 2015 memang harus melalui sentuhan tangan dan pikiran kang Desmond. Sebuah sentuhan tangan dan pikiran yang selalu menginspirasi orang untuk melakukan perubahan positif. Semoga, sentuhan tangan dan pikiran ini juga menginspirasi para pemimpin muda Asia-Afrika di AASC 2015 untuk berkontribusi secara positif kepada bangsanya, minimal untuk lingkungan sekitarnya masing-masing.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s