Satu Rumpun, Satu Cinta, Beda Negara


Jalan berbatu yang menjadi batas negara antara Indonesia ( kiri) dan Timor Leste (kanan) di Haumeni Ana, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Yudha PS)

Rasanya, tidak ada yang istimewa dari sebuah jalan yang melintang di desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Sama seperti di desa pelosok lainnya, jalan selebar tiga mobil itu hanya menyisakan tanah dan batu. Jauh dari aspal dan label “jalan mulus”.

Namun, jangan pernah sekali-kali mencoba menyeberang dan menginjakkan kaki di tanah sebelah utaranya. Bisa-bisa, Anda ditangkap oleh sejumlah tentara. Pasalnya, tanah yang Anda injak bukan lagi wilayah Indonesia, tetapi sudah masuk wilayah kedaulatan Timor Leste.

Jalan ini menjadi saksi bisu tentang interaksi sebuah masyarakat Timor yang satu, tetapi terpisah oleh batas administratif negara. Disebut satu, masyarakat di kedua sisi batas negara memang memiliki rumpun yang sama. Selain bentuk fisik yang sama, mereka juga mewarisi budaya serupa dan berkomunikasi dengan satu bahasa, yaitu bahasa Dawan.

Kisah terpisahnya masyarakat serumpun menjadi dua negara berbeda berpangkal dari kekuasaan penjajah Eropa di negeri Timor. Saat itu, Portugis menguasai wilayah yang kini menjadi Timor Leste. Adapun Belanda, daerah jajahannya adalah wilayah Indonesia saat ini. Setelah Indonesia merdeka dan Portugis melepaskan Timor Leste, bangsa Timor terbelah menjadi dua negara berbeda.

Meskipun begitu, perasaan sebagai masyarakat yang memiliki satu rumpun masih terpatri dalam diri masyarakatnya. Bahkan, “rasa” tersebut salah satunya diejawantahkan dalam cinta yang berlanjut ke mahligai pernikahan. Tidak hanya di Haumeni Ana. Peristiwa ini kerap terjadi di hampir seluruh desa perbatasan di kedua negara.

Kisah cinta warga kedua negara, juga terjadi di desa Nilulat. Nyonya Benediktus Lake, istri Kepala Desa Nilulat, mengisahkan bahwa banyak masyarakat di Desa Nilulat yang memiliki istri atau suami berkewarganegaraan Timor Leste. Desa Nilulat sendiri berbatasan langsung dengan District Oekusi, Timor Leste. Perbatasannya sendiri ditandai dengan sebuah bukit di sebelah utara desa. Pasangan beda negara sendiri, kisah Nyonya Lake, umumnya menikah tidak memikirkan administrasi kenegaraan. “Mereka (pasangan beda negara) menikah adat saja,” ungkapnya.

Hal yang sama terjadi juga di Desa Kifu, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang. Di desa ini, batas negara ditandai dengan sebuah sungai selebar 20 meter. Adi Radja, pendamping PNPM di desa Kifu mengisahkan kawannya memiliki istri warga negara Timor Leste.

Teman Adi sendiri bermukim di tepi sungai di wilayah Indonesia. Sedangkan istrinya dan mertuanya berada di tepi sungai di teritori Timor Leste. Menariknya, mereka tinggal di negaranya masing-masing pada siang hari. “Kalau malam, baru lah mereka saling bertemu,” kisah Adi.

Kisah cinta satu rumpun dan satu negara, barangkali sudah menjadi barang klasik. Kini, dengan semangat tradisi dan adat, masyarakat Timor justru membuktikan bahwa perasaan satu rumpun, terlebih perasaan satu cinta, bisa menerobos batas-batas negara.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s