Tiga Kata untuk Bandung Philharmonic: Keren dan Bikin Shock


Bandung Philharmonic, ilustrasi. (Foto: bandungphilharmonic.web.id)

Sejak lama, saya penasaran dengan musik klasik. Beberapa kali mencoba mengunduh dan mendengarkan lagunya, tetap saja saya tidak kunjung dapat menikmatinya. Bahkan, saya merasa bosan untuk mendengarkannya. “Kamu harus mencoba menyaksikannya langsung dan merasakan bagaimana konduktor memimpin sebuah orkestra musik klasik, baru kamu akan merasakan kenikmatan mendengarkan musik klasik,” begitu petuah Sang Pakar, beberapa tahun lalu. Hal inilah yang saya coba buktikan pada Sabtu, 23 April 2016 lalu.

Di tengah-tengah kesibukan membantu sebuah event organizer di sebuah hotel di jalan Lembong, saya menyempatkan “kabur” sebentar ke jalan Asia-Afrika yang berjarak 10 menit dengan berjalan kaki. Kebetulan, saya mendapatkan undangan untuk menonton konser Bandung Philharmonic Orchestra di Gedung Merdeka Bandung. Konser bertajuk “Heroes” ini merupakan salah satu rangkaian dari peringatan HUT Konferensi Asia-Afrika ke-61 tahun yang digelar atas kerjasama Museum KAA dan Bandung Philharmonic.

Menginjak pelataran Gedung Merdeka, Logika Anbiya, Koordinator Sahabat MKAA, langsung menyambut saya. Logika sendiri merupakan sosok yang menginformasikan konser ini sekaligus mengundang serta menyediakan sebuah tiket untuk saya bisa hadir dan menikmati konsernya. Tanpa membuang waktu, saya langsung memasuki ruang utama Gedung Merdeka. Di dalamnya, sudah ada lebih dari 60 pemain Bandung Philharmonic tengah melakukan pemanasan di area pertunjukkan, lengkap dengan alat musiknya masing-masing.

Pada konser kali ini, para pemain Bandung Philharmonic tidak berada di atas panggung. Mereka berada di lantai yang sama dengan para penonton. Kondisi ini membuat saya dan penonton lainnya kesulitan untuk melihat aksi para pemain Bandung Philharmonic. Namun, apa boleh buat. Dikasih tiket gratis saja sudah untung. Tidak perlu lah meminta terlalu banyak fitur. Ahahaha.

Sepuluh menit sebelum pertunjukkan, pintu ruang utama segera ditutup. Pembawa acara dengan segera menginformasikan bahwa konser akan segera dimulai. Konser musik klasik sendiri umumnya mensyaratkan penontonnya untuk disiplin menonton. Para penonton langsung disuguhi beberapa larangan, antara lain: tidak diperkenankan untuk mendokumentasikan pertunjukkan dalam bentuk foto dan video, serta tidak boleh bertepuk tangan dan membuat kegaduhan selama sebuah lagu dimainkan.

Heroes by Bandung Philharmonic 23 April 2016

A post shared by Bandung Philharmonic Official (@bandungphil) on

Tepat jam 19.30 WIB, sang konduktor Robert Nodling memasuki ruang pertunjukkan. Sebagai pembuka, tim orkestra memainkan lagu Indonesia Raya. Harmoni alat musik orkestra langsung menggema ke seluruh ruangan yang membuat suasana menjadi begitu khidmat. Bahkan, sekujur tubuh saya langsung merinding mendengar permainan orkestra lagu Indonesia Raya di gedung bersejarah ini.

Menariknya, Bandung Philharmonic sendiri mengusung musik kamar. Artinya, mereka tidak menggunakan alat pengeras suara elektronik ketika bermain. Dipadukan dengan kualitas akustik Gedung Merdeka yang sangat baik, membuat alunan suara orkestra Bandung Philharmonic benar-benar asli, enak didengar, dan megah. Sayangnya, ruangan lampu selama pertunjukkan tidak dipadamkan. Selain itu, pihak penyelenggara tidak menyediakan lampu sorot tambahan. Hasilnya, secara visual konser ini begitu datar dan kurang elegan.

Sebelum memainkan lagu pertama, Direktur Program Edukasi Bandung Philharmonic, Michael Hall, memberikan sambutan pembuka. Beliau sendiri menceritakan bahwa konser ini ditujukkan untuk para pahlawan. Mereka adalah orang-orang yang mampu mengambil tindakan secara berani di tengah kekacauan.

Membuka babak pertama, tim Bandung Philharmonic memainkan lagu Prelude dari Die Meistersinger von Nürnberg karya Richard Wagner (1813-1883). Karya ini merupakan pembuka dari opera berjudul Meistersinger von Nürnberg. Meistersinger sendiri merupakan kumpulan penyanyi amatir di kota Nürnberg. Mereka kemudian merumuskan sistem tata cara penulisan musik yang teratur.

Bandung Philharmonic sendiri menyuguhkan lagu ini dengan harapan mereka mampu mengubah wajah Bandung dengan komitmen, kerja keras, dan semangat tinggi. Lagu ini juga seperti mewakili moto mereka bahwa, “With an orchestra, you are building better citizens. Better citizens for the community.” Membacanya, saya langsung berkomentar, “Iya, gitu? Gimana caranya?” Bagi yang mengetahui jawabannya, kasih tahu, yah.

Lagu kedua, Bandung Philharmonic memainkan Serenade untuk Alat Gesek karya Edward Elgar (1857 – 1934). Langgam ini terdiri dari tiga bagian, yaitu: Allegro piacevole, Larghetto, dan Allegretto. Karya ini selesai ditulis pada 1892 dan pertama ditampilkan oleh tim orkes gesek amatir yang seluruh anggotanya wanita. Kedua lagu ini diselesaikan dalam kurun waktu sekitar 30 menit, dan penonton dipersilahkan untuk beristirahat.

Pada titik ini, saya belum menikmati betul suguhan Bandung Philharmonic. Jujur, ini musik yang baru bagi saya. Beruntung, seorang kawan di sebelah saya menceritakan perasaannya ketika mendengarkan lantunan lagu-lagu Bandung Philharmonic. Hal ini membuat saya mulai mencoba meraba-raba cara menikmati suguhan musik klasik.

Selain itu, paparan di buku yang disuguhkan kepada para hadirin juga tidak cukup untuk menggambarkan lagu-lagu yang dimainkan, bahkan masih jauh dari layak bila targetnya adalah mengedukasi masyarakat. Tentunya, inilah tantangan Bandung Philharmonic ke depannya, yaitu: mengedukasi masyarakat Bandung tentang musik klasik dan orkestra. Harapannya, edukasi ini mampu mewujudkan moto Bandung Philharmonic dalam konser ini, yaitu: menjadikan orkestra sebagai sarana untuk membangun warga yang lebih baik.

Salah satu bintang konser Heroes : Marisa Sharon Hartanto Utama

A post shared by Bandung Philharmonic Official (@bandungphil) on

Menginjak babak kedua, Bandung Philharmonic menyuguhkan lagu berjudul Rumbles to the Pas: Purcell Revisited. Lagu ini ditulis oleh seorang musisi muda Indonesia bernama Marisa Sharon Hartanto Utama. Marisa menulisnya ketika menyelesaikan pendidikan Master of Music di London pada 2012 silam. Pertama kali ditampilkan oleh BBC Concert Orchestra di Roundhouse, London, dalam konser bertajuk “Baroque Remixed” pada Maret 2013.

Babak kedua kemudian ditutup oleh Simfoni No. 3, Op. 55 berjudul “Eroica” karya seniman besar Ludwid van Beethoven (1770 – 1827). Karya ini ditulis untuk menghormati Napoleon Bonaparte yang dinilai membangun republik baru yang bebas. Awalnya, lagu ini mencantumkan nama “Bonaparte” dalam judulnya. Namun, Beethoven mencabut nama tersebut karena marah usai mendengarkan kabar bahwa Napoleon mendeklarasikan diriya sebagai kaisar. Akhirnya, dia mengganti judulnya dengan “Eroica” yang berarti “Pahlawan”. Dalam konser ini, Bandung Philharmonic memainkan empat bagian lagu Eroica, yaitu: Allegro con brio, Marcia funebre: Adagio assai, Scherzo: Allegro vivace, dan Finale: Allegro molto.

Sama seperti babak pertama, Bandung Philharmonic juga menyuguhkan dua lagu pada babak kedua. Meskipun begitu, lagu Eroica sendiri terdiri dari 4 bagian yang masing-masing bagiannya berdurasi sangat panjang. Untuk babak kedua sendiri, total waktu yang dihabiskan mencapai 90 menit, atau 1,5 jam.

Selesai Bandung Philharmonic memainkan lagu terakhir, saya langsung berdiri dan bertepuk tangan dengan gembira. Jujur, musik klasik adalah musik yang berat bagi saya. Sepanjang babak kedua, saya berusaha menikmati suguhan musik sembari menunggu-nunggu konser ini selesai. Maklum, saya sendiri sedang dalam status “pelarian” dan harus kembali secepatnya. Oleh karena itu, selesai konser berakhir, saya langsung gembira dan langsung kembali ke Lembong.

Sepanjang konser, saya sendiri mengamini posisi konduktor yang menentukan kekhidmatan pertunjukkan musik klasik. Saya bisa merasakan sendiri nuansa yang dibangun oleh konduktor ketika tim orkestra memainkan lagu demi lagu. Dia seperti sebuah jembatan yang mengantarkan pesan lagu dari penulis lagu, tim orkestra, hingga ke penonton. Sang konduktor memastikan bahwa “rasa” yang dibangun tim orkestranya sesuai dengan “rasa” yang dibangun oleh penulis lagu, dan sampai kepada penontonnya dengan “rasa” yang sama.

Sang Konduktor, Robert Nodling, dalam paparannya seusai melantunkan lagu pertama di babak kedua, menyampaikan bahwa musik adalah urusan hati. “Harmoni dan melodi tidak akan terwujud tanpa gairah (passion) dan hati,” ungkapnya. Hal inilah yang menjadi kunci di balik permainan Bandung Philharmonic yang menawan malam itu.

Sebagai orang yang awam dengan musik klasik, satu hal yang pelajari dari konser malam itu adalah struktur musik klasik yang berbeda dengan musik genre lainnya. Mendengarkan musik klasik seperti mendengar seseorang yang tengah mengisahkan sebuah cerita. Di dalamnya terdapat awal cerita, menaik menuju puncak, kemudian menurun dan diakhiri penutup.

Ciri khas lainnya, antara satu bagian dengan bagian lainnya tidak ada perulangan komposisi. Masing-masing komposisi memainkan melodi dan harmoni yang unik dan berbeda satu sama lain. Hal ini berbeda dengan musik populer yang strukturnya sederhana, mudah ditebak, dan banyak mengalami perulangan melodi. Tidak heran, ketika saya mendengarkan musik klasik, saya langsung mengalami “shock genre” alias keterkejutan akibat perbedaan genre lagu yang terlalu ekstrim.

Bagi saya yang kerap mendengarkan musik populer, mendengarkan musik klasik sama seperti mendengarkan novel ketika kita terbiasa membaca cerpen. Tentunya, kita bisa lebih mudah mencerna cerpen yang singkat dan habis sekali duduk. Sedangkan novel, kita harus membacanya dalam jangka waktu yang lama dengan energi yang cukup besar. Mereka yang terbiasa membaca novel, tentu saja mudah melahap dan mencernanya.

Begitu pun ketika mendengarkan musik klasik. Saya yang tidak terbiasa harus mengeluarkan energi besar untuk menikmati dan mencernanya. Saya berusaha untuk memahami bagian demi bagian dan mendapatkan rasa yang hendak disampaikan oleh penulis lagu dan tim orkestra. Usaha ini baru saya sadari ketika Bandung Philharmonic memainkan lagu Indonesia ciptaan Ibu Sud bertajuk “Tanak Airku”. Pada lagu penutup konser tersebut, energi yang saya keluarkan untuk mencerna lagu tersebut jauh lebih kecil dibandingkan energi untuk lagu-lagu yang panjang dan tidak saya kenal.

Meskipun begitu, sajian klasik dari Bandung Philharmonic membuat saya semakin tertarik dengan musik klasik. Saya jadi berencana untuk datang kembali ke konser Bandung Philharmonic berikutnya. Semoga ada kesempatan, dan tentunya ada tiket gratis lagi. Hehehe.***

Iklan

One thought on “Tiga Kata untuk Bandung Philharmonic: Keren dan Bikin Shock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s