Ketulusan Itu Berjuluk Masyarakat Desa


Anak-anak desa Nilulat di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Yudha PS)

Suasana jenuh segera saja menyergap saya. Di tengah siang yang terik di bumi Nusa Tenggara Timur, kami masih harus menempuh satu jam perjalanan menggunakan mobil untuk sampai ke tujuan. Badan yang lelah setelah terbang dari Jakarta ditambah perut yang menggerutu meminta makan siang membuat suasana di dalam kendaraan menjadi semakin menjemukan.

“Selamat siang,” tiba-tiba serombongan siswa sekolah menengah pertama menyapa dengan penuh semangat. Seketika, lamunan saya buyar. Mendengarnya, saya bukan segera menyapa balik, tetapi malah terheran-heran. “Para siswa tersebut tidak mengenal saya, tetapi kenapa harus menyapa saya?” tanya saya dalam hati.

“Inilah (menyapa orang) kebiasaan orang-orang desa di Nusa Tenggara Timur,” ungkap Rongki, supir mobil kami, menjawab raut wajah saya yang terheran-heran. “Mereka sangat ramah dan terbuka kepada siapa pun, termasuk pendatang,” kisahnya lagi.

“Selamat siang, kakak,” tiba-tiba sapaan itu terdengar kembali dari luar mobil. Kali ini, segera saya menjawabnya sembari melambaikan tangan dan melemparkan senyum. Hal serupa saya lakukan setiap kali sapaan itu dilemparkan kepada saya. Bahkan, tidak jarang saya yang menyapa terlebih dahulu ketika mobil menahan lajunya saat melewati segerombolan masyarakat desa atau pelajar yang baru pulang sekolah.

Setibanya di desa, sikap ramah dan terbuka masyarakatnya semakin terasa dan tampak. Mereka tidak segan-segan menyapa saya terlebih dahulu sembari mengulurkan tangan dan berjabat tangan. Sambutan ini disertai dengan senyumnya yang lebar hingga giginya tampak. Dengan ucapan yang lembut, tidak jarang mereka bertanya tentang saya dan atribut yang menyertainya, seperti kabar, tempat tinggal, dan kesan-kesan berada di desa mereka.

“Senyum orang-orang desa itu tulus, puas saya lihatnya,” ungkap Adi Radja, pendamping kunjungan saya ke desa-desa di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. “Rasanya, hati saya tenang bila berada di desa,” lanjutnya.

Adi sendiri pernah tinggal di beberapa kota besar di Indonesia. Menurutnya, berbeda dengan masyarakat desa, Adi menilai senyum masyarakat kota tidak tulus dan terkesan munafik. Seringkali, masyarakat kota tersenyum hanya kepada orang-orang yang mereka sukai atau butuhkan. Atau bahkan hanya untuk formalitas semata. Sisanya, tidak jarang mulut ketus yang mereka pasang kepada orang-orang yang tidak mereka sukai atau kenal.

Ketulusan inilah yang sepertinya membuat masyarakat desa tetap guyub. Dengan hati yang tulus, mereka membangun desa secara gotong royong dan tanpa pamrih. Hati yang tulus juga merupakan modal utama untuk merajut sikap ramah dan toleran, yang kemudian menjadi pondasi kedamaian dan ketenangan masyarakat desa. Ketulusan hati inilah yang hilang dari mayoritas kota, bahkan mayoritas Indonesia. Dalam hal ini, belajar tulus lah dari masyarakat desa.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s