Semoga, Dia Selalu Bahagia…


Foto: i.huffpost.com

Seorang anak dalam becak tiba-tiba saja menarik perhatian saya siang itu. Siswa berpakaian sekolah dasar tersebut tengah asik bercanda dengan wanita paruh baya di sebelahnya, di dalam becak yang tengah melaju perlahan di jalan Ahmad Yani. Matahari yang hampir mencapai puncak dan hiruk pikuk lalu lintas tidak mengurangi kehangatan interaksi di antara mereka berdua.

Perlahan tetapi pasti, becak tersebut semakin mendekat ke arah saya yang tengah menunggu bus kota. Semakin dekat, semakin jelas saya melihat mereka berdua, semakin kuat juga saya memperhatikan si anak tersebut.

Ketika jaraknya semakin dekat, perhatian saya berpindah dari wajah sumringah si anak ke telinganya. Tampak sebuah kabel hitam melilit di sekitar telinga si anak. Merasa aneh dengan pemandangan tersebut, fokus saya semakin tertuju kepada telinga si anak.

Ketika jaraknya cukup dekat, saya tersontak seketika. Kabel hitam tersebut ternyata bagian dari alat bantu dengar si anak. Yah, si anak berpakaian putih-merah itu hidup dengan gangguan pendengaran.

Kebahagiaan melihat interaksi mereka berdua tiba-tiba saja lenyap seketika. Bahkan, ketika suara mereka berdua tiba di telinga saya. Si wanita bertanya kepada si anak dengan suara yang keras dan tempo yang pelan. “Ini apa? Ini apa?” tanya wanita berkerudung biru tersebut kepada si anak sambil menunjuk bagian becaknya. Si anak merespon dengan suara mirip berteriak. Namun, wajahnya tetap sumringah dan tertawa, seperti tengah diajak bercanda.

Barangkali, bagi si anak, perjalanan di becak bersama wanita tersebut merupakan salah satu bagian paling bahagia dalam hidupnya. Mungkin, si anak memang bahagia setiap waktu. Hanya saja, pikiran saya terlalu iba melihat kondisi si anak. Terlalu iba memikirkan masa depan si anak yang kebahagiannya akan terkuras seiring munculnya kesadaran bahwa dirinya berbeda dari orang kebanyakan.

Saya jadi berpikir, barangkali kebahagiaan itu bukan ketika hidup kita lengkap. Namun, ketika kita bersyukur atas apa yang kita miliki, meskipun bagi kebanyakan orang itu adalah sebuah kekurangan. Semoga, si anak juga tetap bersyukur dan bahagia sepanjang usianya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s