Menulis? Mulailah dengan 5W+1H dan KEPO


Foto: quickanddirtytips.com

“Mengapa harus mengutip ide atau pernyataan orang untuk mendukung ide kita dalam aktivitas ilmiah?” Pertanyaan ini kerap hinggap di kepala mereka yang tengah dilanda “galau” ketika berhadapan dengan skripsi. Pertanyaan ini juga kerap saya temukan di diri mereka yang berpandangan bahwa setiap orang berhak mengemukakan gagasan orisinalnya tanpa diintervensi jawaban, “Ada gagasan orang lain yang sama persis dengan gagasannya”. Dan pertanyaan ini pula yang menjadi bahasan rapat Klub Studi Asia-Afrika kemarin. Beruntung, jawabannya muncul dari mereka juga secara tidak sengaja.

Alkisah, seorang kawan sempat menghebohkan jurusan perkuliahannya dengan paparan ilmiah seekor penyu. Padahal, kawan saya ini adalah anak Sastra Inggris yang jauh dari urusan hewan, apalagi penyu. Menariknya, kawan saya ini getol menjawab pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Seringkali, dia menghabiskan waktu berpekan-pekan untuk berselancar di internet demi memuaskan hasrat keingintahuannya tersebut.

Pada satu waktu, dia penasaran dengan penyu dan hendak menjawab pertanyaan, “Apa itu penyu?” Pertanyaan ini membawanya ke dunia maya dan mengumpulkan berbagai tulisan tentang penyu. Mulai dari tulisan populer sampai jurnal ilmiah tentang penyu dilahapnya habis-habisan.

Setelah beberapa pekan, akhirnya teman saya itu terpuaskan hasratnya untuk menjawab pertanyaan, “Apa itu penyu?” Pada saat yang sama, seorang kawan meminta teman saya itu untuk mengunduhkan contoh-contoh dokumen dari internet. Dengan senang hati, teman saya itu melakukannya dan menyalinkannya ke USB Disk. Secara tidak sadar, teman saya tidak hanya menyalinkan dokumen yang dibutuhkan kawannya tersebut, tetapi juga tulisan tentang penyu.

Sang kawan kemudian bengong. “Saya minta contoh dokumen, tapi dikasihnya tulisan tentang penyu?” pikirnya dalam hati. Namun, karena tidak jua menemukan contoh dokumen yang diminta, kawan saya ini juga membaca tulisan-tulisan tentang penyu tersebut. Tidak hanya itu saja. Sang kawan pun menyebarkan penyu-penyu tersebut ke kelompok diskusinya melalui sosial media dan layanan perbincangan online. Hasilnya, jurusan pun heboh mendiskusikan tentang penyu.

Bukan penyu yang menjawab pertanyaan yang saya paparkan di paragraf awal. Namun, proses mencari penyu inilah yang menurut saya bisa menjawab pertanyaan, “Mengapa kita harus mengutip ide atau pernyataan orang lain untuk mendukung ide kita dalam aktivitas ilmiah?”

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sekarang mari kita jawab, apa yang akan teman saya ceritakan bila diminta menceritakan tentang penyu sebelum dia membaca tulisan dan jurnal ilmiah tentang penyu? Tidak ada. Teman saya tentunya akan bengong dan mengaku tidak tahu apa-apa tentang penyu.

Namun, beda ceritanya bila saya menanyakan perihal penyu ketika teman saya sudah membaca tulisan dan jurnal ilmiah tentang penyu. Dia akan menjawab secara panjang dikali lebar dikali tinggi tentang reptil laut tersebut. Tentunya jawabannya ini akan banyak dibumbui berbagai kutipan dan paparan fakta dari tulisan dan jurnal ilmiah yang dibacanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Benarkah kesimpulan dia tentang penyu tersebut?” Untuk mengetahuinya, kita bisa menelusuri dari sumber yang dia baca. Bila dia membaca hanya dari Wikipedia, tentunya kesimpulannya tentang penyu patut kita pertanyakan. Namun, bila dia menyimpulkan setelah membaca tulisan dan jurnal dari lembaga penyelamatan penyu terkemuka, tentunya kesimpulannya bisa mendekati kebenaran.

Mengenai hal ini, saya jadi teringat tentang lingkaran narasumber dalam bidang yang saya geluti, jurnalistik. Lingkaran narasumber sendiri merupakan tingkatan-tingkatan narasumber berdasarkan kualitas informasinya. Semakin dekat dengan sumber berita, maka pernyataannya semakin mendekati kebenaran.

Sebagai contoh, ada tabrakan antara bebek dan sepeda motor yang menewaskan pengendara sepeda motor. Informasi tentang peristiwa tersebut akan semakin akurat dan mendekati kebenaran pada narasumber yang melihat langsung kejadian tersebut.

Informasi akan semakin terdistorsi dan jauh dari kebenaran seiring semakin jauhnya narasumber dari sumber informasi. Dalam hal ini, tentunya, narasumber yang melihat langsung kejadiannya lebih akurat informasinya dibandingkan dengan narasumber ketiga, misalnya, yang mendapatkan informasinya dari narasumber kedua, yang dia pun hanya mendengarkan informasinya dari narasumber pertama.

Mengenai hal ini, saya jadi teringat permainan Pesan Berantai ketika SMA dulu. Kala itu, satu kelompok dibagi menjadi 5 orang. Orang pertama akan diberikan sebuah kalimat yang harus dihafal dalam jangka waktu 1 menit. Setelahnya, orang pertama tersebut harus memberitahukan pesannya kepada orang kedua dalam jangka waktu 1 menit. Pun seterusnya hingga orang kelima. Untuk menentukan kelompok pemenang, wasit akan menilai keutuhan pesan yang disampaikan oleh orang kelima.

Kembali ke penyu, eh, aktivitas ilmiah. Kutipan ide atau pernyataan seseorang diperlukan untuk menilai tingkat akurasi jawaban dari sebuah pertanyaan penelitian. Bila dia mampu menunjukkan bukti-bukti dari “narasumber” yang diakui, maka gagasannya dinilai layak secara akademis.

Oleh karena itu, fokeus seseorang yang hendak melakukan aktivitas ilmiah adalah membuat pertanyaan, kemudian mencari jawabannya dari berbagai literasi. Bukan justru mengeluh karena dipatok harus mengutip sekian ide atau pernyataan. Dalam hal ini, 5W+1H adalah alat yang mumpuni untuk membangun pertanyaan tersebut. Adapun jawabannya, tetaplah KEPO, sebagaimana seorang jurnalis melakukannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s