“Menjadi Petani”


Siluet petani. (Foto: woroworonegoro.wordpress.com)

Setelah Asian-African Students Conference (AASC) 2015 lalu, saya sempat ditanya oleh President of Conference tentang aktivitas setelah konferensi mahasiswa kulit berwarna kedua tersebut. “Saya mau kembali menjadi petani,” begitu jawab saya tanpa sadar, dan tanpa tahu alasannya.

Kini, setelah berbulan-bulan momen tersebut terlewat, saya masih memikirkan tentang “menjadi petani”. Tentunya, saya tidak berniat untuk memanggul pacul dan pergi ke sawah untuk menanam padi. Namun, rasanya masih ada makna yang harus saya singkap tentang “menjadi petani”.

Lama saya termenung, akhirnya pikiran saya terbang ke George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Sosok Washington sangat legendaris di Negeri Paman Sam. Salah satu yang membuatnya banyak dipuja oleh warga Amerika sampai saat ini adalah tradisi masa kepresidenan.

George Washington memutuskan untuk berhenti menjadi presiden setelah 2 periode menjabat, atau sekitar 8 tahun. Tradisi inilah yang kemudian diteruskan oleh pemerintah Amerika, sampai saat ini. Adapun Washington sendiri memilih untuk menghabiskan masa pensiunnya sebagai petani. Meskipun kemudian presiden berikutnya memintanya menjadi jenderal, dan beliau bersedia, hingga akhir hayatnya.

Kisah ini begitu membekas ketika saya mendengarnya di Amerika pada awal 2013 lalu. Hal ini membuat saya begitu mengagumi sosok George Washington yang begitu sederhana dan berseloroh untuk mengikut jejaknya kelak: mencukupkan sebuah amanah dan kembali menjadi warga biasa, atau mungkin menjadi petani.

“Menjadi petani”, rasanya makna ini jauh dari profesi petani ketika saya renungkan kemudian. Terlebih, ketika saya mengalami sebuah peristiwa yang cukup mengguncang sehari sebelum helaran AASC 2015 digelar.

“Menjadi petani adalah rela berkorban untuk orang lain,” begitu kemudian jawaban itu terucap di tengah alunan lagu “Indonesia Raya”. Seorang petani, secara tulus ikhlas membenamkan dirinya dalam lumpur tanah yang berbau busuk. Dia membajaknya, mencangkulnya, dan memupukinya agar sebuah tanaman padi rela untuk tumbuh di atasnya.

Ketika sebuah tanaman padi “resmi” menempati barisannya, petani berjuang keras untuk menjaga dan memeliharanya agar tetap hidup dengan cinta dan kasih sayang. Petani senantiasa mencukupkan airnya, menambahkan unsur haranya, membebaskannya dari rumput liat yang mengganggu, dan menjauhkannya dari hama tanaman padi.

Padi menguning dan ulirnya terisi beras. Petani dengan bermandi peluh kemudian memanennya. Petani dengan begitu sabar merontokkan bulirnya, menjemur gabahnya, dan memisahkan beras dari bungkusnya. Setelahnya, beras dibawa ke masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan mereka.

Sedangkan petani, kembali melanjutkan rutinitasnya “mengasuh” padi-padi lainnya dengan tulus ikhlas, penuh perjuangan keras berbalut cinta dan kasih sayang, serta dilengkapi kesabaran. Meski kehidupannya selalu dekat dengan resiko dan jauh dari nyaman, tetapi dia tetap melakukannya dan berketetapan “menjadi petani”. Bukan hanya itu pilihannya, tetapi juga jalan hidupnya.

“Menjadi petani”, rasanya itulah yang saya pilih kini. Setelah ajang besar itu lewat, saya kembali memulai siklus kehidupan yang kecil dan sunyi. Mulai kembali membajak sawah, menyemai benih, menanam bibit, menjaga dan memelihara tanaman padi agar terus tumbuh, memanen berasnya, serta mempersembahkannya untuk kebaikan orang banyak. {*}

One thought on ““Menjadi Petani”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s