Kembali Belajar Fotografi


Foto Tol Cipali yang saya potret selepas maghrib di Jatiwangi, Majalengka. (Foto: Yudha PS)

Matahari baru saja turun ke peraduan 15 menit yang lalu. Namun, saya tetap bertahan di jembatan penyeberangan Tol Cipali di Jatiwangi, Majalengka. Jembatan penyeberangan tersebut terletak di tengah sawah yang tanpa penerangan satu pun. Praktis, ketika matahari terbenam, saya diliputi oleh malam yang gelap gulita.

Tentunya, saya dipenuhi oleh rasa was-was yang sangat besar, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada diri saya. Dalam keadaan gelap tersebut, bisa saja saya mengalami aksi kejahatan. Meskipun begitu, rasa was-was tersebut kalah bersaing dengan rasa penasaran saya untuk memotret arus mudik selepas maghrib di tol Cipali.

Malam semakin larut saja, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Kamera saku Canon Ixus 115 saya tanpa henti mengambil foto demi foto yang mengabadikan kepadatan arus mudik selepas Idul Fitri 1436H tersebut. Foto dengan hasil terbaik, itulah yang ingin saya dapatkan.

Keadaan cahaya sudah sangat minim kala itu. Saya menggunakan mode Long Shutter di kamera dengan lama bukaan mencapai 15 detik. Kamera pun saya taruh di pinggiran jembatan agar lebih stabil dan menghindari guncangan ketika proses pengambilan gambar. Hasilnya, sesuai harapan: garis cahaya lampu mobil yang melintasi jalan tol Cipali dan dilatari oleh langit biru lengkap dengan bintang dan bulan sabit. Puas dengan hasil tersebut, saya langsung mengambil motor, tancap gas, dan pulang ke rumah orang tua yang jaraknya sekitar 2-3 Kilometer dari tempat pengambilan gambar.

Tekad saya untuk mengambil gambar dengan resiko yang cukup besar tersebut bisa dibilang tidak lumrah untuk saat ini. Pasalnya, selama memiliki kamera saku tersebut selama kurun waktu 3 tahun terakhir, saya termasuk orang yang biasa-biasa saja dalam menggunakannya. Kamera umumnya hanya saya gunakan untuk mendokumentasikan acara-acara yang cukup istimewa, seperti pernikahan, seminar, rapat, atau pun pelatihan. Selebihnya, jarang sekali saya gunakan.

Hal ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan masa-masa 4-7 tahun lalu. Ketika itu, saya kerap berburu foto dengan menggunakan kamera semi-SLR atau D-SLR milik teman. Mulai dari Dago Pakar di Bandung Utara sampai Kawah Putih di Bandung Selatan pernah saya jajaki dalam rangka belajar memotret. Bahkan, saya kerap ke pasar-pasar tradisional pada tengah malam hanya untuk memotret. Hasilnya, tidak terlalu buruk dan bisalah masuk dalam kategori “lumayan”.

Ketika masih muda di Kawah Putih, Ciwidey, Bandung, dengan kamera pinjaman. (Foto: Bagus RM)

Kebiasaan berburu foto tersebut ternyata mulai luntur justru setelah saya memiliki kamera saku sendiri. Barangkali, karena biasa memegang kamera semi-SLR dan D-SLR, membuat saya tidak banyak berkutik ketika “bersenjatakan” kamera saku.

Salah satunya berkaitan dengan perbesaran gambar. Dengan menggunakan semi-SLR, saya bisa melakukan perbesaran hingga 30 kali. Fitur ini membuat saya bisa menangkap objek yang jauh atau pun melakukan perbesaran hingga mampu mengambil detil sebuah objek. Dengan kamera saku? Saya nyaris tidak bisa berkutik dengan perbesaran maksimal hanya 5 kali.

Isu lainnya mengenai ketajaman gambar dan keterbatasan cahaya. Kamera semi-SLR dan D-SLR mampu menghasilkan gambar yang tajam dan bergerak luwes dalam keadaan cahaya yang minim. Hal inilah yang tidak bisa disaingi oleh kamera saku, khususnya Canon Ixus yang saya miliki. Ketajaman jelas kalah jauh. Adapun urusan cahaya, mutlak mati-kutu bila keadaan sudah mulai senja atau berada di ruangan yang temaram.

Namun, semua itu berubah ketika saya secara tidak sengaja tertambat di halaman Youtube Canon Australia pada Ramadhan lalu. Kala itu, saya menemani seorang kawan yang baru saja memiliki sahabat baru: Canon Powershot G16. Untuk merayakannya, kami berdua menonton saluran resmi Canon Australia di kanal video milik Google sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Selama menonton, kami seringkali terpukau melihat foto-foto menawan yang dihasilkan fotografer Canon Master. Canon Master sendiri merupakan julukan bagi fotografer profesional yang karyanya sudah diakui dunia dan memotret menggunakan kamera Canon. Saluran Canon Australia sendiri banyak menyuguhkan testimoni, review, dan how-to menggunakan kamera Canon agar mampu menghasilkan foto yang menawan.

Sejak peristiwa itu, saya kerap menongkrongi saluran Canon di Youtube. Tidak tanggung-tanggung, saya berlangganan 4 saluran Canon, yaitu: Canon Australia, Amerika, Eropa, dan Asia. Tujuannya satu: mengambil inspirasi fotografi dari para Canon Master. Saya juga banyak belajar tentang tata cara mengambil gambar yang baik dari saluran tersebut.

Selain itu, saya juga jadi senang menongkrongi saluran National Geographic Live!. Saluran ini salah satunya menyuguhkan presentasi fotografer-fotografer National Geographic ketika beraksi di lapangan. Acara tersebut semacam ajang “behind the scenes” di balik foto-foto National Geographic yang terkenal sebagai karya-karya terbaik dunia.

Hasilnya, hasrat untuk berburu foto langsung membuncah hingga ke titik tertinggi. Sejak saat itu, saya selalu ke luar rumah untuk berjalan-jalan dan mencari objek foto yang menarik. Ketika saya di Jatiwangi, hampir setiap sore saya menaiki motor dan berkeliling hingga ke kecamatan tetangga. Anak dan istri biasanya saya ajak, sembari menikmati sore pada musim kemarau.

Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)

Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)

Bila ada objek yang menarik, saya langsung turun dari motor dan memotretnya semaksimal mungkin. Anak dan istri menunggu di motor sembari memperhatikan saya yang sedang tergila-gila belajar memotret. Tak jarang mereka menunggu sampai 30 menit di atas motor. Beruntung, mereka cukup sabar untuk menunggu.

Ketika pulang kembali ke Bandung, aktivitas memotret saya lakukan sembari berlari sore. Belakangan, saya berusaha mengerem agar frekuensi aktivitas memotret saya tersebut maksimal hanya 2-3 kali sepekan. Saya mulai khawatir dengan kapasitas penyimpanan data yang mulai membengkak. Selain itu, frekuensi memotret 2-3 kali sepekan memberikan jeda untuk saya mengevaluasi foto-foto yang dihasilkan, sekaligus memperbaiki teknik memotret agar mampu lebih baik.

Salah satu yang membuat saya bersemangat lagi untuk belajar memotret menggunakan kamera saku adalah ungkapan, “Man behind the gun.” Kang Dudi Sugandi, dan juga fotografer lainnya, kerap mengingatkan kepada kami yang belajar fotografi bahwa foto yang bagus tidak tergantung kepada perangkatnya, tetapi justru manusianya. “It is not about gun, it is about man behind the gun,” demikian ungkapannya dalam bahasa Inggris.

Ungkapan ini benar-benar dibuktikan oleh kang Dudi Sugandi. Dengan kamera ponsel pun, beliau bisa menghasilkan foto-foto yang menawan. Umumnya, beliau mempublikasikan foto-foto tersebut di akun Instagramnya. Dalam hal ini, jam terbang adalah kuncinya.

Hikmah senada pernah diceritakan kawan saya yang memiliki teman berkamera Canon EOS 1D. Suatu ketika, kawan saya tersebut meminta bantuan temannya untuk memotret sebuah restoran. Hasilnya, sang manajer restoran menilai hasil fotonya kurang memadai. Ternyata, temannya kawan saya tersebut memiliki banyak uang untuk membeli kamera mahal, tetapi tidak memiliki jam terbang yang cukup untuk mempergunakannya. Coba kalau Canon EOS 1D itu dikasihkan ke saya, yah. Mungkin akan saya jual lagi. Hahaha.

Kini, saya berusaha mensyukuri kamera saku Canon Ixus sambil terus belajar memotret dan menghasilkan foto yang terbaik. Keterbatasan gambar saya coba siasati sedemikian rupa dengan photo-editor. Saya sendiri menggunakan aplikasi Preview di MacOS yang pengoperasiannya cukup sederhana. Hasilnya, cukup menggembirakan dan mampu meningkatkan kualitas foto saya, khususnya dalam warna dan komposisi.

Memiliki kamera semi-SLR atau D-SLR? Ah, nanti dulu. Bagi saya yang besar dan hidup dari menulis, rasanya terlalu mahal bila harus membeli tipe kamera tersebut. Alasannya, sederhana saja: fotografi belum bisa memberikan pendapatan bagi saya. Hal ini berbeda dengan menulis yang menjadi mata pencaharian saya hingga detik ini. Barangkali, bagi saya, MacBook sebagai perangkat kerja untuk menulis akan berusaha saya dapatkan dibandingkan Canon D-SLR, kendati harganya di bawah MacBook. Namun, niscaya saya tidak akan menolaknya bila ada yang mau memberikan satu kamera Canon D-SLR. Hahaha.{*}

One thought on “Kembali Belajar Fotografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s