“Olá, Timor Leste!”


Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Dili, Timor Leste. (Foto: Yudha PS)

Deretan perbukitan yang berbatasan langsung dengan pantai menemani saat-saat pesawat akan mendarat. Menit demi menit, ketinggian pesawat yang saya tumpangi terus merendah. Saat itu pula, terumbu karang di dasar pantai yang bersih dan berwarna kebiruan semakin tampak jelas teramati. Membuat siapa pun yang melihatnya ingin segera berenang dan menikmati keindahan bentangan alam tetangga terdekat Indonesia, Timor Leste.

Tak seberapa lama, Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato tampak dari kejauhan. Pesawat yang datang dari arah barat, tidak langsung mendaratkan diri di ujung landasannya. Dengan sangat memukau, pesawat terbang di utara bandara ke arah timur, langsung berputar 180 derajat serta menukik cukup cepat, dan dengan segera bannya menyentuh ujung timur landasan.

Penerbangan ke Dili, Timor Leste, memang termasuk jarang. Dari Indonesia, hanya ada 2 penerbangan, yaitu Garuda Airlines dan Sriwijaya Airlines. Keduanya terbang dari Denpasar, Bali, Indonesia. Bahkan, jadwal keberangkatan penerbangan keduanya hanya terpaut 30 menit di Denpasar. Sedangkan jadwal kepulangan dari Dili, hanya terpaut 15 menit saja. Selesai Garuda Airlines lepas landas, Sriwijaya menyusul tak lama kemudian.

Sedangkan penerbangan lainnya, tersedia dari Darwin, Australia, dan Singapura. Ketika saya lihat di peta, jarak Darwin ke Dili, Timor Leste justru lebih dekat daripada jarak Dili, Timor Leste ke Denpasar, Bali. Penerbangan dari Darwin sendiri menggunakan pesawat berbaling-baling ganda dan disediakan oleh maskapai Air North. Sedangkan dari Singapura, tersedia penerbangan Air Timor yang disediakan oleh maskapai Silk Air.

Cuaca terik dan panas a la dataran pantai Timor Leste langsung menyapa ketika saya melangkahkan kaki menuju imigrasi. “Selamat siang, silahkan,” petugas keimigrasian menyapa saya dengan Bahasa Indonesia yang fasih. Sebenarnya, saya menghindari menujukkan identitas sebagai orang Indonesia. Pasalnya, saya khawatir akan luka lama Timor Leste terhadap Indonesia. Namun, kekhawatiran saya terbukti salah. “Mereka bahkan sudah meninggalkan kenangan buruk tentang hubungannya dengan Indonesia pada masa silam dengan cukup cepat,” ungkap Duta Besar Amerika untuk Timor Leste Karen Stanton, kepada saya.

Kesimpulan Karen memang terbukti. Dengan ramah, imigrasi Timor Leste melayani saya dengan baik. “Ada acara apa ke Timor Leste, bos,” ungkapnya dengan santai, tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada tamu. “Silahkan, selamat menikmati Timor Leste,” ujarnya kembali, sembari menyerahkan paspor saya yang telah dicatatnya.

Dengan segera, saya melangkah ke pintu ke luar. Di pintu keluar bandara, sudah berdiri Barros dan Kosme. Secarik kertas yang tertulis nama saya membuat saya langsung mengetahui bahwa mereka hadir untuk menjemput saya. Tak seberapa lama, Gil Da Silva datang dengan sedan merahnya. Dia langsung menyapa dan menyalami saya. Tak lupa juga, Gil mengalungkan Tais, selendang khas Timor Leste, kepada saya. Menurutnya, prosesi pengalungan Tais adalah wujud penghormatan dan penghargaan masyarakat Timor Leste kepada setiap tamu yang datang untuk berkontribusi pada negara muda tersebut.

***

Gil (kiri) menyambut saya di bandara.

Gil (kiri) menyambut saya di bandara.

Gil adalah Executive Advisor di CJITL (Centru Jornalista Investigativu Timor Leste) dan project officer untuk Anti Corruption Campaign (ACC) di Timor Leste. Proyek yang didanai oleh Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) dari pemerintah Amerika ini, melibatkan alumni-alumni program Amerika, termasuk Gil dan saya. Dari Indonesia ada juga Iman Abda, yang sudah saya kenal jauh beberapa tahun sebelumnya.

Saya, Gil, dan Iman merupakan alumni International Visitors Leadership Program (IVLP) yang disponsori oleh Department of State, Amerika. Gil dan Iman sendiri mengikuti IVLP beberapa tahun sebelum saya. Sedangkan saya baru berangkat pada Januari 2013 lalu.

Setiap tahunnya, pemerintah Amerika menggelontorkan AEIF untuk mendanai program-program para alumninya. Syaratnya, ada 6 orang alumni program pemerintah Amerika yang terlibat dan mereka bekerja secara sukarela. Ketika program tersebut diluncurkan pada 2014 silam, Gil meminta saya dan Iman untuk mendukung program ACC ini. Kami berdua didaulat untuk berbagi pengalaman Indonesia dalam memerangi korupsi di masyarakat.

Proposal yang masuk dari seluruh dunia kemudian disaring oleh pemerintah Amerika. Hasilnya, di antara puluhan program yang diterima, program ACC termasuk yang didanai AEIF sebesar US$ 25.000. Hasilnya, saya dan Iman pun berangkat ke Timor Leste. Iman Abda sendiri sudah berangkat ke Dili pada pertengahan 2014 silam, pada pembukaan ACC. Sedangkan saya diminta untuk hadir pada penutupan program ACC pada 2 Maret 2015 silam.

Gil sendiri adalah seorang jurnalis di Timor Leste dan peneliti muda di bidang media. Dia juga merupakan aktivis muda Timor Leste yang memiliki pengalaman internasional cukup luas dan banyak. Saya dan Gil berkenalan di Alumni.state.gov, sebuah media sosial bagi alumni program-program pertukaran pemerintah Amerika.

***

Tentunya, tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan prosesi penyambutan saya tersebut. Dengan segera, Gil mempersilahkan saya masuk ke mobil dan melaju di tengah teriknya matahari siang di Dili, Timor Leste. Sepanjang perjalanan, Gil banyak bercerita tentang Dili dan segala fenomena sosial dan politik di dalamnya. Dari Gil juga, saya mengetahui latar belakang suami dari seorang penyanyi wanita tersohor di Indonesia, yang memang pengusaha asal Timor Leste.

Cerita semakin seru sembari menyantap hidangan siang itu. Gil membawa saya ke Timor Plaza dan mempersilahkan saya untuk memilih panganan yang tersedia. Saya pribadi sebenarnya lebih senang mencicipi masakan asli Timor Leste. Namun, apa boleh buat, makanan yang tersedia umumnya adalah kuliner khas Indonesia, seperti soto, sate, ayam goreng, pecel, beserta lalapannya. Saya langsung memilih soto untuk membuka jelajah kuliner saya di Timor Leste.

“Di sini, semua kuliner yang ada umumnya makanan Indonesia,” ungkap Gil, menjelaskan. “Praktis, kami tidak memiliki makanan khas Timor Leste,” jawabnya lagi, ketika saya kembali bertanya dengan sedikit penekanan perihal kuliner asli Timor Leste.

Negara muda ini memang banyak terpengaruh oleh Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, hal ini merupakan salah satu buah dari penjajahan Indonesia sejak era 1976 hingga Soeharto lengser dari kursi kepresidenan pada 1998. Meskipun begitu, sebagai negara muda yang baru merdeka kembali, Timor Leste cukup banyak mengadaptasi pranata organisasi pemerintahannya dari Indonesia.

Salah satu contohnya adalah cara Timor Leste menyusun dewan pers. Gil mengisahkan bahwa Dewan Pers Indonesia menjadi benchmark Dewan Pers Timor Leste yang akan dibentuk beberapa bulan ke depan. Kabar menggembirakannya, Gil merupakan kandidat anggota Dewan Pers Timor Leste.

Obrolan kemudian berlanjut ke kesempatan yang lebih luas bagi pemuda di negara baru seperti Timor Leste. Terlebih lagi, penduduk Timor Leste hanya sekitar satu juta orang. Hal ini membuat kesempatan para pemuda untuk terlibat dalam proses pembangunan di pemerintahan semakin terbuka lebar.

Tentunya ini berbeda dengan di Indonesia. Negara dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa ini memiliki struktur pemerintahan yang rumit dan besar. Akibatnya, seorang pemuda harus menjajaki karir dari bawah untuk bisa berkontribusi di pemerintahan. Bagi mereka yang memang berniat berkarir di pemerintahan, meniti karir di birokrasi memang jadi satu-satunya jalan yang harus dilaluinya. Namun, bagi mereka yang lebih senang bergerak dan berkontribusi secara nyata dan segera, pilihannya adalah turun langsung ke masyarakat. Sebagai bentuk aktualisasi dirinya, generasi muda seperti ini umumnya berkecimpung di dunia komunitas atau lembaga non-pemerintah.

Tak sampai satu jam, kami sudah selesai menyatap hidangan makan siang. Gil kemudian mengantarkan saya ke hotel dan mempersilahkan untuk istirahat. Setelah mandi, saya pun sejenak merebahkan diri di kamar hotel. Sembari menikmati deburan ombak di Pantai Kelapa, Timor Leste, secara tak sadar, mata saya pun terpejam.

***

Warung makanan laut tradisional di pesisir pantai Dili, Timor Leste. Saya, Gil, dan Cheche menikmati makan malam di belakang warung ini sambil ditemani deburan ombak pantai Dili. (Foto: Yudha PS)

Jeritan bel kamar hotel saya berulang-ulang kali terdengar. Dalam keadaan linglung, saya segera menuju pintu. Di depan pintu, sudah ada Gil berdiri. Sesuai janjinya, jam 7 malam, Gil datang dan menjemput saya untuk makan malam bersama. Segera saya buka pintu dan memohon maaf bahwa saya ketiduran. Tanpa membuang waktu, saya langsung mandi dan bersiap di lobi. Sedangkan Gil, pamit untuk mandi dan ganti baju ke rumahnya, 10 menit dari hotel yang saya tempati.

Tak lama setelah saya mendudukkan diri di lobi, Gil datang bersama istrinya, Cheche. Keduanya membawa saya ke pesisir pantai untuk menikmati makanan laut yang dijajakan oleh penduduk setempat. Saya mencicipi tentakel gurita dan ikan besar sepanjang penggaris 30 Sentimeter, yang biasa saya gunakan ketika masih berseragam pelajar. Keduanya dipanggang di atas bara api dan disajikan bersama ketupat.

Mengenai tentakel gurita, sebenarnya saya agak seram memakannya. Bayangkan, satu tentakel saja ukurannya cukup besar. Panjangnya sekitar 30 Sentimeter, sedangkan ketebalan dagingnya seukuran dua kali jempol tangan saya. Namun, ketika saya mulai mencicipinya, rasanya cukup unik. Manis dan asin menjadi satu di mulut, dan berpadu dengan usaha gigi untuk melumatnya menjadi ukuran yang lebih kecil. Meskipun saya agak seram karena membayangkan gurita, toh, habis juga. Satu hal yang membuat saya senang, akhirnya ada makanan khas Dili yang bisa saya cicipi. Horay!

Dengan segera, Gil menganjurkan saya minum Sagiko untuk menemani santap malam saya saat itu. Sagiko merupakan minuman kaleng yang diimpor dari Australia. Rasanya pun beragam. Kali ini, Sagiko yang saya nikmati adalah rasa buah-buahan, lengkap dengan potongan buah kecil-kecil. Cocok untuk mencuci mulut saya yang belepotan menikmati makanan laut Dili malam itu.

Deburan kecil ombak pesisir pantai Dili, Timor Leste, menemani obrolan kami bertiga. Di dalam cahaya yang remang-remang, kami berbagi tawa dan cerita. Gil dan Cheche banyak bercerita mengenai perjalanan program Anti Corruption Campaign (ACC) di Timor Leste. Mengenai Cheche, dia adalah seorang penyiar radio lokal di Timor Leste. Dia pernah lama di Surabaya ketika menyelesaikan jenjang sarjana di Kota Pahlawan tersebut.

Keduanya juga bercerita tentang hubungan Indonesia dan Timor Leste. Salah satunya adalah keberadaan perusahaan-perusahaan Indonesia di Timor Leste. Sebut saja, beberapa di antaranya adalah Bank Mandiri, Telkomcel (yang tidak lain adalah Telkomsel dari Indonesia), dan Pertamina. Ketiganya menjadi bagian dari roda perekonomian nasional di Timor Leste.

Di ranah akar rumput, banyak toko-toko milik orang Jawa dan orang Indonesia lainnya di Dili. Mereka sudah berasimilasi dengan masyarakat setempat, dan kini menjadi bagian dari roda perekonomian lokal Dili, bersama-sama dengan etnis Tionghoa.

Orang-orang Indonesia ini sudah menetap cukup lama di Timor Leste. Namun, tak jarang kerabat mereka dari Indonesia juga datang untuk bekerja dan mencari peruntungan di Timor Leste. Bahkan, yang membuat saya cukup kaget, Timor Leste seringkali mendeportasi orang-orang Indonesia. Pasalnya, mereka seringkali menyalahgunakan Visa on Arrival untuk bekerja di Timor Leste. “Bulan ini saja pemerintah kami (Timor Leste) mendeportasi 9 orang Indonesia,” ungkap Gil, malam itu.

Ah, pantas saja saya benar-benar ditanya habis-habisan di Bandara Ngurah rai, Denpasar, ketika Check In. “Bapak sudah punya tiket pulang? Tanggal berapa Anda akan kembali ke Indonesia?” begitu tanyanya dengan intonasi penuh penekanan, seperti ingin memastikan bahwa saya benar-benar akan kembali ke Indonesia. Ternyata, pangkal masalahnya adalah banyaknya pelanggaran keimigrasian yang dilakukan orang Indonesia di Timor Leste.

Seusai makan malam, Gil dan Cheche mengajak saya mengitari kota Dili. Menjelang larut malam, mereka segera mengantarkan saya ke hotel. Bagi saya, hari pertama di Timor Leste sangat menyenangkan. Namun, perasaan saya masih diselimuti kegelisahan yang luar biasa. Pasalnya, keesokan harinya, saya harus memaparkan presentasi di hadapan para jurnalis dan tokoh media di Timor Leste. Di kamar hotel, saya berusaha menyempurnakan presentasi saya, sambil terus berharap bahwa besok saya mampu memaparkannya dengan baik. {}

3 thoughts on ““Olá, Timor Leste!”

  1. raimundo da conceicao dos santos berkata:

    hallo pak yudha apa kabar??? saya sangat suka dengan cerita ini
    saya member dari jurnaslis ICTJ
    saya kenal pak waktu workshop sedikit tentang jornalisme di ruang ictj dili kantornya Maun Gil
    pak sekarang di bandung atau dimana ?

    • Yudha P Sunandar berkata:

      Hallo, kak Raimundo. Apa kabar?
      Kabar saya baik. Terima kasih banyak sudah mengunjungi blog saya. Senang sekali dapat kunjungan dari kawan Timor Leste.
      Apa kabar Dili dan Timor Leste? Rindu saya dengan suasana di sana, dan ingin kembali berkunjung ke sana lagi.
      Saya sekarang tinggal di Bandung.
      Bagaimana kabar kawan-kawan di CIJTL?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s