Menjaga Handiman, Menjaga Angklung, Menjaga Indonesia


Handiman Diratmasasmita. (Foto: Anissa "Flo" Trisdianty)

Handiman Diratmasasmita. (Foto: Anissa “Flo” Trisdianty)

Setelah Angklung diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia pada 18 Nopember 2010, masyarakat Indonesia bersuka cita. Sayangnya, suka-cita ini tidak diiringi dengan keseriusan untuk menjaga dan melestarikan angklung. Ini lah yang menjadi kekhawatiran Handiman Diratmasasmita, tokoh angklung Jawa Barat.

Kekhawatiran kakek berusia 74 tahun ini berangkat dari banyaknya produsen angklung yang hanya mengejar kuantitas, tapi mengabaikan kualitas. Lebih dari itu, hampir tidak ada generasi muda Indonesia yang mau belajar cara membuat angklung secara serius. “Padahal, banyak mahasiswa asing dari Eropa dan Amerika yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk belajar angklung dari bapak (Handiman),” ungkap Anne Ratna Komala, putri Handiman. “Bahkan, negara tetangga saja mengirimkan sampai 30 orang warganya untuk belajar angklung,” lanjutnya.

Handiman sendiri adalah murid langsung dari Daeng Soetigna, Bapak Angklung Indonesia. Pak Daeng, begitu beliau dikenal semasa hidupnya (13 Mei 1908 – 8 April 1984), merupakan sosok yang memodifikasi nada di angklung dari awalnya pentatonis, menjadi diantonis. Terobosan yang dilakukannya pada akhir 1938-an ini, membuat angklung mampu memainkan musik-musik modern. Atas jasanya ini, angklung modern saat ini dijuluki juga sebagai Angklung Padaeng.

Handiman sendiri belajar langsung dari Daeng ketika beliau sekolah di Sekolah Guru Atas (SGA) 1 Bandung. Kala itu, anak ketiga dari 7 bersaudara ini kerap mendampingi kelompok musik Angklung Pa Daeng untuk tampil di acara-acara besar, termasuk pembukaan PON V pada 1961. Kesempatan tersebut membuat Handiman mendapatkan kesempatan belajar langsung dari Daeng, yang ketika itu masih aktif sebagai guru sekaligus PNS di lingkungan pendidikan di Jawa barat.

Setelah lulus dari SGA, Handiman mulai menapaki karirnya sebagai guru. Beliau mulai mengajar di SGA 2 Bandung pada 1962. Sama seperti gurunya, ayah 6 orang anak ini pun aktif mengajar angklung. Karena kecintaan dan dedikasinya terhadap alat musik tradisional masyarat Sunda tersebut, Handiman sampai diundang ke Negeri Persia untuk mengajar angklung di lingkungan kerajaan Iran.

Di tengah kesibukannya sebagai guru, Handiman menyempatkan waktunya untuk membuat angklung. Aktivitas paruh waktu yang digelutinya sejak 1972 ini, dikerjakan di rumahnya di bilangan Surapati, Bandung. Setelah pensiun sebagai Pengawas Sekolah Kota Bandung pada 2001 silam, barulah mantan Kepala SD BPI Bandung ini mendedikasikan seluruh waktunya untuk membuat angklung. Sama seperti 30 tahun sebelumnya, aktivitas membuat angklung dilakukan di rumahnya. Bedanya, Handiman dibantu oleh beberapa pegawai untuk menyelesaikan pesanan angklung-angklungnya kini.

Tak perlu waktu lama, angklung Handiman mendapatkan tempat yang istimewa di kalangan penggiat dan penikmat angklung, baik di Bandung, Indonesia, bahkan Mancanegara. Pesanan angklungnya bahkan sudah tiba di Negeri Paman Sam. Satu yang mereka suka dari angklung buatan Handiman: kualitasnya. Selain bahannya kuat, nadanya pun presisi. Tak heran bila sebagian kalangan menilai angklung buah karya beliau adalah yang terbaik di Bandung, bahkan mungkin di Indonesia.

Barangkali, penilaian ini ada benarnya juga. Pasalnya, Handiman selalu mengusahakan yang terbaik untuk membuat angklung. Prinsip yang dipegangnya, bahwa antara badan angklung dan resonannya harus “berjodoh”. Untuk itulah, secara hati-hati dan telaten, beliau selalu memilih bambu-bambu terbaik, sehingga bisa “berjodoh” dengan nada yang diharapkan.

Berkenaan dengan bahan bakunya, menurut Handiman, bambu yang cocok dijadikan angklung berasal dari jenis Bambu Wulung dan Bambu Temen. Bambu-bambu ini harus berasal dari daerah dengan lahan yang datar, rimbun dengan pepohonan, kandungan airnya rendah, dan tanahnya tidak terlalu subur. Umumnya, lahan dengan karakteristik ini banyak ditemui di wilayah selatan Jawa, mulai dari Cilegon di Provinsi Banten, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, hingga Cilacap yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Sebelum diserut menjadi angklung, bambu-bambu pilihan ini harus dikeringkan terlebih dahulu. Tujuannya, agar fisik bambu ini lebih kuat dan tahan hama serta memiliki nada yang presisi dalam rentang waktu cukup lama. Proses pengeringannya sendiri bisa berlangsung hingga setahun lamanya.

Setelah bambu cukup kering, Handiman dan timnya mulai meraut dan membentuknya menjadi sebuah angklung. Pada tahap ini, pembuatnya harus menghadirkan rasa seni ketika merangkai sebuah angklung. Handiman menyebutkan ada 3 aspek dalam angklung yang berkualitas, yaitu: Wiraga, Wirama, dan Wirasa.

Wiraga sendiri berarti angklung memiliki keseragaman fisik dan terbebas dari cacat. Sedangkan Wirama adalah kesesuaian dan keseragaman suara, nada, dan irama angklung. Adapun Wirasa merujuk pada pemain angklung yang mampu memainkan angklung dengan rangkaian nada yang selaras.

Meskipun terbilang mudah, tetapi banyak produsen angklung yang mengabaikan prinsip-prinsip ini. Namun, Handiman tidak putus asa. Beliau terus mendorong pengrajin angklung agar membuat angklung yang berkualitas baik. Guna memperkuat usahanya ini, Handiman mendirikan Bale Angklung Bandung pada 2008.

Sesuai namanya, “Bale” yang merujuk kepada tempat berkumpulnya masyarakat, Handiman berharap lembaganya ini mampu menjadi tempat berkumpulnya generasi-generasi muda Indonesia yang ingin belajar dan menjaga angklung. Harapan ini semakin menguat tatkala beliau mendapatkan penghargaan dari negara tetangga atas dedikasinya melestarikan angklung. Bahkan, negara tetangga juga mengundang Handiman untuk tinggal dan mengajar angklung di sana. “Saya tidak mau (tinggal di negara tetangga), karena saya cinta Indonesia,” ungkap Handiman.

Naasnya, Indonesia sebagai empunya angklung, belum serius menjaga dan melestarikan angklung. Salah satu contohnya adalah minimnya kepedulian untuk melestarikan kawasan perkebunan bambu di wilayah selatan Jawa. Kini, perkebunan bambu berkualitas tersebut mulai beralih fungsi menjadi kebun pohon keras, seperti Jati Kebon dan Albasiah. Akibatnya, Handiman semakin kesulitan mencari bambu berkualitas.

Di tengah minimnya kepedulian Indonesia terhadap kekayaan budaya sendiri, yang rentan diklaim negara lain setiap saat, Handiman kini mulai merajut asa yang hampir terputus. Beberapa anak muda tengah membantunya untuk mengumpulkan pengetahuan tentang angklung dalam wadah berjuluk Relawan Bale Angklung Bandung. Bahkan, mereka memimpikan sebuah gedung pertunjukkan angklung di Bandung, lengkap dengan sarana edukasi untuk masyarakat.

Usaha untuk menjaga dan melestarikan angklung lainnya dilakukan oleh Dr. Eko Mursito Budi, dosen Teknik Fisika ITB. Bersama mahasiswanya, beliau tengah mengembangkan Angklung Robot (KlungBot) untuk mempromosikan alat musik ini lebih luas lagi. Bahkan, dalam waktu dekat, beliau akan meluncurkan buku yang membedah angklung dari tinjauan sains.

Sokongan ini tentu membuat Handiman bisa tersenyum lega. Di tengah usahanya yang masih panjang ini, semoga beliau mampu merajut pengetahuan angklung untuk generasi muda Indonesia pada masa yang akan datang.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s