Dicari: Cinta Setelah AASC!


Foto: Dok. AASC 2015

Meski sudah lewat lebih dari satu bulan, siapa sangka AASC 2015 masih sangat membekas bagi kawan-kawan yang terlibat sebagai panitia. Sebagian ada yang senang, karena memiliki pengalaman internasional yang tidak pernah bisa dilupakan. Sebagian lainnya mengaku dilahirkan sebagai manusia baru yang terpacu untuk lebih produktif dan memperbaiki dunia. Malah sebagian lainnya masih ingin mengulangi momen-momen AASC yang dinilai terlalu singkat bagi mereka, hanya hitungan hari.

Meskipun begitu, yang tidak saya sangka, ada sebagian kecil yang justru menganggap AASC 2015 merupakan momen-momen penuh onak dan duri. AASC adalah kenangan yang begitu menyakitkan dan menjangkiti pikiran. “Saya malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya dan harus berdiam diri di gunung dalam beberapa hari untuk melupakan acara (AASC 2015) itu,” ungkap salah seorang mantan panitia.

Ketika rapat Klub Studi Asia-Afrika kemaren, sebagian kecil ini bahkan tidak mau mendengarkan apa pun yang berhubungan dengan AASC, termasuk kata-kata yang umum tapi spesifik menjurus ke AASC 2015, seperti sidang, esai, dan plakat. Bahkan, mereka tidak mau menyebutkan kata “AASC” sendiri. “Sebut saja ‘acara itu’, jangan sebut namanya,” dengan keras mantan panitia lainnya memperingatkan kepada mereka yang termasuk “sebagian yang euforia”.

Umumnya, mereka yang termasuk golongan sebagian kecil ini adalah orang-orang yang benar-benar menebus AASC 2015 tidak hanya dengan tenaga, tetapi juga keringat, air mata, dan bahkan masa depannya. Momen AASC 2015 benar-benar menancap di hati, pikiran, bahkan yang lebih ekstrim “mental”-nya. “Gangguan mental teh bener, ini mah. (AASC) menyerap kebahagiaan dan bikin ngak semangat kerja,” ungkap yang lainnya lagi.

Barangkali, saya pun termasuk yang sebagian kecil tersebut. Sama seperti mereka, sampai sekarang pun saya belum bisa lepas dari momen-momen tersebut. Seringkali, saya masih terngiang-ngiang momen-momen pedih dan perih AASC 2015. Tak jarang, emosi saya langsung meluap dan ingin rasanya marah-marah ke siapa pun yang ada di sekitar saya. Bila sudah begitu, saya berusaha untuk menenangkan diri sendiri.

Salah satu yang menenangkan saya adalah perkataan bu Ely Nugraha. Selepas acara, sambil berderai air mata, beliau meyakinkan saya bahwa acara ini akan bermakna besar bagi banyak orang. Oleh karena itu, wajar saja bila tantangannya begitu besar.

Saya pribadi pernah menceritakan fenomena ini ke salah satu rekan saya, yang juga terlibat di AASC 2015 pada hari-H. Dengan penuh kebijaksanaan, dia bilang bahwa panitia AASC adalah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk acara tersebut. “Kalian bekerja dengan sepenuh hati, sehingga wajar saja hati kalian masih terpaut di sana (AASC 2015),” paparnya.

Jadi teringat pepatah kawan lama ketika saya masih jomblo yang masih terbayang-bayang mantan. “Carilah cinta yang lain untuk mengobati cinta yang rusak,” begitu katanya. Selaras dengan pepatah tersebut, bila sudah terlanjur bermain hati dengan AASC 2015, tampaknya saya harus menanamkan hati saya kepada yang lain. Tapi kepada apa, yah? Ah, tampaknya, harus bertanya pada rumput yang bergoyang pada musim kemarau ini.***

2 thoughts on “Dicari: Cinta Setelah AASC!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s