Menunggu Sukarno Selanjutnya…


Foto: britannica.com

Secangkir kopi hitam sudah hampir mendingin. Namun, tak kunjung saya sentuh. Saya masih terpukau dengan pemaparan seorang kawan tentang makna Konferensi Asia-Afrika 1955 silam dan kedudukan MKAA terkait konferensi tersebut. “MKAA itu mata air peradaban,” tandasnya. “Tidak bisa dipengaruhi oleh waktu,” lanjutnya, menggebu.

Menurutnya, MKAA bisa hidup karena di dalamnya mata air tersebut senantiasa mengalir. Dulu, 60 tahun silam, para pemimpin bangsa Asia-Afrika tidak begitu saja hadir di tempat sakral tersebut atas dasar “iseng ajah”. Lebih dari itu, kehadirannya di Gedung Merdeka justru untuk meneguk mata air peradaban tersebut. Ketika pulang ke negaranya, mereka menggemakan pesan Bandung dan turut memerdekakan bangsa-bangsa terjajah. Hasilnya, 36 negara di Asia dan Afrika berhasil merdeka.

“Konferensi Bandung itu tempat berkumpulnya orang-orang merdeka,” kisahnya lagi. Oleh karena itu, sebagaimana orang merdeka, mereka berusaha membangun kerjasama untuk mewujudkan kemandirian bangsanya. Bukan justru untuk menindas bangsa lain. Sebagai contohnya adalah Chou En Lai. Meskipun dikhawatirkan oleh bangsa lain sebagai representasi kekuatan komunis, tetapi Chou En Lai justru hadir dengan pesan perdamaian. Sebagai perwakilan negaranya, Chou En Lai mengajak negara-negara lain untuk bekerjasama dengan China pada era tersebut.

Gaung Konferensi Asia-Afrika 1955 ini tidak lepas dari peran besar Sukarno, Presiden Indonesia kala itu. Selain negaranya menjadi tuan rumah, Sukarno pula yang mengusulkan digelarnya konferensi kulit berwarna pertama di dunia tersebut. Usulan tersebut dititipkannya kepada Perdana Menteri Indonesia kala itu Ali Sastroamidjojo, untuk diwacanakan dalam pertemuan Panca Menteri.

“Sukarno itu memang lahir untuk membawa kemerdekaan,” simpul sang kawan, sambil menyeruput Cappuccino miliknya yang sudah mendingin. Pemimpin besar itu tidak hanya membawa kemerdekaan bagi Indonesia, tetapi juga Asia-Afrika. “Dan warisan Sukarno yang paling utama adalah MKAA,” lanjutnya kemudian.

Kini, dunia tengah menunggu “Sukarno” selanjutnya. Pemimpin besar itu akan datang kembali membawa kemerdekaan dan perdamaian bagi Asia, Afrika, dan juga dunia. Dan kini, MKAA hanya sedang menunggu waktu itu tiba. “Karena, pemimpin besar itu akan kembali minum dari mata air peradaban, sekali lagi,” tutupnya, sembari pamit pergi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s