Pergi Tanpa Pamit


Foto: trekearth.com

Sekira setahun lalu, ketika kami tengah pindahan rumah ke Simpay Asih, seorang bapak menghampiri kami. Tempat tinggalnya hanya selang beberapa rumah dari kontrakan kami. Beliau adalah pensiunan PNS di Kabupaten Bandung dan pernah menjadi Ketua RT di lingkungan kontrakan kami.

Ketika kami tengah ricuh memindahkan barang-barang, beliau mengajak ngobrol saya. Topik obrolannya ringan saja, seperti pada umumnya orang yang baru bertemu. Namun, karena obrolan dilakukan di tengah-tengah proses pindahan tersebut, saya sekilas merasa terganggu.

Selang beberapa minggu, kami baru tahu perihal dia, termasuk namanya. Sedikit demi sedikit, saya juga maklum atas sikapnya yang senang mengobrol tersebut, termasuk ke orang baru. Maklum, pada usianya yang 64 tahun, beliau tidak punya banyak teman dan kegiatan. Hal inilah yang membuat beliau kerap keluar rumah hanya untuk mencari teman ngobrol.

Selama setahun terakhir kami di Simpay Asih, kami selalu melihat beliau berada di depan rumahnya pada pagi dan sore hari. Bila kami bepergian, pasti selalu melewati rumahnya. Pasalnya, akses jalan utama menuju luar kompleks adalah melewati rumahnya. Dan kerap kami bertemu dengan beliau.

Saat itu, kami sering terlibat obrolan singkat yang hanya 1-2 menit. Beliau kerap menanyakan arah tujuan kami, serta mengingatkan kami bila cuaca sudah mendung dan akan turun hujan. Aphank pun sering digodanya, seperti diajak salaman, saling beradu telapak tangan, sampai digendong sejenak. Dan tentu saja, Aphank sering menggodanya juga dengan berusaha menghindar sambil tersenyum jahil, tanda dia merespon dengan senang.

Bila pun kami bepergian dengan motor, seringkali saya memberhentikan motor ketika beliau sedang berada di depan rumah. Selain bertegur sapa sejenak, beliau juga mengajak Aphank bersalaman. Dan selalu Aphank merespon dengan bahasa tubuh yang jahil dan senang.

Saking seringnya kami bertegur sapa, secara tidak sadar, saya sering menatap rumahnya bila kami lewat dan beliau tidak ada di depan rumahnya. Barangkali karena sudah terbiasa bertegur sapa, sehingga ada yang kurang bila beliau tidak ada di depan rumahnya dan tidak bertegur sapa.

Semalam, ketika saya pulang, sebuah bendera kuning menancap di jalan menuju rumah saya. Dalam setahun terakhir ini, sudah 4 bendera kuning yang berkibar di lokasi yang sama. Maklum, Simpay Asih adalah komplek tua, dan dihuni oleh orang-orang lanjut usia. Sehingga kemungkinan bendera tersebut tertancap di depan jalan rumah kami cukup besar.

Namun, yang membuat saya terkejut adalah letak bendera kuning selanjutnya: di depan rumah beliau. Dan ketika saya melewati rumahnya, beliau sudah terbujur kaku di ruang tamunya. “Kakeknya sudah pergi, Aphank,” lirih istrinya kepada Aphank, ketika kami berkunjung ke rumahnya semalam. Yah, pergi, dan tak pernah kembali, lagi.

Sampai saat ini pun, saya masih terngiang suara beliau. Masih pula terbayang raut wajahnya. Juga masih teringat kebiasaan beliau nongkrong di depan rumahnya pada pagi dan sore hari. Padahal, kami hanya bertemu beberapa menit saja, dan bertegur sapa sekedarnya saja.

Barangkali, saya akan merindukan sosok yang kerap menyapa kami ketika melewati depan rumahnya. Sosok yang kerap menggoda Aphank, hingga anak saya merespon dengan sikap tubuh yang jahil. Juga merindukan sosok yang telah pergi tanpa sempat pamit tersebut. Dan rasanya, jalan depan rumah kami akan sepi tanpanya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s