Nsikan Ekwere: Kini, YAAA Adalah Sebuah Tempat…


Nsikan Ekwere (bertopi) ketika tengah berbincang-bincang bersama tim Journativist Sahabat MKAA.

Nsikan Ekwere (bertopi) ketika tengah berbincang-bincang bersama tim Journativist Sahabat MKAA.

Pada hari jadinya yang keempat, Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika mendapatkan hadiah spesial. Pasalnya, jumlah klub yang bernaung di bawahnya bertambah satu. Menariknya, klub terakhir ini menggenapi MKAA sebagai rumah bagi masyarakat Asia-Afrika.

Adalah Youth African Ambassador in Asia (YAAA), anggota terbaru Sahabat MKAA. Klub yang beranggotakan mahasiswa asal Afrika yang berkuliah di Asia ini resmi menjadi bagian dari keluarga besar MKAA sejak 14 Februari 2015.

“Sekarang, tidak hanya barang-barang tentang Afrika di MKAA,” ungkap Nsikan Ekwere, Presiden YAAA. “Kini, MKAA juga punya orang-orang Afrika,” lanjutnya, mengawali perbincangan bersama Journativist Sahabat MKAA, sehari setelah peluncuran YAAA.

YAAA sendiri merupakan wadah bagi mahasiswa Afrika di Asia. Organisasi kemahasiswaan ini berdiri usai konferensi mahasiswa Afrika pada 26 Oktober 2013 di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta. Kala itu, konferensi yang dihadiri perwakilan dari 9 negara di Afrika tersebut menyepakati untuk membentuk organisasi bagi mahasiswa Afrika yang tengah berkuliah di Asia. Kini, anggotanya tersebar di beberapa negara besar di Asia, seperti Republik Rakyat Tiongkok, Malaysia, Brunei, dan Singapura, serta Indonesia.

Welcome Home
Setahun setelah berdiri, salah satu keinginan YAAA adalah memiliki kesekretariatan sendiri. Meskipun begitu, YAAA tidak mampu membeli atau menyewa rumah. Pasalnya, semua anggotanya adalah mahasiswa Afrika yang tidak memiliki uang yang cukup untuk memiliki kesekretariatan. Terlebih lagi, YAAA didirikan oleh mahasiswa asing di Indonesia, sehingga tidak bisa memiliki legalitas untuk membuat sebuah organisasi. Pada gilirannya, hal ini justru mempersulit mereka untuk memiliki kesekretariatan di Indonesia.

Salah satu cara yang ditempuh oleh Nsikan dan kawan-kawan YAAA adalah mengajukan tempat kesekretariatan di Kedutaan Besar Afrika untuk Indonesia di Jakarta. Namun, hal ini memiliki ganjalan tersendiri bagi sebagian anggota YAAA. Pasalnya, tidak ada yang bisa menjamin keberlangsungan kesekretariatan YAAA bila Duta Besar yang bersangkutan berpindah tugas.

Cara lainnya adalah mengajukan kesekretariatan di perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki mahasiswa dari Afrika. Namun, hal ini juga kandas. Pasalnya, tidak ada perguruan tinggi yang mau memfasilitasi kesekretariatan bagi mahasiswa asing, termasuk YAAA.

Di tengah rasa putus asa ini, Nsikan merenung di kamar kosannya di bilangan Dago, Bandung. Ketika dalam keadaan setengah sadar, ada bisikan yang menyuruhnya untuk datang dan mengajukan kesekretariatan di MKAA. Mendapatkan mimpi tersebut, Nsikan langsung terbangun. Dia pun menceritakan ide ini ke beberapa temannya sesama anggota YAAA. Sayangnya, semua teman yang dihubunginya menolak ide ini. Alasannya, mereka tidak yakin pihak MKAA akan menerima usulan tersebut. Pasalnya, beberapa anggota YAAA menilai bahwa level MKAA hanya untuk pejabat tinggi dan terlalu besar untuk mereka. “Dan akhirnya ide ini pun terkubur dengan sendirinya,” kisah mahasiswa Paska Sarjana Manajemen Resiko Universitas Parahyangan ini.

Namun, secara tidak sengaja, Nsikan bertemu salah seorang staf MKAA di kampusnya. Teringat idenya tersebut, dia pun langsung mengungkapkan keinginannya untuk berkunjung dan bertemu Kepala MKAA. Tanpa diduga, keinginannya tersebut terkabul. MKAA mengundang Nsikan dan rekan-rekannya untuk berkunjung. Lebih dari itu, MKAA pun memiliki keinginan untuk membangun komitmen lebih lanjut dengan YAAA.

Ketika berkunjung ke MKAA, Nsikan mendapatkan pengalaman yang sangat mengesankan sekali. Menurutnya, staf MKAA menyambutnya dengan sangat ramah, terbuka, dan bersahabat. Salah satu yang membekas dalam ingatannya adalah ucapan selamat datang dari Kepala MKAA Thomas Siregar. Kala itu, beliau mengucapkan, “Welcome Home.”

Bagi Nsikan, sambutan tersebut membuat dirinya merasa berada di rumah. Kala itu, Thomas berpandangan bahwa Gedung Merdeka merupakan rumah bagi bangsa Asia dan Afrika. Di tempat tersebut, berbagai bangsa kulit berwarna lahir dan mencapai cita-citanya sebagai negara merdeka.

Dalam kunjungan tersebut, Nsikan menyampaikan harapan YAAA untuk memiliki kesekretariatan di MKAA. Selain itu, dia juga mengusulkan untuk membuat Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika. Tak dinyana, semua cita-cita tersebut terwujud. Setelah menjadi klub termuda di Sahabat MKAA, YAAA pun tengah menggarap Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika pada April 2015 mendatang. “Kini, YAAA tidak hanya nama, tetapi juga sebuah tempat,” ungkap pria yang mengidolakan Nelson Mandela ini.

Di hari-hari pertamanya bergabung di Sahabat MKAA, Nsikan dan kawan-kawan YAAA tengah menggarap program untuk membangun wawasan publik Indonesia tentang Afrika. Pasalnya, banyak orang Indonesia yang masih memandang Afrika sebagai sebuah negara, bukan benua.

Selain itu, Mahasiswa Indonesia juga masih jarang mengkaji tentang Afrika. Padahal, ada banyak pengetahuan yang bisa digali tentang Afrika dan negara-negara di dalamnya.

Pemimpin Masa Depan Dunia
Nsikan sendiri menaruh harapan besar terhadap YAAA untuk membangun Afrika pada masa yang akan datang. Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, pengagum Soekarno ini mendorong agar mahasiswa Afrika yang berkuliah di Asia tidak hanya pulang membawa ijazah semata. “Mereka juga harus membawa nilai-nilai positif dan inspiratif dari Asia ke negara asalnya,” tandasnya.

Oleh karena itu, Nsikan mendorong anggota YAAA untuk selalu membangun dan berbagi idenya selama menjadi mahasiswa. Selain itu, dia juga berusaha untuk membangun kekuatan dan relasi mahasiswa Afrika yang berkuliah di Asia. Bagaimana pun, mereka tidak hanya akan memimpin Afrika pada masa yang akan datang, tetapi juga memimpin dunia.

Alih-alih, Nsikan memilih untuk menggunakan istilah “pemimpin dunia” bagi mahasiswa Afrika. Pasalnya, selama merantau, mereka memiliki akses untuk membangun hubungan dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia lainnya. Selanjutnya, para mahasiswa ini akan menjadi pemimpin di negaranya masing-masing pada masa yang akan datang. Pada gilirannya, hubungan global ini akan membangun masyarakat dunia.

Ditanya resepnya membangun pemimpin masa depan, Nsikan meyakini bahwa para mahasiswa harus membangun kontribusinya dalam berbagai isu di dunia pada hari ini. Pada gilirannya, hal ini yang akan membangun kemampuan dan kesadaran kepemimpinan para pemuda.

Nsikan sendiri menganalogikan pemimpin masa depan dengan orang tua yang memiliki anak. Seringkali, orang tua merencanakan masa depan anaknya tanpa melibatkan sang anak. Sebagai contohnya adalah orang tua yang ingin anaknya menjadi dokter. Barangkali, seorang anak bisa lulus sebagai dokter dari perguruan tinggi ternama.

“Namun, mereka menjadi dokter untuk memuaskan orang tua mereka, bukan atas kesadarannya sendiri,” ungkap Nsikan. Hal ini bisa berdampak cukup besar kepada kehidupan anak tersebut. Karena tidak dilandasi kesadaran untuk memilih cita-citanya, dokter tersebut bisa saja melakukan mal praktik atau membunuh orang.

Hal ini berbeda dengan orang tua yang melibatkan anaknya untuk membangun masa depan buah hatinya. Orang tua tersebut akan merencanakan masa depan anak sesuai dengan cita-cita sang buah hati. Kemudian, anak tersebut bisa melanjutkan rencana orang tuanya tersebut dan menggapai cita-citanya sendiri.

Demikian juga dalam membangun pemimpin masa depan. Nsikan mengharapkan pemimpin saat ini turut melibatkan generasi mudanya untuk membangun negara. “Tidak akan ada pembangunan yang berkelanjutan dan berkembang pada masa yang akan datang bila pemimpin yang lebih tua tidak mempersiapkan pemudanya,” simpul Nsikan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s