Bahasa Inggris Salah paham


Sumber: steve.myers.co

Selama saya menjadi tim penggembira di Sahabat MKAA dalam beberapa tahun terakhir, saya belajar tentang Bahasa Inggris “salah-paham”. Inti ajarannya adalah mentolerir kesalahan dalam Bahasa Inggris dengan catatan bahwa orang yang diajak ngomongnya paham alias mengerti. “Ngak apa2 salah, yang penting lawan bicara paham,” demikian dogma yang diajarkannya.

Berbicara Bahasa Inggris, saya memang memiliki masa lalu yang suram dengan mata pelajaran ini. Waktu SMP, prestasi tertinggi saya untuk pelajaran ini adalah nilai 4 (EMPAT) di raport kelas 2. Prestasi ini hampir tidak terkalahkan oleh nilai 5 (LIMA) untuk Bahasa Inggris di raport SMA. Melihat hal ini, bapak saya cuman geleng2 kepala.

Mengenai bapak saya ini, beliau kerap menggelar les Bahasa Inggris kecil-kecilan di rumahnya, baik di Bandung maupun ketika sudah di Majalengka. Beliau kerap mengajari anak-anak SD dan SMP di sekitar rumah secara sukarela untuk mengenalkan bahasa internasional ini. Alasannya sederhana saja, dia ingin berbagi ilmu yang dimilikinya agar kemampuan Bahasa Inggrisnya tidak luntur.

Lebih jauh tentang beliau, dulu dia pernah hampir dikirim ke Swedia untuk kuliah sarjana pada saat bujang. Namun, hal tersebut tidak terwujud lantaran dia tidak mengikuti tes akhir, yaitu tes kesehatan. Alasannya, surat datang ke rumah orang tuanya ketika dia tengah jalan-jalan ke bali. Karena belum ada ponsel, apalagi internet, dia mengetahui surat tersebut setelah tiba kembali di Majalengka. Voila, dan semuanya sudah terlambat. Tes akhir pun tak diikutinya. “Barangkali kamu tidak akan pernah ada kalau bapak jadi berangkat ke Swedia,” begitu jawabannya ketika saya menanyakan perihal tersebut.

Kembali ke nilai merah pelajaran Bahasa Inggris di raport. Saya memang tidak terlalu berminat mengikuti pelajaran Bahasa Inggris di sekolah. Bila mau mencari kambing hitam, boleh lah gurunya dicat hitam kemudian disebut kambing dengan berbagai alasan yang masuk akal untuk menasbihkannya sebagai kambing hitam.

Meskipun begitu, tampaknya, di sudut pikiran saya yang terdalam, saya punya ketertarikan untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Waktu kelas satu SMA, saya ingin sekali berbincang-bincang dengan relawan mahasiswa dari inggris. Namun, waktu itu saya benar-benar tidak bisa berbicara apa-apa.

Setahun kemudian, datang peneliti dari Amerika ke sebuah LSM tempat saya bernaung. Anehnya, saya mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris ke peneliti tersebut. Bahkan, saking seringnya berkomunikasi, dia sampai bilang bahwa Bahasa Inggris saya cukup baik untuk meneruskan sekolah di negeri Paman Sam. Alih2 semangat, saya malah menilai hal tersebut cuman basa-basi dia saja.

Salah satu yang saya ingat dari proses komunikasi tersebut, saya memang cukup percaya diri untuk berbicara dalam Bahasa Inggris. Tampaknya, hal inilah yang tidak dimiliki teman-teman saya pada saat itu. Dari proses komunikasi itu pula yang membuat Bahasa Inggris saya cukup terasah. Namun, ironisnya, tidak pernah berdampak pada nilai Bahasa Inggris di sekolah. Ditambah lagi, sang peneliti tersebut akhirnya bisa Bahasa Indonesia, dan membuat saya tidak punya lawan bicara Bahasa Inggris lagi. Akhirnya, luntur juga kemampuan saya tersebut.

Saran lainnya juga hadir dari mentor saya kini. Beliau menasihati untuk berbicara Bahasa Inggris dengan pelan dan santai. Tidak perlu terburu-buru dan cepat. “Kalau sudah dapat ekornya, gampang lah bicara Bahasa Inggris itu,” ungkap mentor saya itu. Hal yang dimaksud ekor tersebut adalah berbicara santai dan kalem. Dari beberapa percakapan terakhir, petuah mentor saya tersebut amat sangat berguna. Ketika saya santai, banyak kata-kata yang tidak terduga keluar dari mulut saya. Namun, ketika mulai tegang sedikit dan ucapan saya agak cepat, kacau lah Bahasa Inggris saya.

Meskipun begitu, mengejar ekor tidak mengubah cara saya dalam berbahasa Inggris dengan menggunakan metode salah-paham. Namun, seiring usaha kita untuk mencoba dan belajar serta meningkatkan kemampuan, selalu ada jalan untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s