Berkebun, Modernitas, dan Jalan Transendental


Foto: freegardentips.info

Foto: freegardentips.info

Berbicara tentang aktivitas berkebun di rumah, setiap orang memiliki latar belakangnya masing-masing dan berbeda-beda. Bagi saya, berkebun tidak hanya sebagai sarana menanam sayuran semata. Lebih dari itu, berkebun merupakan sarana untuk menarik diri dari kegilaan hidup di era modernitas.

Era modernitas sendiri hadir dalam berbagai bentuk, seperti konsumerisme, rasionalitas, serba praktis, dan mengukur segalanya dalam bentuk nominal. Keberadaannya di belahan bumi Asia dan Afrika mulai terasa sejak berkibarnya genderang kolonialisme oleh barat. Modernitas menyebar seiring meluasnya penjajahan oleh barat di dunia.

Karen Amstrong menyebut modernitas sebagai era keterpisahan antara kehidupan manusia dengan realitas tertinggi, Tuhan. Modernitas hadir sebagai ungkapan keunggulan kaum industriwan terhadap kalangan agamawan pada abad pencerahan.

Lebih lanjut, Amstrong mencirikan modernitas sebagai eranya efisiensi, spesialisasi, dan terkotak-kotaknya kehidupan dalam berbagai bidang keprofesionalan yang saling mengilhami dan berpengaruh. Dalam hal ini, modal merupakan sumber ekonomi yang bisa diperbaharui tanpa batas, dan kaum borjuis lahir sebagai penguasa baru.

Pada titik ini, manusia lahir dalam wajah baru. Mereka merasa sebagai penanggung jawab atas urusan-urusan mereka sendiri. Selain itu, mereka juga mendasarkan kehidupannya kepada harapan akan perkembangan dan kemajuan yang terus-menerus. Perubahan dilembagakan dan dianggap sebagai keharusan. Kajian sejarah didominasi oleh mitos tentang kemajuan.

Dalam konteks masyarakat beragama seperti di Indonesia, kondisi modern ini selanjutnya membawa manusia kepada apa yang disebut William Chittick sebagai Skizofrenia Cultural. Sederhananya, istilah ini merujuk kepada manusia yang berdiri di dua kaki, yaitu praktik keagamaan dan kehidupan berdasarkan rasionalitas. Menariknya, keduanya saling berseberangan satu sama lain.

Sebagai contohnya, kita mengamini bahwa kecepatan terjauh adalah cahaya. Namun, di sisi lain, kita juga mengimani peristiwa Isra Mi’raj Muhammad SAW yang berangkat ke langit ke tujuh dalam waktu hanya satu malam. Fenomena lainnya adalah belajar tentang hukum riba dalam agama, tetapi mempraktikan riba dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, William Chittick menggambarkan fenomena ini dalam kalimat, “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat tangan-tangan manusia. (QS. 30:41). “Kerusakan” (fasad), menurutnya didefinisikan sebagai “tidak adanya kebaikan”. Kebaikan ini berarti keutuhan, kesehatan, keseimbangan, harmoni, koherensi, ketertiban, integrasi, dan kesatuan pada level individual, sosial, dan kosmis. Nilai-nilai kebaikan ini tergerus oleh modernitas, bahkan hingga detik ini.

Kembali ke berkebun. Berkebun merupakan sarana untuk mengembalikan ritme tradisi sekaligus memulihkan diri dari kepungan modernitas. Berkebun semacam cara untuk mengadakan kembali kebaikan-kebaikan dalam kehidupan seorang individu. Lebih dari itu, berkebun merupakan terapi untuk mengembalikan fokus diri kita kepada realitas tertinggi di tengah rutinitas perkotaan kita.

Bagi saya, aktivitas berkebun membawa diri ini kepada kesadaran masyarakat pertanian. Masyarakat ini memiliki waktu senggang serta sumber daya untuk mengkreasi berbagai bentuk kebudayaan. Mereka juga bergantung (dan memiliki kesadaran) kepada berbagai variabel, seperti tanaman, hasil panen, iklim, dan erosi.

Pada gilirannya, kesadaran terhadap lingkungan dan kemampuan mengkreasi bentuk kebudayaan ini mampu membawa manusia agraris ke dalam fase terbaik manusia, yaitu manusia yang memiliki kesadaran terhadap realitas tertinggi. Tak heran, bila dalam fase ini, agama pernah mencapai puncak kegemilangannya, termasuk Islam.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s