Mengurai Warisan Konflik Sunni-Syiah


Foto: Blogspot.com

Saya suka tidak habis pikir, mengapa beberapa kalangan hobi sekali mengharamkan Syiah? Malah, mereka sampai punya pelatihan “Anti-Syiah” segala. Apakah dengan mengharamkan Syiah, membuat mereka yang Anti-Syiah itu otomatis jadi lebih baik dan berhak masuk surga, gitu?

Kasus ini sebenarnya berawal dari konflik politik Sunni-Syiah yang sudah berjalan selama berabad-abad lamanya. Konflik ini pernah mencapai puncaknya dan terlembagakan dalam kekaisaran Islam, pada abad 15-16. Kala itu, ada 3 kekaisaran Islam, yaitu kekaisaran Turki Ustmani di Asia Kecil dan Eropa Timur yang berbasis Sunni, Kekaisaran Shafawi di Iran dan Asia Tengah yang berbasis Syiah, dan Kekaisaran Moghul di India yang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama.

Sepanjang abad 16, kekaisaran Turki Ustmani dan kekaisaran Shafawi membentuk kubu yang saling berlawanan satu sama lain. Syah Ismail, pendiri Dinasti Syafawi, berusaha untuk menghapuskan Sunni dan memaksakan Syiah dengan kekerasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Sunni di kerajaan Ustmani. Mereka menindas Syiah di wilayah kekuasaan mereka. Terlebih lagi, karena berada di garis depan Perang Salib, Turki Ustmani juga mengembangkan sikap yang keras terhadap warga Kristen.

Meskipun begitu, tingkat akar rumput bertolak belakang dengan pandangan para pemimpinnya. Para ulama Syiah Iran di akar rumput lebih memilih untuk menentang penguasa dan menjadi pembela Ummah guna melawan tekanan kerajaan. Mereka mengembangkan tradisi yang melindungi hak para pedagang dan fakir miskin dari gangguan para Syah, julukan bagi pemimpin kekaisaran Syafawi. Di era modern, golongan akar rumput inilah yang kemudian menumbangkan rezim korup Syah Muhammad Reza Pahlevi di Iran pada 1979.

Sedangkan Kekaisaran Islam Moghul di India menanamkan toleransi terhadap tradisi lain di luar Islam, khususnya Hinduisme. Semangat toleransi ini ditunjukkan oleh raja kekaisaran Moghul ketiga era 1560-1605, yaitu Akbar. Dia menjadi seorang vegetarian dan meninggalkan kebiasaan berburu binatang serta melarang penyembelihan hewan kurban pada ulang tahunnya dan di tempat suci orang Hindu. Semua ini dilakukan Akbar untuk menghormati penganut Hindu. Bahkan, Akbar mendirikan Rumah Ibadah yang menjadi tempat para ahli semua agama berkumpul mendiskusikan masalah ketuhanan.

Di tingkat akar rumput, pada abad 15 juga terdapat banyak kelompok antar-iman Muslim dan Hindu di Kekaisaran Moghul, India. Sebagian di antaranya kemudian bertransformasi menjadi Sikhisme, atau yang saat ini dikenal sebagai agama Sikh, agama yang merupakan perpaduan antara ajaran Islam dan Hindu. Kekaisaran Moghul sendiri hilang akibat fanatisme destruktif penguasa dan rakyatnya selepas wafatnya Akbar.

Adapun Kekaisaran Turki Ustmani, kehilangan kekuasaannya di Eropa Timur. Hal ini buntut dari pemberontakan yang dipimpin oleh Ferdinand dan Isabella di Grenada, Spanyol. Di titik ini pula para ulama Sunni mengumumkan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, dan kaum Muslim harus tunduk (taqlid) pada permikiran para mutjahid masa lampau. Tak heran bila peradaban Islam Sunni mulai kehilangan gagasan inovatifnya pada fase ini.

Pada era modern, khususnya dalam Perang Dunia I, kekaisaran Turki Ustmani ikut serta berperang di kubu Kekaisaran Jerman. Kekalahan Jerman dan sekutunya di Perang Dunia I ini, membuat kekaisaran Turki Ustmani harus bubar serta rela dijajah negara pemenang Perang Dunia I. Meskipun begitu, “Barisan Sakit Hati” bubarnya kekaisaran Turki Ustmani ini masih mewarisi kebencian yang sama terhadap Syiah dan Kristen, yang kemudian meluas menjadi negara-negara barat. Kebencian ini tampak sekali dalam dokrin gerakan organisasi-organisasi kaderisasinya.

Saat ini, ketiga kekaisaran Islam tersebut sudah musnah. Kekaisaran Islam terakhir runtuh bersamaan dengan reformasi dan penggulingan rezim korup Reza Pahlevi awal 1980 silam. Dengan keruntuhan tersebut, seharusnya runtuh pula konflik politik antara Sunni dan Syiah. Idealnya, penganut Islam memasuki babak baru untuk lebih fokus membangun umatnya agar sesuai dengan ajaran welas asih sang Rasul.

Sayangnya, “Barisan Sakit Hati” dari runtuhnya kekaisaran Islam Turki Ustmani masih mewarisi tradisi konflik Sunni-Syiah. Organisasi turunannya pun masih meneriakkan Anti-Syiah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hal ini jugalah yang ditunggangi oleh pihak ketiga untuk meraup keuntungan dari konflik politik masa lalu tersebut. Hasilnya, keadaan dunia yang semakin rumit dan kacau.***

6 thoughts on “Mengurai Warisan Konflik Sunni-Syiah

  1. oipiyah berkata:

    Menurut saya, artikel ini terlalu banyak menyederhanakan masalah Sunni-Syiah, om Yudha. Terlalu banyak bolong-bolong dalam argumennya, ya karena itu, terlalu menyederhanakan sejarah.
    Akar permasalahan Sunni-Syiah memang harus ditarik ke asal-mula konfliknya sih: masa pasca Kulafaur Rasyidin. Sayangnya, masa itu adalah masa-masa “gelap” dan “kelam” dalam sejarah Islam. Masa penuh pembunuhan dan penindasan. Jadi memang tak mudah untuk menguraikan sejarah masa itu tanpa memihak dan objektif, jikalau pun bisa, bersiaplah dituduh memihak.
    Dan hebatnya lagi, konflik sunni-syiah tuh bukan sekedar konflik dendam sejarah berkelanjutan, juga konflik politik dan kepercayaan. Ditambah fanatisme berlebihan pemeluknya, jadilah konflik yang tak akan mudah diselesaikan. Saya setuju dengan Ust. Mubarak Islam, kalau mau mendamaikan sunni-syiah, jika memang bisa, ya harus sama-sama mengembalikkan semuanya ke Al Quran. Tetapi, rasanya sulit, jika masing-masing tetep keukeuh pakiweuh dan saling tuding-menuding satu sama lain.

    btw, om Yudha, koreksi, Grenada atau Granada itu di Spanyol atawa Andalusia nah itu tuh bukan Eropa Timur dan bukan juga kekuasaan Turki Usmani, tetapi sisa-sisa kekuasaan Khilafah Umayah. Kalau Eropa Timur tuh lebih ke negara-negara Semenanjung Balkan dan Crimea, macam Bosnia, Albania, Serbia, dkk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s