Sains dan Teknologi dalam Kajian Ilmu Sosial


Foto: Blogspot.com

Meskipun judulnya rapat Journativist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika, tetapi obrolan di dalamnya justru tidak berkaitan dengan aktivitas kami di bidang media dan jurnalisme, tetapi malah seputar fenomena hubungan internasional saat ini. Pasalnya, sebagian peserta rapat adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional. Meskipun berbeda perguruan tinggi, tetapi obrolan mereka cukup seru dan nyambung.

Adalah Eme dan Opie. Eme adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, sedangkan Opie adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pasundan. Mereka dengan asiknya membincangkan fenomena di bidang Hubungan Internasional. Mulai dari soal ASEAN Community, penerapan AFTA, hingga konflik di benua Afrika. Semuanya menjadi begitu seru dan menarik ketika meluncur dari lisan mereka.

Terlebih lagi, kedua mahasiswa sarjana ini aktif membuat paper terkait Hubungan Internasional dan kerap mengikuti Pertemuan Nasional Mahasiswa/i Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII). Dalam PNMHII ini, para mahasiswa Hubungan Internasional dari seluruh Indonesia ini berkompetisi beradu paper mereka, termasuk Eme dan Opie. Bahkan, Eme dan kawan-kawannya kerap menjuarai kompetisi paper Hubungan Internasional PNMHII ini. Keren kan, mereka?

Kami, peserta diskusi lainnya yang latar belakangnya bukan dari bidang Hubungan Internasional, dengan asyik mendengarkan diskusi sembari sedikit-sedikit menanggapi. Tentunya menanggapi dari sudut pandang latar belakang bidang kami masing-masing.

Melihat begitu bergairah (passionate) mereka membicangkan tentang fenomena di dunia Asia dan Afrika, saya kemudian mengajak mereka untuk bergabung ke Forum Studi Asia-Afrika (FSAA) yang akan dibentuk oleh Museum Konperensi Asia-Afrika dalam waktu beberapa bulan ke depan. Forum ini terdiri dari para akademisi yang memfokuskan diri untuk mengkaji Asia dan Afrika. Bidang kajiannya pun luas dan tidak melulu Hubungan Internasional.

Di tengah gairah diskusi ini, tiba-tiba salah seorang peserta berkomentar apatis tentang ajakan bergabung di FSAA ini. Pasalnya, dia lulusan Meteorologi ITB. “Berarti saya nggak bisa masuk FSAA, dong? Kan saya bukan anak ilmu sosial,” begitu celetuknya.

Celetukannya ini kemudian saya balas dengan celetukan juga. Saya bilang bahwa meteorologi sangat erat dengan fenomena sosial dan politik. Sebagai contohnya adalah peristiwa tumbangnya Orde Baru, yang diganti Orde Reformasi. Tidak bisa dipungkiri, salah satu faktor utama yang mendukung perubahan orde politik di Indonesia adalah fenomena meteorologi di Indonesia kala itu. Celetukan saya ini pun mengundang reaksi skeptis dari peserta diskusi. “Kok bisa?” begitu komentar paras wajah mereka.

Pasalnya, saya lanjut bercerita, pada 1997 silam, Indonesia mengalami fenomena iklim Elnino yang sangat hebat. Elnino ini menyebabkan kekeringan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Saat itu, para petani mengalami kegagalan panen bahan pokok. Akibatnya, kesediaan bahan makanan pun berkurang, bahkan mencapai titik kritis. Ujung-ujungnya, harga bahan makanan pun menjadi tinggi, dan disusul merosotnya ekonomi Indonesia dengan cukup tajam.

Ketika pemerintah tak kuasa mengatasi persoalan ekonomi ini, rakyat dan mahasiswa pun mengambil tindakan turun ke jalan. Kisah selanjutnya, tentunya sudah kita ketahui bersama, Orde Baru runtuh dan digantikan dengan Orde Reformasi.

Celetukan saya yang satu ini ditanggapi ungkapan “Wow” oleh peserta diskusi. Anehnya, saya juga merespon dengan ungkapan yang sama. Keterkejutan saya bukan tentang fakta yang saya ceritakan di atas, tetapi kesadaran saya tentang potensi FSAA yang bisa diikuti oleh akademisi dari bidang sains dan teknologi.

Selain contoh fenomena Meteorologi yang berakibat pada perubahan sosial masyarakat, seperti yang saya ceritakan di atas, fenomena sains dan teknologi lainnya juga bisa masuk. Misalnya saja tentang kemunculan perang siber (Cyber War) di era digital, atau juga hubungan antara keadaan geologi sebuah negara dengan politik luar negerinya. Dengan kata lain, semua bidang sains dan teknologi ini berpotensi besar untuk masuk dalam kajian FSAA.

Dari diskusi tersebut, saya juga semakin sadar bahwa semua ilmu pengetahuan adalah tentang manusia dan kemanusiaan. Tidak hanya ilmu-ilmu ranah sosial saja yang membahas manusia dan kemanusiaan. Namun, ilmu-ilmu di ranah sains dan teknologi juga tidak bisa lepas dari manusia dan kemanusiaan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s