PR (Pikiran Rakyat) Baru


Screenshot Pikiran Rakyat edisi 6 Oktober 2014

Screenshot Pikiran Rakyat edisi 6 Oktober 2014

Pikiran Rakyat. Nama ini memiliki makna tersendiri bagi saya. Secara tidak langsung, koran terbesar di Jawa Barat ini banyak membantu membangun kemampuan menulis dan wawasan kejurnalistikan saya.

Sejak kelas 1 SMA, saya mulai menulis di Pikiran Rakyat. Saat itu, kolom Suara Hati Pelajar (SHP) menjadi ruang saya berkreasi dan berekspresi. Bahkan, saya kerap direkomendasikan untuk mengikuti lomba menulis oleh guru-guru SMA. Tentunya, berkat kesediaan Pikiran Rakyat yang mencetak nama saya di kolom khusus untuk pelajar SMP dan SMA tersebut.

Ternyata, minat saya terhadap Pikiran Rakyat tidak sebatas menulis di kolom SHP. Semakin saya sering membaca Pikiran Rakyat, saya semakin penasaran dan ingin melihat “dapur” redaksi dari dekat. Menengok cara kerja wartawan, mengintip riuhnya Newsroom, hingga melongok cara mesin cetak bekerja. Itulah “hasrat” terpendam saya kala itu.

Untuk meredakan hasrat tersebut, seringkali saya mengantarkan sendiri tulisan saya untuk SHP langsung ke pos satpam redaksi. Berharap bisa melihat “dapur” redaksi dari dekat. Alih-alih, satpam hanya mengizinkan saya menaruh tulisan saya di mejanya. Setelah itu, satpam mempersilahkan saya balik-kanan dan bubar jalan.

Meskipun begitu, saya belum kapok juga untuk melihat Newsroom Pikiran Rakyat. Usaha lainnya pun saya lakukan. Salah satunya mencari kenalan wartawan Pikiran Rakyat yang bisa mengajak saya “main” ke redaksi. Beruntung, kala itu ada teman dari kakak saya yang bekerja sebagai wartawan di Pikiran Rakyat. Beliau satu almamater di Biologi UNPAD dengan kakak saya. Beruntung pula, saya mendapatkan nomor ponsel beliau.

Beberapa kali berkomunikasi melalui SMS, beberapa kali juga saya mengungkapkan keinginan saya untuk melihat proses penerbitan koran Pikiran Rakyat ke kawan kakak saya tersebut. Sayangnya, Tuhan belum memberikan izin untuk saya bisa main ke ruang redaksi kala itu. Hingga secara tidak sadar, saya bertekad untuk bisa berkontribusi dan bermain di kantor Redaksi Pikiran Rakyat suatu hari nanti.

Singkat cerita, saya lulus kuliah dari UNPAD. Kala itu, saya bertekad untuk aktif berorganisasi di komunitas. Tekad saya itu dilengkapi dengan sikap nekad untuk tidak bekerja. Hasilnya, saya sukses menjadi aktivis bergelar pengangguran.

Namun, inilah yang kemudian membawa saya kembali bersentuhan dengan Pikiran Rakyat. Pasalnya, saya memenuhi kebutuhan bulanan dengan cara menulis di Pikiran Rakyat. Saat itu, saya kerap menulis tentang Free and Open Source Software (FOSS) di suplemen Cakrawala.

Melalui tulisan di Pikiran Rakyat pula, saya jadi terkoneksi dengan kalangan yang lebih luas lagi. Berkenalan dengan aktivis FOSS yang lebih luas, terkoneksi dengan para dosen ITB yang kerap bersentuhan dengan FOSS, bersentuhan dengan para pengusaha di bidang FOSS, hingga akhirnya yang cukup unik adalah berkenalan dengan Wakil Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat kala itu. Dan secara tidak langsung, perkenalan tersebut malah membuat saya kemudian bergabung untuk mengembangkan Salman Media. Sebab-akibat yang membingungkan, kan? Sama, saya juga bingung. Haha.

Namun, di Salman Media ini, justru saya semakin intens membangun relasi dengan Pikiran Rakyat. Saya semakin banyak berkenalan dengan para wartawan Pikiran Rakyat. Dari mereka, saya banyak belajar tentang menulis dan fotografi. Seringkali pula saya “nongkrong” dengan beberapa wartawan yang usianya sebaya dengan saya.

Lebih memukau lagi, saya kerap menginjakkan kaki di kantor Redaksi Pikiran Rakyat. Saya sesekali bisa mengintip sibuknya para wartawan mengejar deadline. Juga, kerap mendapatkan banyak wawasan tentang media dan jurnalistik langsung dari “jantung” redaksi Pikiran Rakyat. Bahkan, saya sempat menjadi kontributor rubrik Gadget (sekarang Gawai) sekitar 6 bulan pada awal kelahirannya. Sebuah tekad dan mimpi yang terpendam, kemudian menjadi kenyataan 10 tahun kemudian.

Dan kini, Redaksi Pikiran Rakyat yang kerap saya kunjungi, sudah berubah menjadi abu. Kebakaran hebat pada Sabtu, 4 Oktober 2014 menghanguskan segala yang berada di kantor Redaksi Pikiran Rakyat. Saya pribadi tidak mampu mendefinisikan perasaan ketika melihat foto api-api merah yang tengah melahap ikon tulisan “Redaksi Pikiran Rakyat” di selasar kantor redaksi. Sebuah ikon yang selalu membuat saya bersemangat untuk melangkahkan kaki menuju redaksi ketika melihatnya dari pintu gerbang kantor.

Meskipun begitu, satu hal yang pasti, api-api itu tidak pernah mampu menghapus kenangan saya dengan Pikiran Rakyat. Juga tidak mampu meluluh lantahkan semangat para punggawanya untuk terus mengabarkan “Jurnalisme Khas Pasundan” kepada rakyat Jawa Barat. Seperti yang para wartawannya tulis di media sosialnya masing-masing, “Kami tidak mati. Pikiran Rakyat tetap terbit Senin!”

Yups, Senin, 6 Oktober 2014, Pikiran Rakyat memenuhi janjinya tersebut. Sebagai bentuk pengabdian dan dedikasi mereka untuk mewartakan berbagai peristiwa kepada rakyat Jawa Barat. Sebagai warga Bandung, saya hanya berharap, terbitnya edisi baru ini bukan hanya janji untuk tidak mati. Edisi baru ini, semoga juga menjadi tanda bahwa Pikiran Rakyat bersiap menjadi benar-benar baru. Bukan hanya semangat dan kebersamaan yang baru, tetapi juga media dan jurnalismenya pun ikut baru.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s