Trilogi Biografi Muhammad


Buku tentang Muhammad karya 3 penulis besar tentang Islam (dari kiri ke kanan): Martin Lings, Karen Armstrong, dan Annemarie Schimmel

Buku tentang Muhammad karya 3 penulis besar tentang Islam (dari kiri ke kanan): Martin Lings, Karen Armstrong, dan Annemarie Schimmel

Berbicara tentang Muhammad, saya banyak mengenal beliau dari 3 buku favorit saya yang berkisah tentangnya. Ketiganya merupakan karya dari 3 penulis keagamaan yang diakui dunia. Ketiga buku itu adalah: Dan Muhammad Adalah Utusan Allah karya Annemarie Schimmel; Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings; dan Muhammad Prophet For Our Time karya Karen Armstrong.

Saya merasa ketiga buku tersebut memiliki kekuatannya masing-masing dan saling melengkapi. Buku karya Annemarie Schimmel menyajikan pembahasan berdasarkan tema-tema besar Muhammad yang ditelusuri dari sudut pandang tasawuf. Schimmel banyak menggali kitab-kitab para sufi besar yang berkisah tentang nabi terakhir umat manusia ini. Cocok bagi mereka yang ingin menelusuri hakikat kehidupan Muhammad.

Bagi saya, paparan Schimmel membangun sudut pandang baru terkait kehidupan Rasulullah. Misalnya saja tentang Isra Miraj. Ketika banyak orang saat ini berusaha menerangkannya dalam konteks sains modern, Schimmel justru membawa pembacanya mengenal mode keadaan ekstatik yang merupakan tradisi para mistikus.

Keadaan ekstatik merujuk pada keluarnya jiwa dari jasad yang melakukan perjalanan menembus ruang tanpa dipengaruhi waktu. Muhammad, ketika melakukan miraj, merasa menempuh perjalanan yang sangat lama. Padahal, ketika terbangun, Schimmel menuliskan, “Tempat tidurnya (Muhammad) masih hangat dan bahwa tempayan airnya, yang terjatuh ketika dia (Muhammad) dibawa pergi, sama sekali tidak bocor.”

Buku Schimmel sendiri terbit pertama kali dalam bahasa Inggris dengan judul And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety. Diterbitkan oleh The University of North Carolina Press, Chappel Hill and London pada 1985. Saya sendiri memiliki edisi bahasa Indonesianya yang diterbitkan oleh Mizan pada 1998. Saya membelinya pada 2010 lalu, ketika Lawang Buku mengobral buku bekasnya. Jujur, saya belum selesai membacanya sampai sekarang. Gaya bahasanya yang sangat akademis membuat saya harus berulang kali membacanya untuk memahami pesannya.

Annemarie Schimmel sendiri merupakan profesor di bidang Islam dan sufisme. Semasa hidupnya, Schimmel telah menelurkan 50 buku terkait Islam, mistisme, dan sufisme. Berkat kerjanya ini, pemerintah Pakistan menganugerahinya Bintang Agung Sitara-e-Imtiaz yang merupakan penghargaan tertinggi bagi warga negara dan Bulan Sabit Agung Hilal-e-Imtiaz.

Schimmel lahir di Erfurt Jerman pada 7 April 1922. Hingga wafatnya pada 25 Januari 2003, tidak ada yang mengetahui agama yang dianutnya. Bila pun ada yang bertanya, Schimmel umumnya mengelak dan memberikan pernyataan, semisal, hanya mereka yang tidak yakin apakah mereka muslim yang baik atau tidak yang benar-benar dapat menjadi muslim yang baik.

Buku Muhammad lainnya adalah karya Martin Lings. Diterbitkan pertama kali dengan judul Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources oleh The Islamic Text Society, Cambriedge, United Kingdom pada 1983. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Serambi sejak 2007 silam.

Buah tulis Lings ini disebut-sebut sebagai biografi nabi terbaik dalam bahasa Inggris pada Konferensi Sirah Nasional di Islamabad pada 1983. Tak heran bila buku ini laris dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Perancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Bahkan, di Indonesia saja, ketika saya membeli buku ini, dalam kurun 2 tahun sudah mencetak ulang hingga 7 cetakan.

Kekuatan buku ini terletak pada narasinya. Lings berhasil menyedot pembacanya untuk ikut merasakan kehidupan Muhammad sejak lahir hingga wafatnya. Dia mampu memilih fakta-fakta yang membuat pembacanya kembali ke jazirah Arab saat Islam pertama kali hadir. Lings benar-benar mampu menghadirkan suasana zaman rasulullah ke kehidupan 14 abad setelahnya.

Bahkan, ketika selesai membaca buku ini, saya ikut merasakan kehilangan sosok sang nabi akhir zaman ini. Setelah membaca bab wafatnya Muhammad, saya merasakan kesedihan para sahabat, para istri, dan keluarga rasulullah. Dan salah satu yang membuat saya ikut kehilangan Muhammad pada bab terakhir adalah perkataan Umar, “Saat aku mendengar Abu Bakar membaca ayat itu (QS 3:144), aku begitu terkejut hingga tubuhku tersungkur ke tanah. Kedua kakiku tak mampu berdiri, dan aku tahu Rasulullah telah wafat.”

Martin Lings merupakan penulis asal Inggris yang banyak menulis kisah Islam dan sufisme. Lahir pada 24 Januari 1909 di Burnage, Manchester, Inggris, Lings mengawali fase persentuhannya dengan Islam ketika mengajar di Universitas Kairo, Mesir pada 1940. Tak lama kemudian, dia berpindah agama ke Islam dan mulai mendalami dimensi Sufi.

Pada 1952, Lings terusir dari Mesir karena gerakan anti Barat di negeri Firaun tersebut. Kemudian dia pindah ke London dan meneruskan pendidikannya hingga mencapai gelar Doktor dengan tesisnya mengenai Sufi Aljazair Ahmad al-Alawi. Tesisnya inilah yang kemudian mengantarkannya menelurkan buku paling berpengaruhnya A Sufi Saint Of The Twentieth Century.

Pada 1955, Lings bekerja di British Museum sebagai asisten penjaga buku dan manuskrip timur. Pekerjaannya ini membuatnya fokus pada ketertarikannya pada kaligrafi Alquran. Hingga dia menerbitkan buku dengan judul The Quranic Art of Calligraphy and Illumination pada 1976. Sejak saat itulah dia mulai rajin menulis. Hingga menelurkan biografi Muhammad pada 1983. Martin Lings wafat pada 12 Mei 2005.

Sedangkan buku ketiga tentang Muhammad yang saya punya adalah karya Karen Armstrong, sang profesor agama samawi. Bagi saya, buku Armstrong berusaha menghadirkan konteks sosial, politik, dan budaya pada zaman Rasulullah. Hal yang sangat jarang dihadirkan oleh kebanyakan buku sejarah para nabi. Dari paparan Armstrong ini, pembaca bisa mengetahui alasan dibalik setiap tindakan Muhammad, dimulai dari perang, hijrah ke Madinah, hijab untuk perempuan, hingga menikahi banyak wanita.

Armstrong sendiri menulis buku Muhammad pertama kali setelah munculnya novel Ayat-Ayat Setan karangan Salman Rusdie pada 1992. Saat itu, buku ini dimaksudkan untuk mengimbangi novel tersebut yang dinilai merendahkan Rasulullah.

Kemudian, Armstrong merevisi bukunya setelah peristiwa 911 di Amerika. Saat itu, penilaian masyarakat barat terhadap Islam sangat buruk. Bahkan, Islam dipandang sebagai agama yang barbar, menyukai perang, dan tidak berperi kemanusiaan. Buku ini, salah satunya hadir untuk menjembatani masyarakat barat terhadap sosok Muhammad yang dipaparkan Armstrong sebagai manusia suci, penuh kelembutan, dan pemimpin yang luar biasa.

Konteks inilah yang membuat saya akhirnya mengetahui tindak-tanduk Muhammad saat itu. Tindak-tanduk yang tentu bukan dilandasi oleh hawa nafsu, tetapi oleh tuntunan wahyu. Sehingga saya bisa terlepas dari prasangka dan pertanyaan seputar kehidupan Rasulullah SAW. Dan meneladaninya sebagai manusia yang paripurna dan hamba Allah yang paling dikasihi-Nya.

Karen Armstrong sendiri merupakan penulis asal Inggris yang terkenal dengan karyanya seputar Islam, Kristen, dan Yahudi serta Budha. Salah satu buku fenomenal wanita kelahiran 14 Nopember 1944 ini adalah Sejarah Tuhan yang menceritakan ihwal pencarian manusia akan penciptanya. Buku terakhirnya yang juga menuai banyak sanjungan dan pujian adalah Twelve Steps to a Compassionate Life. Buku ini menyampaikan tentang ajaran kasih-sayang yang hadir dalam 3 agama samawi.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah atasnya dan ucapkanlah keselamatan atasnya. [QS. 33:56]

8 thoughts on “Trilogi Biografi Muhammad

  1. yulijannaini berkata:

    Umurku mau ke24 tapi belum ada 1pun buku siroh kubaca sampe tamat… >,< karena biasanya dapet siroh yg bahasanya sangat bagus, saking bagusnya harus diulang2.. Dan keburu teralihkan sama buku lain (yang biasanya novel)..
    Kira2 yg cocok buku buatku yg mana ya pak boss???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s