Belajar dari Rotary Club Bandung


Foto: arburyrotary.org.uk

Foto: arburyrotary.org.uk

Tak terasa, sudah 6 bulan saya membantu penerbitan majalah Rotary Club Bandung. Meskipun saya bukan Rotarian (julukan bagi anggota Rotary), tetapi saya banyak belajar dari organisasi kemanusiaan tersebut, khususnya tentang manajemen organisasi dan komunitas.

Rotary sendiri merupakan organisasi kemanusiaan yang didirikan oleh Paul Harris pada pada 23 Februari 1905 di Chicago, Amerika. Saat itu, Paul mendirikan Rotary sebagai klub profesional dan pebisnis untuk mempererat pertemanan dan persahabatan. Nama Rotary sendiri dipilih karena organisasi ini kerap melakukan pertemuan pekanan secara bergiliran di kantor anggotanya.

Selang setahun, ternyata Rotary banyak diminati oleh profesional dan pebisnis di Chicago. Pada saat bersamaan, Paul Harris merasa organisasinya ini perlu membangun tujuan yang lebih tinggi dari hanya sekedar organisasi perkumpulan semata. Hingga akhirnya pada 1907, mereka menginisiasi proyek layanan publik pertama dengan membangun toilet publik di Chicago. Langkah inilah yang akhirnya membuat Rotary merubah visinya dari sebuah perkumpulan profesional dan pebisnis biasa menjadi perkumpulan yang mampu melakukan layanan kemanusiaan. Sejak saat itu, Rotary Club pun mulai diminati oleh banyak orang di dunia, termasuk di Bandung, Indonesia.

Keterlibatan saya dengan Rotary Club Bandung sendiri dimulai pada Juni 2013 silam. Saat itu, pak Hemat Dwi Nuryanto mengajak saya untuk membantu penerbitan majalah Rotarian .bdg. Tawaran ini tentu saja saya terima dengan senang hati. Mengingat bidang saya adalah jurnalisme dan media. Ditambah lagi, saat itu saya sedang benar-benar menganggur. Sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ternyata, pelajaran yang saya dapatkan tidak hanya seputar jurnalisme dan media semata. Namun, saya juga belajar tentang manajemen organisasi dan komunitas yang sudah dikembangkan oleh Rotary Club Bandung. Setelah saya runut, setidaknya ada 3 pelajaran yang saya dapatkan dari Rotary.

Pertemuan Pekanan

Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari Rotary adalah pertemuan pekanan. Setiap Rotary Club di seluruh dunia wajib menggelar pertemuan ini, dan setiap Rotarian harus menghadirinya. Bila seorang Rotarian berhalangan hadir, dia harus menggantikan ketidakhadirannya dengan mendatangi pertemuan Rotary Club lainnya. Atau bisa juga dengan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan Rotary Club.

Dalam setiap pertemuannya, umumnya Rotarian membahas tentang masalah keorganisasian dan proyek yang akan dilakukan. Untuk proyek, biasanya mereka membahas berkenaan dengan lokasi proyek, jenisnya, manajemen proyek, hingga pendanaan. Pembahasan ini benar-benar transparan dan sangat detail. Sehingga tujuan proyek bisa tercapai.

Kewajiban untuk bertemu setiap pekan ini, menurut saya, membuat setiap anggota Rotary memiliki ikatan yang kuat, baik dengan sesama Rotarian maupun terhadap organisasinya. Ikatan yang kuat ini pulalah yang membuat Rotary bisa menggelar banyak proyek kemanusiaan setiap tahunnya.

Padahal, Rotary ini organisasi yang anggotanya merupakan profesional dan pebisnis yang agendanya sangat padat setiap harinya. Bukan diisi oleh pengangguran atau mereka yang punya waktu luang sangat banyak. Sehingga bisa dibayangkan betapa kerasnya usaha mereka meluangkan waktu untuk hadir pada setiap pertemuan.

Bagi saya yang kerap aktif di komunitas, cara Rotary dalam membangun ikatan dengan anggotanya cocok untuk diterapkan. Pertemuan pekanan, walaupun seringkali membosankan, harus secara konsisten dilakukan dan dipertahankan. Meskipun hanya sebentar, sekitar 1 jam, cara ini bisa membangun keakraban antar anggotanya.

Saat ini, saya pribadi sedang membangun beberapa usaha. Karena belum memiliki kantor, saya dan teman-teman pun bekerja di rumah masing-masing. Untuk tetap menjaga tali koordinasi, saya memaksa untuk bertemu setiap pekan. Cara ini memang efektif untuk membangun perkembangan pekerjaan. Namun, seringkali harus kandas karena kesibukan masing-masing. Akhirnya, beberapa usaha saya mandek karena kegagalan mempertahankan konsisten bertemu setiap pekan ini.

Pemilihan Presiden Rotary Club

Setiap tahunnya, Rotary Club Bandung menggelar pemilihan Presiden Club. Uniknya, pemilihan presiden dilakukan 1,5 tahun sebelum presiden terpilih menjabat.

Masa bakti seorang Presiden Rotary Club sendiri dimulai pada Juli setiap tahunnya. Dia menjabat selama setahun hingga Juli tahun berikutnya. Adapun pemilihan Presiden Club dilakukan pada Desember setiap tahunnya.

Untuk Presiden Club yang terpilih pada Desember 2013, dipersiapkan untuk masa bakti 2015-2016. Presiden terpilih ini akan menyandang status sebagai Presiden Nominee hingga Juli 2014. Selanjutnya, antara Juli 2014 hingga Juli 2015, dia akan menyandang status President Elect. President Elect sendiri berfungsi sebagai wakil Presiden Club. Tugasnya mendampingi Presiden Club selama setahun dan menggantikan peran presiden bila berhalangan hadir. Baru pada Juli 2015 hingga Juli 2016, President Elect akan menyandang status sebagai Presiden Rotary Club.

Cara ini merupakan salah satu bentuk kaderisasi Presiden Rotary Club. Sehingga yang bersangkutan tidak akan kaget ketika masa baktinya sebagai Presiden tiba. Selain itu, cara ini membangun kesinambungan program antar Presiden Rotary Club. Sehingga visi dan misi organisasi bisa berjalan dengan baik dan dalam waktu yang cukup panjang.

Saya sendiri berencana menerapkan hal ini di Klab Citizen Journalist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika (SMKAA) Bandung. Koordinator akan dipilih setahun sebelumnya. Sehingga yang bersangkutan bisa mendampingi koordinator aktif klab CJ SMKAA dan bisa mempersiapkan dirinya untuk setahun selanjutnya.

Siklus koordinator Klab CJ SMKAA sendiri saya pikir baiknya dimulai pada Mei setiap tahunnya. Hal ini menimbang puncak perayaan Konferensi Asia-Afrika yang jatuh pada 18-24 April setiap tahunnya. Sehingga koordinator Klab CJ SMKAA bisa mempersiapkan timnya untuk menghadapi puncak perayaan KAA pada April tahun depannya.

Bagi Sahabat MKAA, April merupakan bulan ujian sekaligus bulan unjuk gigi. Pasalnya, mata dunia umumnya menyorot perayaan konferensi kulit berwarna pertama di dunia tersebut. Sehingga penting bagi Sahabat MKAA menunjukkan yang terbaik untuk menyambut perayaan tersebut.

The 4 Way Test

Dalam menjalankan organisasinya, Rotary Club di seluruh dunia berpegang kepada prinsip The 4 Way Test. Prinsip ini terdiri dari 4 pertanyaan yang membantu seorang Rotarian dalam berkata dan melakukan sesuatu. Keempat pertanyaan ini adalah:

  • Is it the truth?
    Benarkah sesuatu itu?
  • Is it fair to all concerned?
    Adilkah bagi semua yang berkepentingan?
  • Will it build goodwill and beter friendships?
    Akankah membangun kebaikan dan persahabatan yang lebih baik?
  • Will it be beneficial to all concerned?
    Akankah bermanfaat bagi semua yang berkepentingan?

The 4 Way Test sendiri pertama kali dirumuskan oleh Herbert J Taylor, seorang Amerika dari Chicago. Awalnya, Herbert menggunakan prinsip ini untuk menyelamatkan perusahaan distribusi produk alumunium dari kebangkrutan pada 1930-an. Ternyata berhasil. Dengan prinsip ini, perusahaan tersebut mampu bertahan dari kebangkrutan.

Pada 1940, Herbert mengadopsi prinsip ini di Rotary Internasional. Saat itu, dirinya menjabat sebagai International Director of Rotary.

Selain ampuh digunakan untuk perusahaan, The Four Way Test juga bisa digunakan dalam keluarga untuk membangun saling pengertian antar anggotanya.

Saya pribadi mencoba menerapkan prinsip ini untuk bidang jurnalistik. Saat itu, saya menyebutnya sebagai The Four Way Test for Journalist. Prinsip ini tercetus ketika ada seorang peserta yang bertanya tentang cara meliput agar tidak keluar dari koridor jurnalisme yang baik dan positif. Dan hasilnya sebenarnya sama saja dengan The Four Way Test di atas, yaitu:

  • Is it the TRUTH?
  • Is it FAIR to all concerned?
  • Will it build GOODWILL and better FRIENDSHIPS?
  • Will it be BENEFECIAL to all concerned?

Saya sendiri masih mencoba untuk menerapkannya dalam organisasi media, terlebih lagi menyangkut kebijakan konten. Semoga saja bisa membantu meningkatkan mutu jurnalismenya menjadi lebih baik dan positif.***

6 thoughts on “Belajar dari Rotary Club Bandung

  1. Rinel berkata:

    Apa saja isi agenda meeting rotary ? Apakah benar itu murni kemanusian ?,.kenapa yg menjadi anggota harus orang tertentu saja ?, bukankah kemanusian setiap orang berhak untuk ikut ?, Kenapa kegiatan rotary tidak pernah secara eksplisit disebutkan ?, Knapa ada ituran tahunan ?, untuk apa uiran itu ?, apakh akuntable kemana larinya dana yg sudah dibayarkan oleh semua anggota ?,

    • Yudha P Sunandar berkata:

      banyak banget pertanyaannya, mba. hahahaha

      well, isi agenda meetingnya tentang proyek2 sosial yang dilakukan di lingkungannya. anggotanya sendiri harus dsponsori anggota yang sudah ada. menurut saya wajar. ini sebagai filter pertama bahwa anggotany bener2 punya komitmen untuk bergabung. bukan asal bergabung dan keluar-masuk ngak karuan. kegiatan rotary sebenarnya secara eksplisit disebutkan. bisa dibuka d rotary.org untuk programnya dan akutanbilitas anggarannya. kalo d indonesia, terkesan kurang eksplisit kegiatannya, karna isinya memang orang2 yang usianya menengah ke atas, yang ngak aware sama publikasi d website dan sosial media. baru sekarang2 ini mereka mulai punya website. iurannya sendiri untuk mendanai berbagai proyek2 sosial di seluruh dunia, dan tentunya mendanai organisasi. pendanaan proyek2 sosial ini dilakukan secara subsidi silang.

      kalo menurut saya, sebaiknya Anda mencoba masuk ke dalamnya. contohnya, Anda bisa mengaku sebagai mahasiswa kemudian bermaksud ingin membuat penelitian tentang Rotary. Anda bisa melihat bagaimana dalamnya Rotary Indonesia secara langsung. silahkan menilai sendiri.

  2. nurlienda berkata:

    Ternyata itu toh The 4 Way Testnya Rotary, jzk Kang… Tercerahkan alur kaderisasinya.. mereka loyal banget ya.. jarang ada komunitas atau organisasi yang bisa rutin pertemuan pekanan.. Nice info…

    • Yudha P Sunandar berkata:

      karena, sebelum masuk Rotary, seseorang harus punya sponsor. kemudian mereka juga benar2 harus meyakinkan diri bahwa calon anggotanya itu mau aktif, bukan hanya masuk terus cuman iseng ajah. makanya mereka serius, karna ngak gampang masuk Rotary. kalo ngak serius, yah sangsinya dikeluarkan. makanya, mereka bisa jadi organisasi yang mendunia dengan usia lebih dari 100 tahun.

  3. farizalfa berkata:

    semoga saja mutu jurnalisme ke depan nya semakin mantap dan semakin Jos..

    btw, kenapa ya milih presiden nya 1,5 tahun sebelum menjabat kayak nya supaya si presiden bener-bener siap yaa..😀

    • Yudha P Sunandar berkata:

      amin… amin…
      terima kasih doanya, mas🙂
      yups, saya lihat seperti itu. supaya presidennya benar-benar siap ketika waktunya memimpin. saya pikir itu bagus juga. jadi ada keberlanjutan program organisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s