Membangun Rumah Mandiri Energi


Foto: gofrisky.com

Foto: gofrisky.com

Akhir-akhir ini pikiran saya sedang menerawang rumah ramah lingkungan yang ingin saya bangun. Sedang membayangkan hidup dengan energi terbarukan: biogas dari sampah rumah tangga, air yang dipompa menggunakan kincir angin, dan listrik dari pembangkit listrik tenaga uap. Sambil menerawang, sesekali saya mencari referensi teknologinya. Beruntung tersedia internet dan Wikipedia. Memungkinkan saya mulai merajut mimpi ini menjadi kenyataan. Minimal secara konsep terlebih dahulu.

Sebenarnya teknologi energi terbarukan bukan sesuatu yang baru. Sebagai contoh teknologi untuk memompa air menggunakan kincir angin. Teknologi ini sudah digunakan oleh negeri Belanda untuk mengeringkan lautan menjadi daratan sejak ratusan tahun yang lalu. Juga sampah yang mumpuni menghasilkan biogas untuk keperluan memasak. Banyak kota di banyak negara di dunia sudah melakukannya beberapa puluh tahun yang lalu.

Di Indonesia sendiri, biogas ini populer di masyarakat peternakan sapi. Pasalnya, kotoran sapi merupakan bahan yang cukup baik untuk menghasilkan biogas. Cara, kotoran sapi ditampung di sebuah tabung. Setelah beberapa hari, kotoran sapi ini menghasilkan biogas yang bisa digunakan untuk memasak. Setelah kotoran sapi sudah tidak produktif lagi menghasilkan gas, limbahnya pun bisa digunakan sebagai pupuk untuk tanaman.

Meskipun begitu, tidak semua orang memiliki sapi yang siap menghasilkan kotoran untuk suplai biogas, termasuk saya. Oleh karena itu, saya kepikiran untuk menghasilkan biogas dari sampah organik dan kotoran manusia. Bagaimana pun, kedua sampah ini paling dekat dengan manusia dan akan selalu dihasilkan setiap hari. Yang menjadi tantangan selanjutnya adalah jumlah pasokan sampah organik dan sampah manusia setiap harinya. Apakah mencukupi untuk menghasilkan biogas sesuai jumlah yang dibutuhkan?

Penggunaan kotoran manusia untuk menghasilkan biogas sendiri pernah saya lihat di pesantren Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan, Jawa Timur. Di sana, septic tank tempat pembuangan kotoran para santri dipasangi selang. Selang ini tersambung ke kompor yang tak jauh dari septic tank. “Biasanya para santri menggunakan gasnya untuk memasak air panas untuk mandi,” kisah Adhim, sang pengelola pesantren kepada saya. Meskipun begitu, pihaknya belum memanfaatkannya secara serius untuk keperluan yang lebih serius, seperti memasak.

Pemanfaatan septic tank sebagai sumber biogas sebenarnya bukanlah sesuatu yang sengaja direncanakan oleh Adhim dan pihak pesantren. Pemanfaatan ini terdesak oleh kebutuhan untuk mengosongkan septic tank yang relatif mahal di Lamongan. Setiap bulannya, pihak pesantren harus merogoh dana hingga 1,5 juta Rupiah untuk memanggil truk penyedot septic tank.

Beruntung akhirnya Adhim menemukan cara untuk mengosongkan septic tank dengan cara yang lebih murah dan bernilai guna. Septic tank dibuat menjadi lebih mudah dibuka. Kemudian isinya dibuat lebih bermanfaat. Selain sebagai sumber biogas, kotoran di dalam septic tank juga digunakan sebagai pupuk. Sehingga pesantren ini tidak hanya memiliki sumber biogas, tetapi juga pupuk untuk menyuburkan tanaman di sekitarnya.

Saya pribadi berencana menggunakan biogas untuk 2 hal: memasak dan menghasilkan listrik. Untuk memasak, tinggal mengalirkan selang ke kompor di dapur. Sedangkan untuk menghasilkan listrik, biogas disalurkan untuk memanaskan tangki air hingga menghasilkan uap panas. Uap panas ini kemudian dialirkan untuk menggerakan turbin uap. Putaran turbin uap inilah yang kemudian akan menghasilkan pasokan listrik untuk rumah saya nantinya.

Selain untuk menghasilkan uap panas, air panas di tangki air juga bisa digunakan untuk mandi. Sehingga saya tidak perlu lagi memasak air di kompor atau membeli pemanas air agar bisa mandi air hangat. Tinggal kucurkan air dari tangki air untuk suplai uap panas, dan saya pun segera bisa berendam air hangat.

Sedangkan untuk suplai air tanahnya memanfaatkan teknologi pompa air kincir angin. Pompa jenis ini umumnya digunakan di Amerika. Kincirnya sendiri terdiri dari 18 baling-baling. Kincir yang digerakan oleh angin kemudian menggerakan pompa air di bawahnya. Selama kincir berputar, air pun akan terus mengalir.

Keuntungannya, pompa air kincir angin jenis ini tidak membutuhkan angin kencang. Hanya membutuhkan angin berkecepatan 5-6,5 Kilometer per jam untuk mengalirkan air dari dalam tanah ke permukaan. Dengan kata lain, angin sepoi-sepoi pun masih mumpuni untuk menghasilkan pasokan air bagi manusia.

Bila angan-angan ini terwujud, saya sudah setahap lebih maju dalam membangun kedaulatan energi, setidaknya bagi rumah saya sendiri. Sehingga saya tidak perlu pusing bila lain waktu TDL dan harga LPG mengalami kenaikan. Syukur-syukur bisa memasok biogas dan listrik untuk tetangga. Sehingga tidak hanya berdaulat, tetapi juga mampu bermanfaat untuk orang lain. Semoga…***

Video Cara Kerja Biogas:
http://www.youtube.com/watch?v=but5ntRMQQc

Video Cara Membuat Pompa Air Kincir Angin:
http://www.youtube.com/watch?v=tO2qLePp6nA

Iklan

4 thoughts on “Membangun Rumah Mandiri Energi

  1. lrosalina berkata:

    Ternyata Mas Yudha memiliki angan2 yang hampir sama dengan saya.. Langkah terdekat yang akan saya terapkan adalah menggunakan pencahayaan alami sehingga tidak ada penggunaan listrik utk lampu di siang hari. Ingin juga memanfaatkan teknologi solar cell tapi ternyata masih sangat mahal & tidak terjangkau.. Semoga ke depannya teknologi energi alternatif bisa lebih terjangkau dan berkembang sehingga angan-angan kita juga bisa terwujud.. 🙂

    • Yudha P Sunandar berkata:

      salah satu yang bisa diberdayakan juga di Indonesia adalah teknologi angin. jadi d atap rumah bisa naruh beberapa kincir angin untuk mensuplai energi alternatif. meskipun belum tentu signifikan suplai-nya, tapi setidaknya buat coba2, oke juga. hehehehe

      Semoga ke depannya bisa terwujud. saling mendoakan saja. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s