Kenangan Mewah


Seorang wanita Jepang berjalan di antara puing-puing bangunan yang hancur diterjang tsunami Jepang 2011. (Foto: reutersmedia.net)

Salah satu kenangan yang mengesankan saat masih aktif sebagai jurnalis di Salman Media adalah ketika saya meliput Tsunami Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Sebenarnya, Salman Media tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut. Namun, keberadaan beberapa orang yang berkaitan dengan Salman ITB di lokasi kejadian, membuat peristiwa tersebut layak disampaikan ke audiens Salmanitb.com.

Tsunami Jepang 2011 sendiri terjadi akibat gempa yang berpusat di 70 Kilometer sebelah timur pantai Tohoku, Jepang. Gempa dengan kedalaman hanya 30 Kilometer dan berkekuatan 9 Skala Richter tersebut menghasilkan Tsunami dengan ketinggian 40 meter ketika menyentuh bibir pantai. Hasilnya, daerah Tohoku dan sekitarnya rata diterjang pasang laut tiba-tiba.

Saat itu, salah seorang teman saya kuliah di Tohoku University di Sendai, Jepang. Ajeng namanya. Sendai sendiri merupakan kota yang tak jauh dari Tohoku. Bandara Sendai dikabarkan turut terkena pasang tsunami dengan ketinggian 12 meter.

Usai peristiwa tersebut, mendadak Ajeng tidak bisa dihubungi. Banyak orang yang mengharapkan dan mendoakan kebaikan untuk teman saya tersebut di dinding Facebook-nya. Meskipun begitu, yang bersangkutan tidak juga membalas harapan dan doa-doa tersebut.

Kekhawatiran mulai timbul ketika beberapa media luar negeri merilis foto-foto dampak tsunami. Hampir seluruh gambar memperlihatkan daratan yang rata diterjang ombak. Mendadak, pikiran saya membayangkan teman saya yang tengah berjalan di antara puing-puing bangunan menuju tempat pengungsian. Bahkan, membayangkan yang terburuk.

Dilanda oleh kekhawatiran dan emosi massal, akhirnya saya bertekad untuk mencari tahu keberadaan dan keadaan Ajeng. Sebagai langkah pertama, saya mulai memantau informasi berkenaan dengan Tsunami Jepang di beberapa media Jepang, media internasional, dan media sosial. Tak lupa saya pun merilis berita di situs Salmanitb.com terkait kejadian ini.

Pengamatan saya ini membuahkan hasil. Ternyata, alumni Salman ITB di lokasi kejadian bukan Ajeng semata. Ada seorang lagi yang tengah menimba ilmu di kampus yang sama. Widya namanya. Informasi ini saya dapatkan dari mas Agung Wiyono, salah satu pengurus YPM Salman ITB. Kebetulan anaknya tengah kuliah di Yokohama, Jepang. Usai gempa melanda dan sebelum tsunami, Anak mas Agung ini sempat berhubungan dengan Widya melalui telepon seluler. Setelah tsunami melanda, anaknya mas Agung pun kehilangan kontak. Saya pun merilis berita kedua sembari berusaha menghubungi keduanya.

Menjelang jam 21 malam, sekitar 8 jam setelah tsunami melanda Jepang, saya berhasil menghubungi Widya melalui Yahoo Messenger. Saat itu, barulah saya lega karena berhasil menghubungi salah seorang dari alumni Salman ITB ini. Dari Widya, saya memperoleh kabar bahwa teman saya pun baik-baik saja. Kini keduanya dalam keadaan selamat, sehat, dan berada di pengungsian. Saya pun merilis berita ketiga.

Meskipun begitu, saya masih penasaran dengan keadaan Ajeng. Pasalnya, Ajeng dan Widya tidak berada di tempat pengungsian yang sama. Mereka terpisah beberapa Kilometer. Sehingga saya tidak bisa mengetahui kabar Ajeng secara langsung. Oleh karena itulah, saya masih berusaha untuk bisa menghubunginya.

Kali ini, saya mencoba mengakses informasi keberadaan keduanya dari situs Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Jepang. Dari situ, saya mendapatkan beberapa nomor kontak orang-orang Indonesia di tempat pengungsian di Sendai. Saya pun berusaha untuk menghubungi ponsel seseorang yang berada satu pengungsian dengan Ajeng. Meskipun begitu, ponsel tersebut sulit dihubungi.

Saya terus mencoba menghubungi nomor ponsel tersebut agar bisa berbincang-bincang dengan teman saya itu. Pagi, siang, sore, bahkan malam, saya berusaha mencoba menghubunginya. Namun tetap saja belum mampu tersambung. Barulah pada hari kedua ada nada sambung diikuti jawaban dari ujung sana. Dan saya pun berhasil berbincang-bincang dengan teman saya itu.

Dalam perbincangan sekitar 5 menit tersebut, Ajeng mengabarkan bahwa para pengungsi hidup tanpa listrik dengan persediaan makanan yang terbatas. Mendengar hal ini, pikiran saya pun membayangkan bahwa keadaan di sana benar-benar darurat. Sehingga saya pun makin bersemangat untuk mewartakan keberadaan kedua alumni Salman ITB tersebut. Kemudian berita keempat pun saya rilis.

Selang beberapa jam usai saya menghubungi Ajeng, Widya mengabarkan bahwa listrik sudah menyala. Kemudian dia pun mengirimkan foto-foto suasana malam Sendai paska tsunami kepada saya. Hasilnya, mengejutkan! Kota Sendai tempat Ajeng dan Widya berada masih berdiri kokoh. Fasilitas penerangan jalan terlihat baik-baik saja. Gedung-gedung dan jalanan tampak mulus dan tanpa retak. Mobil pun melaju dengan normal. Fakta lainnya yang lepas dari pengamatan saya: wilayah kedua alumni Salman ITB tersebut berada jauh sekali dari tsunami.

Seketika, saya langsung merasa malu pada diri sendiri. Ternyata, saya terlalu berlebihan membayangkan keadaan kedua alumni Salman ITB tersebut paska tsunami. Bahkan, ketika tiba di Indonesia dan bertemu dengan saya, Widya menyampaikan bahwa saya terlalu “lebay” mengisahkan dirinya dan Ajeng saat di Jepang. Saya pun hanya tersenyum sambil meringis lantaran menahan malu.

Meskipun Sendai tempat keduanya baik-baik saja, tetap saja mereka dievakuasi pulang ke tanah air malam itu juga. “Ini perintah presiden!” begitu saya dengar dari kedua kawan saya. Sehingga akhirnya mereka terpaksa harus pulang ke Indonesia sebelum terbang lagi ke Negeri Sakura beberapa pekan kemudian. Saya sendiri masih mewartakan keadaan keduanya dan pengungsi lainnya hingga kepulangan mereka ke tanah air. Hitung-hitung menuntaskan rangkaian liputan yang sudah saya mulai paska terdampak badai emosi massa.

Bagi saya pribadi, peristiwa tersebut masih menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan. Saya benar-benar menikmati suasana menegangkan dalam mencari informasi lintas negara dan langsung dari sumbernya di lapangan. Memutar otak untuk bisa menghubungi ke Jepang, memantau pergerakan beberapa situs, dan mencoba menelepon sana-sini. Paduan adrenalin dan rasa penasaran yang meledak-ledak, membuat saya tidak bisa tidur beberapa hari saat itu. Lelah, tapi bahagia dan bersemangat.

Belum lagi, saya berlomba dengan banyak media massa di dunia untuk mengabarkan informasi dari Jepang. Bahkan, beberapa koran di Bandung, belum berhasil menghubungi salah seorang pun di Jepang beberapa hari setelah tsunami. Namun, alhamdulillah saya diizinkan untuk mampu melakukannya.

Dan ketika berhasil menghubungi keduanya, rasanya lega dan gembira. Seperti mencabut serat daging yang terselip di antara gigi atau menjawab soal yang rumit dan tak terpecahkan. Plong dan bahagia! Meskipun harus berakhir dengan cukup memilukan karena beritanya dinilai terlalu lebay, tetapi saya bersyukur pernah memiliki kenangan tersebut. Rasanya, kenangan tersebut sangat amat terasa mewah untuk saya yang bercita-cita menjadi jurnalis sebuah media mainstream, tetapi tidak pernah mampu mewujudkannya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s