6 Alasan Saya “Mencintai” MacBook


Foto: matterart.wordpress.com

Bila ada yang meminta rekomendasi untuk membeli notebook, dengan sigap saya akan mengusulkan MacBook. Bagi saya, produk yang satu ini luar biasa. Meskipun harganya selangit, tetapi menurut saya patut diperjuangkan. Bisa jadi, benefitnya melebihi yang kita kira.

Setidaknya, ada 6 hal yang patut dipertimbangkan sebelum memboyong pulang produk besutan Apple inc, yaitu:

1. Nilai jualnya stabil

Kestabilan nilai jual ini, memungkinkan penggunanya melempar ke pasar barang second dengan harga yang cukup tinggi. Misalnya saja produk MacBook Air 13 inchi yang 4 tahun lalu harganya sekitar 9-10 juta Rupiah (US$1.000). Bila saat ini dilempar ke pasaran, kemungkinan masih ada yang berminat membelinya dengan harga 5-7 juta Rupiah. Tergantung kondisi barangnya.

Dengan kata lain, dalam 4 tahun, harganya hanya turun sekitar 4 juta Rupiah.Untuk membeli produk serupa pun, tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Saat ini, 1 US Dollar setara dengan 12 ribu Rupiah. Bila akan membeli produk MacBook Air seharga US$ 1.099, pembelinya harus merogoh kocek sekitar 14 juta Rupiah. Jika sebelumnya melepas MacBook Air dengan harga 5-7 juta Rupiah, berarti tinggal menambahkan sekitar 7-9 juta Rupiah. Kalau ingin lebih murah lagi, tinggal tunggu saja Rupiah menguat kembali terhadap Dollar.

Bandingkan dengan produk lain yang memiliki kisaran harga serupa. Setelah 4 tahun, mungkin harga jualnya lebih kecil dibandingkan produk Apple. Ketika harus membeli produk serupa, mungkin perlu mengeluarkan uang lebih banyak. Dengan kata lain, dengan fasilitasnya saat ini, MacBook sebenarnya masih lebih murah dibandingkan produk notebook lainnya dengan kisaran harga yang sama. Atau bahkan bisa lebih murah dibandingkan notebook dengan kisaran harga jual yang lebih murah?

2. Harga Perangkat Lunak yang Lebih Terjangkau

Dengan harga barunya yang mencapai 14 juta Rupiah, MacBook Air 13 inchi sudah memiliki sistem operasi dan berbagai aplikasi bawaan lainnya. Bahkan, untuk semua MacBook keluaran Oktober 2013 ini, sudah dilengkapi iWork, aplikasi perkantoran besutan Apple. Dengan kata lain, dengan biaya 14 juta Rupiah, MacBook Air sudah siap digunakan.

Bila pun harus membeli aplikasi perkantoran, harganya pun sangat terjangkau. Satu aplikasi perkantoran iWork harganya kurang dari 200 ribu Rupiah. Untuk 3 aplikasi, pengguna hanya perlu mengeluarkan uang kurang dari 600 ribu Rupiah. Harga ini, menurut saya, cukup terjangkau untuk kalangan masyarakat menengah ke atas di Indonesia.

Bandingkan dengan produk perkantoran dari sistem operasi berlambang jendela. Umumnya, notebook hanya baru terpasang sistem operasi tanpa aplikasi perkantoran. Bila ingin membeli aplikasi perkantoran yang resmi, biasanya mensyaratkan tambahan biaya sekitar 2-5 juta Rupiah. Tergantung paket aplikasi perkantoran yang diinginkan. Ujung-ujungnya, jatuhnya bisa lebih mahal dibandingkan MacBook, dalam hal ini MacBook Air 13 inchi.

Meskipun harga perangkat lunaknya lebih murah, tetapi kualitasnya tidak kalah berkualitas. Saya sendiri menggunakan Keynote, aplikasi perkantoran di Mac OS untuk membuat materi presentasi. Namun, perangkat lunak ini lebih dari aplikasi presentasi biasa. Banyak fitur-fitur yang justru memudahkan saya mengeksplorasi desain grafis sederhana. Hasilnya, luar biasa menyenangkan saya. Dan mungkin orang-orang di sekitar saya.

3. Sistem Operasi yang Handal

Ini juga yang menjadi pertimbangan saya untuk mencintai MacBook. Mac OS sendiri merupakan sistem operasi yang dikembangkan dari keluarga UNIX. Tak berlebihan bila Mac OS dimasukan dalam varian keluarga LINUX, setara dengan Debian, RedHat, dan Suse. Karena dikembangkan dari fondasi kekokohan UNIX, tak heran bila Mac OS juga memiliki kehandalan menyerupai keluarga LINUX lainnya.

Tak hanya itu saja. Mac OS juga aman dari virus komputer. Maklum, hampir 90 persen virus komputer memang hanya ada di komputer yang menggunakan sistem operasi jendela. Sehingga Mac OS dan varian LINUX lainnya relatif lebih kebal terhadap perangkat lunak yang bisa mengganggu kinerja komputer tersebut.

Persentuhan saya dengan LINUX dimulai sejak 2006 silam. Linux Ubuntu adalah Linux pertama yang berhasil menyita cinta saya pada sistem operasi komputer. Pasalnya, turunan Debian ini memiliki tampilan yang elegan serta kuat diajak bekerja dengan beban berat dan lama.

Tak hanya itu saja. Karena sebagian besar perangkat lunaknya bebas (free), membuat saya hobi mengulik segala aplikasi yang bisa dipasang di LINUX Ubuntu di komputer saya. Bahkan, hobi mengulik LINUX Ubuntu ini mengantarkan saya kepada aktivitas menulis di koran Pikiran Rakyat Bandung kala itu. Namun, persentuhan ini tidaklah langgeng. Lantaran himpitan ekonomi dan hawa nafsu, saya pun harus berpisah dengan LINUX Ubuntu dan komputer saya pada 2008 silam.

Meskipun saya pernah dimabuk cinta oleh Linux Ubuntu, bukan berarti Linux tidak memiliki kekurangan di mata saya. Salah satu hal yang membuat saya tidak puas dengan Linux adalah pengembangan aplikasi untuk keperluan praktis. Walaupun memiliki varian yang cukup banyak, tetapi jarang ada aplikasi untuk kebutuhan praktis yang memiliki fitur lengkap.

Maklum, Linux umumnya dipake dan dikembangkan oleh pemrogram dan penguasa (administrator) jaringan. Tak heran bila kebanyakan aplikasinya banyak yang condong ke arah pemrograman dan manajemen jaringan. Karena hal inilah, saya mulai melirik Mac OS. Karena, bagi saya, Mac OS merupakan sistem operasi yang mampu memadukan ketangguhan LINUX dengan kebutuhan awam akan aplikasi perkantoran dan aplikasi lainnya yang bersifat praktis.

Dan benar saja. Setelah saya mencobanya, Mac OS seperti menghilangkan dahaga saya akan LINUX yang ramah untuk non-pemrogram. Sejak itu, ada bagian hidup saya yang merasa lengkap dan bahagia. Tidak perlu berkubang dengan rumitnya “dunia hitam” LINUX. Juga tidak perlu berkeluh dengan ringkihnya jendela.

4. Keterpaduan yang Paripurna

Inilah yang saya kagumi dari Steve Jobs: visinya untuk mewujudkan komputer yang terintegrasi antara perangkat lunak dan perangkat kerasnya. Karena integrasi inilah yang membuat pengguna bisa langsung memakainya tanpa harus merasa ribet memasang aplikasi tambahan.

Saya pribadi, salah satu orang yang merasa malas harus berhadapan dengan perangkat keras yang tidak serasi dengan perangkat lunaknya. Sehingga kinerja komputer pun seringkali tidak optimal. Keribetan ini tidak hanya terjadi pada perangkat yang sudah terpasang Windows terlebih dahulu. Juga terjadi ketika menggunakan LINUX.

Keribetan inilah yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada MacBook dan Mac OS. Pasalnya, perangkat keras dan perangkat lunaknya dirancang dan dibangun oleh perusahaan yang sama: Apple. Sehingga akan lebih serasi berjalan. Kinerja perangkat keras pun bisa lebih optimal dibandingkan perangkat keras lain dengan sistem operasi yang kurang serasi.

Oleh karena itu, semoga tidak berlebihan bila produk besutan Apple, dalam hal ini MacBook, memiliki keterpaduan yang paripurna. Keterpaduan yang membuat orang nyaman untuk menggunakannya. Sehingga bisa menggunakannya mulai dari awal memiliki hingga memiliki perangkat baru tanpa kesulitan yang berarti.

5. Kualitas Produk yang Tinggi

Bertautan dengan pertimbangan pertama, Steve Jobs melalui Apple berhasil merancang perangkat berkualitas di atas rata-rata notebook di kelasnya. Salah satu yang kentara dan terasa adalah ketahanan baterainya. MacBook Air 13 inchi terbaru saja diklaim memiliki ketahanan 12 jam bila digunakan untuk berselancar di internet.

MacBook Air saya sendiri memiliki ketahanan hingga 10 jam ketika awal-awal berada di tangan saya. Setelah 1,5 tahun berjalan, baterainya masih kuat menghidupi MacBook Air saya hingga 7 jam lamanya kini. Durasi yang masih cukup baik untuk MacBook seusianya.

Bahan yang dipilih untuk membuat MacBook pun terbilang cukup berkualitas. Tengoklah layarnya yang masih bening, papan ketiknya yang masih kokoh, suaranya yang masih jernih, dan trackpad-nya yang masih gemilang. Belum lagi dengan pembungkusnya yang terbuat dari alumunium. Membuat MacBook Air 13 inchi saya masih terlihat kokoh dan perkasa. Belum lagi dengan lekukan desainnya. Membuat MacBook tidak hanya sebagai perangkat kerja, tetapi sebagai barang seni.

6. Tidak Mainstream

Terdengar aneh, tapi inilah kenyataannya. Saya menyukai menggunakan MacBook karena produk ini cenderung anti-mainstream. Saya pribadi memang orangnya cenderung anti-mainstream.

Sebagai contoh, pada saat banyak orang membaca dan memuja novel Laskar Pelangi, saya justru menjauhinya dan mengubur dalam-dalam rasa kepenasaranan saya terhadap buku yang satu itu. Alasannya satu: terlalu mainstream. Juga ketika banyak orang asik mendengarkan lagu-lagu yang populer kini, saya masih setia dengan lagu-lagu Pidi Baiq dan The Panas Dalam. Alasannya juga sama: terlalu mainstream.

Karena alasan inilah, teman saya kemudian bertanya, “Apa yang kamu lakukan bila pengguna MacBook akhirnya menjadi mainstream?” Dengan seenak jidatnya saya jawab kalau masalah itu nanti saja dipikirkan, ketika pengguna MacBook sudah menjadi mainstream. Sekarang, yang nikmati aja ke-anti-mainstream-an saya.***

4 thoughts on “6 Alasan Saya “Mencintai” MacBook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s