Menulis Menggunakan Ponsel Cerdas, Mengapa Tidak?


Foto: crackberry.com

Saya tiba-tiba mendadak kagum dengan salah satu teman saya yang wartawan. Bukan karena dia wanita, tapi karena dia mampu menulis feature di ponsel cerdas (smartphone) miliknya. Saya kira, seharusnya Anda juga kagum dengan hal tersebut. Pasalnya, jangankan menulis feature, menulis straight news di ponsel cerdas saja bukan perkara mudah.

Berkaitan dengan hal ini, seorang teman yang mantan wartawan surat kabar bertema ekonomi di Bandung pernah berbagi cerita perihal masalah yang dihadapinya ketika menulis menggunakan ponsel cerdas. Dulu, ketika dia menjabat sebagai asisten redaktur, dia menugaskan anak buahnya untuk menuliskan liputannya di ponsel cerdas. Tujuannya satu: supaya liputan dari lapangan bisa dikirimkan sesegera mungkin sehingga bisa mengisi situs web medianya sesegera mungkin.

Namun, beberapa waktu kemudian, keputusan tersebut ditarik kembali. Ternyata, kualitas tulisan yang dibuat menggunakan ponsel cerdas lebih rendah dibandingkan tulisan yang dibuat menggunakan komputer dengan layar yang jauh lebih luas. Sehingga dia menganulir kebijakan tersebut dan mensyaratkan jajarannya untuk membawa laptop ketika meliput ke lapangan.

Kecilnya layar ponsel cerdas menjadi tantangan tersendiri bagi penulis yang hendak memindahkan aktivitasnya ke perangkat yang lebih mungil. Umumnya, para penulis merasa pandangannya terbatas sehingga tidak bisa melihat tulisan lebih luas dan menyeluruh. Hal ini berbeda dengan bekerja menggunakan komputer. Pandangan penulis yang lebih luas memungkinkannya membangun struktur tulisan dengan lebih baik.

Meskipun begitu, sulitnya menulis di ponsel cerdas ini tampaknya tidak berlaku bagi teman saya yang wartawati. Nyatanya, dia masih mampu mengguratkan hasil liputan dan pemikirannya di layar ponsel cerdas yang kecil.

Kebiasaannya ini lahir bukan tanpa sebab. Pasalnya, sang anak yang mulai bisa berdiri dan meraih barang-barang di atas meja, mulai bisa meraih laptopnya dan memainkannya. Sehingga teman saya ini kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Puncaknya terjadi ketika laptopnya rusak akibat dimainkan sang anak. Sehingga dengan terpaksa dia menggunakan ponsel cerdas untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Keputusan ini ternyata tepat baginya. Alih-alih menyulitkan, ponsel cerdas justru membantu dirinya berperan sebagai seorang ibu sekaligus wartawan yang baik. Sambil menyelesaikan reportaseny di ponsel cerdas, dia masih bisa bermain-main dengan anaknya. Ketika anaknya butuh penanganan yang lebih intensif, dia bisa menunda pekerjaannya terlebih dahulu dan menyimpan ponsel cerdasnya di tempat yang jauh dari jangkauan sang anak. Setelah tulisan selesai, tinggal kirim ke redaktur, dan dia pun kembali bermain bersama anaknya. Pekerjaan tuntas, anak pun puas.

Melihat kesuksesan teman saya ini, saya pun mulai mencobanya. Hasilnya adalah tulisan berjudul, “Buruh Jadi Wirausahawan, Kapan?” Tulisan ini saya posting tepat sebelum tulisan ini. Untuk melihatnya, silahkan klik “Previous Post” di bawah tulisan ini.

Menariknya, tulisan tersebut tidak ditulis ketika saya sedang berada di rumah, di kasur yang empuk pada tengah malam yang hening. Tulisan tersebut justru ditulis ketika saya berada di tengah hingar-bingarnya Kota Bandung, saat menunggu orang, berpergian dengan angkot, dan ketika berjalan dari gerbang perumahan menuju pintu rumah. Dengan kata lain, saya bisa menumpahkan buah pikiran saya di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi bagaimana pun. Cara seperti menulis ini, tampaknya bisa memaksimalkan waktu “idle” saya menjadi waktu produktif.

Cara seperti ini juga efektif untuk menampung ide-ide yang kerap hinggap di kepala saya pada waktu yang yang tidak tepat. Misalnya saja ketika sedang dalam perjalanan di angkot. Tentunya agak menyulitkan saya bila harus membuka MacBook atau kertas dan menuliskan ide-ide saya. Namun, dengan menggunakan ponsel cerdas yang selalu saya genggam, tinggal mengetikkan runtutan ide tersebut, dan menyimpannya di perangkat atau awan.

Bila ide-ide ini tidak segera diwadahi, tak jarang akan menguap dan menghilang. Padahal, dari ide-ide ini, seringkali saya berhasil menelurkan tulisan-tulisan yang menarik dan disukai orang-orang. Ide ini juga kerap muncul bersama dengan gairah menuliskannya. Bila ditunda, tak jarang gairah ini redup. Bila dipaksakan untuk tetap menuangkannya, tak jarang pula tulisannya cenderung hambar dan kosong. Tidak sehidup tulisan dengan ide dan gairah yang segar.

Meskipun begitu, menulis menggunakan ponsel cerdas bukanlah perkara mudah. Sempitnya layar ponsel cerdas membuat kualitas tulisan kita cenderung lebih rendah dibandingkan tulisan yang dibuat menggunakan komputer yang berlayar jauh lebih luas. Penulis umumnya merasa kesulitan menyusun kata dan membangun struktur kalimat. Mungkin layar mungil ponsel cerdas membuat pandangn penulis menjadi kerdil. Sehingga kesulitan mengembangkan tulisannya. Dalam hal ini, tantangan terbesarnya adalah meminimalisir perbedaan kualitas antara tulisan yang dihasilkan menggunakan ponsel cerdas dengan tulisan yang diproduksi dengan komputer.

Cara menyiasatinya salah satunya dengan membuat kerangka dan alur tulisannya terlebih dahulu. Kerangka dan alur ini minimal dibuat di dalam kepala. Akan lebih baik lagi bila digambarkan pada secarik kertas. Hal ini membantu penulisnya untuk membangun tulisan yang baik dan berkualitas. Minimal, derajat kualitasnya bisa satu tingkat di bawah tulisan yang diproduksi menggunakan komputer.

Cara yang sama juga dilakukan oleh teman wartawati saya. Dia membuat kerangka dan alur tulisan, bahkan sebelum melakukan aktivitas peliputan di lapangan. Sebagai contoh ketika dia meliput sebuah konser musik. Sedari rumah, sang wartawati sudah menyediakan “template” tulisan reportase untuk konser musik. Sehingga ketika berada di lapangan, dirinya tinggal melengkapi data, fakta, dan testimoni kemudian memasukkannya ke dalam template tulisan. Seiring selesainya konser, dia pun tuntas menuliskan reportasenya. Selanjutnya, tinggal dikirimkan ke redaktur untuk kemudian ditayangkan secepatnya, minimal di laman daring medianya.

Bila kualitas tulisannya ingin lebih baik lagi, cobalah melakukan “sentuhan” akhir menggunakan komputer. Periksa dan benahi kembali alur tulisan, susunan kalimat, argumen, data dan fakta, hingga pemilihan kata melalui perangkat yang berlayar lebih luas. Periksa dan baca berulang kali hingga kualitas tulisannya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saya sendiri merasa harus lebih maksimal lagi dalam mengoptimalkan fungsi ponsel cerdas untuk kepentingan menulis. Bagi saya, rasanya sangat sayang sekali bila ponsel cerdas hanya digunakan untuk menelepon, SMS, serta berselancar media sosial dan email semata. Padahal, kemampuannya yang telah setara dengan komputer 5-10 tahun lalu, seharusnya bisa digunakan lebih baik dan lebih banyak lagi.

Oleh karena itu, dengan kemampuan demikian, seharusnya ponsel cerdas tidak hanya mampu meningkatkan kualitas menyusun kata semata, tetapi juga memperbanyak jumlah karya nyata. Inilah ujian dan tantangan sebenarnya.

Bagaimana dengan Anda? Punya cara tersendiri untuk menulis dan berkarya melalui ponsel cerdas?