Buruh Jadi Wirausahawan, Kapan?


Foto: igfgroup.com

Demo buruh yang terjadi beberapa waktu lalu memancing banyak komentar, baik dari kalangan pengusaha, pemerintah, maupun “buruh” bersosial media. Umumnya, mereka mengomentari usulan UMK para buruh yang dinilai tidak masuk akal.

Dalam demo di kota Bandung misalnya. Para buruh mengusulkan gaji lebih Rp 2,7 juta per bulan. Angka ini merupakan hasil perhitungan buruh yang memasukkan beberapa komponen biaya tambahan di luar komponen biaya penghitungan UMK bulan-bulan sebelumnya.

Dari sudut pandang pengusaha, tuntutan ini dipandang memberatkan keuangan perusahaan. “Emangnya kami tidak pusing?” keluh salah seorang pengusaha kepada saya beberapa waktu lalu. Pasalnya, kenaikan bahan bakar minyak dan listrik saja sudah memberatkan. Belum lagi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang semakin melemah. Hal ini berimbas pada kenaikan harga bahan baku yang umumnya diimpor dari luar negeri. Nah, ini, tiba-tiba buruh minta naik gaji. Gimana cerita?

Bahkan, pengusaha lainnya menilai aksi ini merupakan konspirasi yang melibatkan pihak asing. Pasalnya, dengan menyulut buruh untuk berunjuk rasa, diharapkan membuat bangkrut perusahaan Indoensia dan penanam modal hengkang dari Tanah Air. Akibatnya, perekonomian negara kita akan semakin bobrok karena semakin kecilnya nilai ekspor dibandingkan nilai impor.

Komentar lebih satir lagi datang dari kawan saya yang sesama “buruh”. “Buruh yang ingin berkeluarga, buruh yang ingin punya anak, buruh yang pengen punya barang mewah, kenapa perusahaan yang harus pusing?” usiknya.

Kesejahteraan buruh yang pas-pasan memang sudah jadi isu lama. Namun, keengganan buruh untuk “move on” dari pekerjaannya, membuat banyak orang akhirnya malah tidak bersimpati kepada tuntutan mereka. Bahkan, pasangan pemimpin Jakarta Jokowi dan Ahok menganjurkan buruh untuk berwiraswasta bila menginginkan penghasilan yang lebih besar. Setidaknya, hal tersebut lebih baik dibandingkan berdemo yang dapat mengganggu kenyamanan publik.

Tentang wirausaha ini, saya jadi teringat cerita teman saya yang wartawan. Suatu ketika, Sang Pewarta bercerita tentang Asep Rabbit. Disebut demikian, karena Asep ini wirausahawan di bidang peternakan kelinci pedaging. Hasilnya pun cukup menggiurkan.

Kata Sang Pewarta, Asep Rabbit menyimpulkan berternak sapi yang harga satu ekornya mencapai Rp. 14 juta, hanya bisa menghasilkan Rp. 450 ribu per bulannya. “Kalau kamu berternak 10 kelinci, 1 tahun kamu bisa beli 1 sapi,” papar Sang Pewarta.

Caranya, lanjutnya, cukup beli 1 kelinci jantan dan 10 betina. Dalam 6 bulan, jumlah kelinci akan menjadi 4-8 kali lipat. Dan tunggu 6 bulan setelahnya, bisa menghasilkan kelinci hingga ratusan ekor.

Dengan kemudahan seperti ini, menurut Sang Pewarta lagi, Asep Rabbit membayangkan bila saja pemerintah mau memberikan sepasang kelinci untuk satu orang dan menernakannya, mungkin akan banyak orang Indonesia yang bisa mulai berwirausaha dan mendapatkan penghasilan secara mandiri.

Berkaitan dengan kisah ini, saya juga jadi teringat cerita kawan saya yang lain tentang seorang nenek di pelosok Ciamis, Jawa Barat. Sang nenek termasuk golongan tidak mampu. Sehingga ketika pemerintah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), dia pun termasuk penerimanya.

Uniknya, si nenek ini menggunakan BLT bukan untuk membeli kebutuhan pokok, tetapi membeli sepasang anak kambing. Anak-anak kambing ini kemudian dia pelihara, hingga besar, dan melahirkan.

Dari usahanya ini, kini si nenek mulai bisa menikmati hasilnya. Kambing-kambingnya mulai menjadi pundi-pundi Rupiah baginya. Sehingga dia bisa hidup dengan lebih baik lagi.

Kini, bila buruh ingin lebih sejahtera dan punya banyak uang, seharusnya mereka mencoba mengikuti saran Asep Rabbit dan mencontoh si nenek. Tidak mudah mudah memang, tetapi bukan kah setiap hasil yang terbaik membutuhkan sebuah perjuangan dan kerja keras? Bahkan, bila perlu harus ditebus dengan peluh keringat dan tetes air mata.

Tidak punya uang untuk modal awal? Toh, sekarang ini banyak usaha yang tidak membutuhkan modal uang dengan jumlah yang cukup besar. Sebagai contohnya temannya teman saya. Dia tidak punya pabrik atau pun toko tas, tetapi berjualan tas. Caranya, dia menawarkan berbagai macam tas yang diproduksi oleh temannya lagi. Bila ada yang berminat membeli, sang pembeli hanya disuruh mentransfer uang ke rekening produsen tas, dan tas pun akan dikirim. Tanpa harus punya pabrik dan toko tas, temannya teman saya pun mendapatkan uang dari komisi penjualan.

Dari sisi pemerintah, seharusnya mereka juga mulai mengembangkan kemampuan dan mental kewirausahaan bagi buruh. Sehingga lambat laun ekonomi negara kita bisa tumbuh melalui para wirausahawan, bukan tumbuh dari penindasan buruh dan tenaga kerja.***

4 thoughts on “Buruh Jadi Wirausahawan, Kapan?

  1. Agus Supriyono berkata:

    wah bagus artikelnya menjadi inspirasi meski modal kecil juga bisa menjadi wirausahawan, judulnya juga cukup menarik menjawab sebuah permasalahan kebanyakan orang, yang ingin berwirausaha tapi terhambat karena modal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s