Hobi Ngobrol dengan Wartawan


Foto: bc.onlineschool.ca

Berbicara tentang hobi, saya baru sadar kalau saya punya satu yang terbilang unik: ngobrol dengan wartawan. Bila sudah ketemu wartawan yang inspiratif serta punya banyak cerita dan pastinya gemar bercerita, mau ngobrol berapa jam pun, dengan senang hati saya lakoni. Apalagi kalau sudah bertemu wartawan dari 5 media cetak dengan Bahasa Indonesia terbaik secara nasional. Bawaannya, saya berharap waktu berhenti berputar dan ingin terus mendengarkan cerita-cerita mereka.

Tak terkecuali beberapa hari lalu. Hobi unik ini juga turut hadir di tengah-tengah perbincangan saya dan seorang wartawan dari sebuah media massa cetak. Pertemuan kami ini awalnya memperbincangkan perihal aktivitas Klab Citizen Journalist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika. Pasalnya, sang pewarta ingin mengangkat aktivitas komunitas yang kini sedang saya ampu. Namun, usai wawancara, ternyata perbincangan berlanjut. Bukan tanpa sebab. Selain karena sang wartawan sedang santai, juga tengah menunggu lalu lintas petang Bandung agak senggang dan lengang. “Males macet,” begitu ungkapnya.

Lalu, mulailah percakapan ngaler-ngidul terjadi. Topiknya pun luas dan banyak. Mulai dari awal mula sang pewarta bekerja menjadi wartawan, pengalamannya meliput di daerah-daerah, hingga demo buruh yang sedang berlangsung tak jauh dari tempat kami duduk.

Topik yang saya sukai tentunya perihal pengalaman dan pandangan sang pewarta tentang dunia media dan jurnalistik. Bagaimana pun, jurnalisme merupakan latar belakang kemampuan saya kini. Bila melihat faktor usia dan pendidikan, sangat kecil kemungkinannya untuk saya bisa bekerja sebagai wartawan di media massa cetak. Bila saya ingin menjalani aktivitas kejurnalistikan, salah satu caranya tentu membuat media sendiri. Namun, hal ini juga tidak mudah. Selain butuh usaha yang besar, juga butuh jam terbang yang tidak sedikit. Untuk itu, salah satu cara melengkapinya adalah dengan menggali ilmu dan pengalaman kepada para wartawan.

Bagi saya, perbincangan seperti ini memang sedang sangat saya tunggu-tunggu. Pasalnya, sudah sekitar 1,5 tahun ke belakang asupan wawasan baru kejurnalistikan saya kurang, bahkan sangat kurang. Tak heran, bila akhirnya saya seperti seekor unta yang kehausan di tengah padang pasir. Saking hausnya, hampir “tewas” karena belum mendapatkan asupan air sedikit pun.

Dulu, saya sering sekali mendapatkan asupan kejurnalistikan dari Sang Pakar. Setidaknya, setiap bulannya, saya bertemu beliau 2-4 kali. Banyak wawasan tentang jurnalistik media baru disajikan olehnya. Kalau sajian ini sudah terpapar, membuat kami bisa menghabiskan waktu hingga larut malam. Saking larutnya, seringkali saya pulang ditemani hiruk-pikuk pasar tradisional. Bahkan sesekali ditemani serombongan bencong yang hendak mangkal di jalanan Bandung.

Paparan Sang Pakar, bagi saya sangat menggairahkan. Membuat saya selalu bersemangat untuk membangun visi tentang media baru. Dan entah kenapa, visi itu membuat saya lebih hidup dalam menjalani kehidupan. Sehingga bila Sang Pakar sudah “bersabda”, saya enggan memotong paparannya.

Perihal ini, saya pernah satu mobil dengan beliau. Ceritanya, saya “nebeng” untuk mencapai satu lokasi yang sejalur dengan tujuannya. Ketika lokasi yang saya tuju telah tiba, saya pun enggan meminta berhenti. Pasalnya, Sang Pakar belum selesai memaparkankan ilmunya. Barulah, ketika paparannya selesai, saya kemudian turun. Meskipun harus berjalan kaki kembali ke tempat yang saya tuju karenan “kebablasan”, tetapi saya rela melakukannya.

“Bablas” karena mendengarkan “kuliah” pengalaman para wartawan tampaknya sering saya alami. Hal yang sama juga terjadi ketika saya berkunjung ke sebuah kantor redaksi surat kabar nasional di Jakarta awal tahun ini. Saat itu, saya menargetkan untuk pulang jam 19 WIB. Namun, sang wartawan senior yang berbincang-bincang dengan saya masih jua bercerita. Hingga akhirnya, beliau memutuskan pulang pada jam 21 WIB. Itu pun saya tidak langsung pulang karena masih terlibat perbincangan yang menyenangkan dengan wartawan lainnya. Akhirnya, saya baru berangkat ke Bandung sekitar jam 1 dini hari. Melintasi Jakarta yang katanya angker dan berbahaya ketika malam.

Selain berbincang-bincang, saya juga paling hobi “nguntit” wartawan yang sedang meliput di lapangan. Bagaimana pun, dari aktivitas tersebut, saya “menabung” banyak wawasan dan pengalaman tentang cara mereka bekerja. Mulai dari mewawancarai, membangun komunikasi, hingga menggalang data-data off the record, saya pelajari dari mereka.

Bila ada yang mencap hobi saya ini sebagai kurang kerjaan, norak, atau kampungan, ah, biar saja. Toh, saya senang melakukannya. Selama mereka tidak terganggu, mungkin saya akan dengan senang hati belajar dari mereka.

Meskipun begitu, kerap tidak semua “ilmu” kejurnalistikan bisa saya serap sepenuhnya dari mereka, khususnya yang menyangkut keahlian menyusun data dan fakta dalam teks. Sampai saat ini, belum ada “kesempatan” tulisan saya dikritik, dikomentari, dan dibenahi oleh mereka. Mungkin memang belum, atau mungkin tidak pernah sama sekali. Namun, satu yang pasti, Tuhan selalu menunjukkan jalan-Nya. Semoga.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s