Mengulang Sejarah


Foto: blueboxmedia.net

L’histoire se répète. Begitulah bunyi pepatah Perancis, “Sejarah Selalu Berulang.” Tak terkecuali hari ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mengulangi hal yang sama: ulang tahun.

Sejak lahir pada 11 Nopember 1985 silam, berarti saya sudah mengalami 28 kali ulangan kejadian ini. Dan tampaknya saya mulai merasa bosan. Kini, ulang tahun bukan lagi hal yang menakjubkan atau sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Lebih cenderung mulai biasa-biasa saja. Terlebih lagi bila melihat hidup yang belum mengenal jiwa atau minimal menghasilkan karya yang berguna untuk banyak orang. Rasanya, ruang-waktu bernama kehidupan tetap menyisakan kekosongan.

Angka 28 sendiri berarti 27+1. Pada usia 27 tahun, konon manusia mengalami masa-masa yang paling kritis dalam hidupnya. Pada fase ini, manusia akan dihadapkan pada banyak pertanyaan tentang hidup dan kehidupan. Tentang dunia dan dirinya. Bahkan, “keputusan” untuk meneruskan hidup terjadi pada kisaran usia 27 tahun.

Bagi mereka yang mampu membuat perbedaan di dunia, namanya akan besar dan dikenang beberapa dekade, mungkin beberapa abad. Sebutlah Soe Hok Gie, Kurt Cobain, dan Chairil Anwar. Tiga nama yang besar dengan karya yang diakui banyak manusia hingga kini. Tiga manusia yang (memilih) menghentikan kehidupan di usia 27 tahun. Mereka yang memegang prinsip Silenusi Periang, “Lebih baik tak pernah dilahirkan, dan yang terbaik adalah segera mati.” Pepatah ini semakin meruncing ketika Soe Hok Gie dalam catatan hariannya menyimpulkan, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah Mereka yang Mati Muda.”

Sebaliknya, mereka yang masih mampu meneruskan kehidupan akan dihadapkan lebih banyak pertanyaan dan ujian kehidupan. Sebuah anugerah, kesempatan, sekaligus tantangan yang Tuhan berikan dalam menempuh kefanaan dunia.

Usia 27 tahun sendiri bagi saya, mungkin juga bagi yang lainnya, merupakan salah satu tonggak terbaik dalam kehidupan. Bayangkan, ketika banyak orang memimpikan salju dan berharap mengunjungi sebuah negara asing, saya mendapatkan kesempatan mengelilingi setengah lingkaran bumi dan menginjakkan kaki di danau yang membeku di Washington DC. Menapak-tilasi masyarakat yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, sosial, pendidikan, hingga agama.

Memang belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka yang menjejal negeri orang hingga bertahun-tahun lamanya. Setidaknya, merasa bersyukur karena mampu sedikit mencicipi dataran sub-tropis belahan dunia barat.

Selebihnya, kehidupan mensyaratkan saya untuk berusaha menjadi manusia yang manusiawi. Manusia yang mampu menjadi lebih bermanfaat. Manusia yang mampu menjadi lebih baik. Dan manusia yang mampu menjadi lebih arif. Tidak hanya hari ini, bulan ini, dan tahun ini. Juga untuk masa-masa sesudahnya. Hingga akhirnya mendapat gelar purnawirawan sebagai “manusia hidup”.

11 thoughts on “Mengulang Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s