Kalau Sudah Jodoh, …


Foto: didisederhana.wordpress.com

Jodoh adalah rahasia Tuhan. Bila tidak berjodoh, sedekat apa pun hubungannya, tetap tidak akan sampai ke pelaminan. Pun sebaliknya, bila berjodoh, sejauh apa jua hubungannya, pasti akan menikah. Begitulah yang saya pahami, mungkin juga pemahaman kebanyakan orang.

Mengenai hal ini, ada banyak cerita yang berkembang. Pernah saya diceritakan tentang sepasang sejoli yang saling mencintai. Namun, cinta tersebut harus kandas lantaran orang tua si perempuan tidak setuju anaknya menikah dengan lelaki pilihannya. Bahkan, orang tuanya menjodohkan si perempuan dengan lelaki lain yang tidak dicintainya.

Singkat cerita, tibalah waktu pernikahan antara si perempuan dan lelaki pilihan orang tuanya. Namun, menjelang pernikahan, rombongan mempelai laki-laki tak kunjung tiba. Hingga akhirnya si mempelai perempuan ini kabur dari rumah lantaran malu pernikahannya tidak jadi digelar.

Di tengah perjalanan kaburnya ini, si mempelai perempuan bertemu dengan lelaki pilihannya. Si mempelai perempuan ini masih mengenakan pakaian pernikahan. “Kamu mau ke mana? Kenapa masih pakai baju pengantin?” tanya sang lelaki keheranan.

Kemudian, si mempelai perempuan ini mengungkapkan bahwa dia malu lantaran rombongan mempelai laki-laki tak kunjung tiba. Sehingga dia memilih meninggalkan rumah. “Mari kita kembali saja ke rumahmu. Bagaimana pun juga, tidak pantas bila dirimu bepergian dengan pakaian seperti ini,” nasihatnya. Dan mempelai wanita pun bersedia diantarkan kembali ke rumah oleh sang lelaki yang pernah jadi pujaan hatinya.

Setibanya di rumah, sang orang tua marah lantaran mempelai perempuan kabur dari rumah. Bagaimana pun, kejadian ini turut membuat bingung keluarganya yang telah mempersiapkan pesta pernikahan besar-besaran.

Karena merasa tanggung sudah mempersiapkan segalanya, sang keluarga mempelai wanita akhirnya menawarkan lelaki tersebut untuk menikah dengan putrinya. Yah, lelaki yang dahulu kala pernah ditolak oleh orang tua mempelai wanita. Tanpa pikir panjang, lelaki tersebut mengiyakan, mengucapkan ijab kabul, dan menjadi suami wanita dambaannya.

Saya pribadi tidak tahu mengenai keaslian cerita tersebut. Bagaimana pun, segala sesuatunya bisa terjadi di dunia ini. Cerita tersebut memang berakhir manis. Namun, saya juga punya cerita yang berakhir kurang sedap. Cerita ini menimpa seorang kenalan yang batal menikah menjelang detik-detik prosesi ijab-kabul. Dan kejadian ini tepat berlangsung di depan mata saya.

Peristiwa ini berlangsung sekitar Nopember 2012, tepat setahun yang lalu. Saat itu, hari Minggu, dan saya bersama kawan-kawan dari Bandung berangkat menggunakan mobil sewaan menuju wilayah Priangan Timur. Kami berangkat pagi hari. Sedangkan ijab-kabul akan berlangsung sekitar jam 14 WIB. Acaranya sendiri rencananya berlangsung sederhana. Hanya ijab-kabul, kemudian makan-makan, dan selesai.

Setibanya di rumah mempelai pria, calon pengantin masih mengobrol dengan seriusnya. Mereka bahkan belum mengenakan busana pernikahan. Padahal, waktu hampir menunjukkan jam 14 WIB.

Ternyata, kedua calon pengantin masih kebingungan perihal wali nikah sang perempuan. Pasalnya, wali nikah belum juga hadir dan tidak bisa dihubungi. Masalah kemudian berkembang ketika sang perempuan ketahuan sudah menikah sebelumnya tanpa memberitahukan sang lelaki. Sontak, masalah menjadi semakin panas. Padahal, saat itu sedang turun hujan deras dan suhu cukup dingin. Namun, kami yang ada di sana merasa gerah.

Waktu kemudian menunjukkan jam 14 WIB. Tamu undangan sudah berdatangan dan sudah tak sabar ingin menyaksikan prosesi ijab-kabul. Karena masalahnya belum terpecahkan, akhirnya tamu disuruh menunggu. Kedua calon pengantin masih terlibat diskusi yang semakin menegangkan saja.

Jam 14.30 WIB, para tamu sudah mulai bosan dan bertanya-tanya perihal acara yang belum juga dimulai. Untuk mengulur waktu, akhirnya pihak keluarga mempersilahkan tamu undangan menikmati sajian makanan yang telah disiapkan. Calon pengantin pun masih bersitegang berdiskusi.

Adzan Ashar pun berkumandang. Setelah selesai menyantap hidangan, sebagian tamu berpamitan pulang terlebih dahulu. Tak bisa berbuat banyak, keluarga pun menyampaikan permohonan maaf dan akan menghubungi secepatnya bila kedua calon pengantin sudah mencapai kata sepakat.

Namun, kesepakatan itu tidak pernah tercapai, dan pernikahan tersebut batal. Keluarga calon pengantin pria kecewa, begitu pun sang mempelai pria. Bukan main kecewanya. Sedangkan mempelai wanita tampak mati kutu. Dia pun pulang dengan tangan hampa.

Kami para undangan yang datang begitu takjub. Bahkan, bapak saya yang saat itu ikut, menyatakan ketakjubannya. “Selama 30 tahun ayah menghadiri undangan pernikahan, baru kali ini menyaksikan pernikahan yang batal menjelang ijab-kabul,” ungkapnya.

Saya pribadi hanya bisa merenung. Benar juga, jodoh itu adalah misteri. Bila tidak berjodoh, mustahil Tuhan perkenankan untuk bersatu. Bila sudah jodoh, apa pun rintangannya, pasti menikah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s