Merenungkan Takdir…


Foto: Blogspot.com

Beberapa hari ini, saya dan istri sedang merasa resah. Pasalnya, seorang kawan kami dijodohkan oleh orang tuanya tanpa meminta persetujuannya. Kawan kami ini wanita. Dan tampaknya orang tuanya ini merasa bahwa mereka berhak menentukan laki-laki yang akan menjadi suami anaknya kelak.

Masalah muncul ketika kawan kami ini merasa bingung. Apakah harus mengikuti kehendak orang tuanya meskipun tidak mencintai si laki-laki, atau memutuskan untuk mengikuti kata hatinya? Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah yang disampaikan oleh hatinya adalah murni “kata hati”? atau cuman nafsu yang menggebu-gebu semata?

Kami sendiri melihat ini sebagai persoalan. Pasalnya, kasus ini menyangkut kawan kami. Siapa yang tega melihat temannya dalam masalah? Ingin bertindak pun, serba bingung. Karena praktis ini sudah masuk wilayah internal keluarga mereka. Kami yang orang luar hanya bisa memberikan dukungan dan nasihat yang terbaik.

Kemudian, kebimbangan beralih kepada diri saya pribadi. Saya serba bingung mendefinisikan perihal takdir. Maksudnya, benar kah takdir adalah pilihan kita atau sesuatu yang digariskan oleh Tuhan? Termasuk juga jodoh, apakah sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan atau kah memang pilihan kita?

Memikirkan perihal takdir, membuat saya terbang ke masa silam, ketika saya lulus SMA dan hendak masuk kuliah. Saya dihadapkan pada 2 pilihan kuliah, Biologi UPI atau Informatika UNPAD. Waktu itu saya memantapkan diri untuk masuk UPI. Karena, bagi saya, informatika adalah sesuatu yang bisa saya pelajari secara autodidak.

Kemudian, saya pun meminta ibu saya untuk menghubungi sepupu yang pernah kuliah informatika di Yogyakarta. Ceritanya ingin meminjam buku-bukunya sehingga saya bisa belajar secara autodidak. Nah, ibu saya ini mengira saya memutuskan untuk masuk UNPAD. Dan ketika beliau mengkonfirmasikan ke saya, saya bilang iya. Anggukan kepala itulah yang akhirnya membuat saya masuk DIII Manajemen Informatika Jurusan Matematika Fakultasi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran.

Dan kehidupan 3 tahun di UNPAD bukanlah masa yang menyenangkan bagi saya. Menjadi warga kelas 3 dibandingkan dengan kawan-kawan yang berkuliah di S1, S2, dan S3 rasanya tidak enak. Semakin tidak enak ketika saya memergoki teman yang kuliah di jurusan lain di kampus lain yang dengan entengnya menguasai pemrograman secara autodidak. Waktu itu, informatika di mata saya semakin tidak ada harganya.

Kemudian mulai terasa pahit ketika menemukan diri terjebak di gelar diploma tanpa bisa melanjutkan ke S1 karena tidak punya uang dan pekerjaan. Pasalnya, program ekstensi adalah tanpa subsidi sehingga biayanya sangat mencekik. Jadi, sudah warga kelas 3 di kampus, kemudian harus bayar biaya kuliah sangat mahal bila ingin mendapatkan gelar “S” di belakang nama. Argh, rasanya super kesal ketika itu. Saking kesalnya, saya benar-benar tidak mengambil ijazah, bahkan hingga tulisan ini dibuat.

Namun, bila saya renungkan kembali, apa jadinya saya tanpa hari ketika saya memutuskan untuk menghubungi sepupu saya? Akan kah menyandang gelar Sarjana dari jurusan Biologi UPI lebih baik dibandingkan hari ini? Apakah saya akan ada di rumah ini bersama anak dan istri saya saat ini? Akankah saya menulis menggunakan komputer saya saat ini? Atau kah tulisan ini tidak akan ada sama sekali?

Saya yang saat ini adalah hasil dari saya yang kemarin dan waktu-waktu sebelumnya. Hasil dari berkuliah di UNPAD. Hasil dari ketidaksukaan saya pada segala hal yang berbau pemrograman dan perangkat keras komputer. Hasil dari pelarian dan pencarian jati diri. Juga hasil dari kontemplasi yang mungkin tidak akan ada bila ceritanya lain.

Bagaimana pun, takdir itu adalah rahasia Tuhan. Tidak ada yang patut ditanya soal takdir selain Dia yang punya. Perlu kerendahan hati, kepasrahan diri, dan ketenangan batin untuk mengungkapnya. Dan apa pun jawabannya, itulah bentuk izin dan ridho-Nya. Sehingga kita mampu menjadi manusia yang lebih baik.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214)

2 thoughts on “Merenungkan Takdir…

  1. Rina Amalia berkata:

    Cerita gimana kokoh masuk kuliah sama kayak aku😛 Hikmahnya aku jadi ngerti pelan-pelan gimana berkomunikasi sama orang tua buat memperjuangkan keinginan kita… Toh keinginanku (yang mana berbeda sama keinginan orang tua) pada akhirnya tujuannya adalah untuk membantu orang tua juga… Hingga ujungnya orang tua malah bener-bener kasih dukungan. Menurutku, anak dan orang tua sama -sama gak bisa sok tahu yang mana masa depan kita, karena kita hidup kita saling berkaitan satu sama lain. Maksudnya, keputusan apapun yang dipilih orang tua (meskipun untuk mereka sendiri) akan berdampak sama anaknya, dan jalan apa yang dipilih anaknya akan berdampak ke hidup orang tua. Kita ini keluarga… Berkomunikasi untuk menentukan jalan dan cara yang sama-sama enak dan menentramkan hati adalah jalan terbaik.

    Aku baru ngerti maksudnya “What doesn’t kill you make you stronger”. Maaf sotoy😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s