Mengenal “Cetak Biru” Diri


Foto: sheltrgroup.com

Dalam pelatihan jurnalistik untuk Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB Minggu, 3 Nopember 2013 lalu, saya memasukan materi tentang mengenal diri. Jarang-jarang memang saya memberikan materi semacam ini. Apalagi latar belakang aktivitas saya bukan motivator atau psikolog. Namun, karena panitia pelatihan meminta saya memberikan motivasi menulis kepada peserta, akhirnya “jurus” ini lah yang saya keluarkan. Sekalian mengevaluasi pemahaman saya soal materi mengenal diri yang kerap kang Alfathri Adlin sampaikan kepada banyak orang.

Saya memulai pembukaan presentasi dengan pertanyaan, “Mengapa dan bagaimana Anda berkarya?” Bagaimana pun, sebuah karya bersifat personal dan unik. Tidak hanya bentuk karyanya, tetapi juga cara setiap orang membangun karyanya. Saya jamin, tidak ada karya yang sama hingga seratus persen, bahkan seribu persen.

Sebuah karya juga merepresentasikan pembuatnya. Mereka yang memiliki kejelian memahami karya, memiliki kemampuan untuk menebak orang di balik sebuah karya. Seperti yang pernah saya alami beberapa tahun silam, ketika masih aktif berkontribusi untuk suplemen Cakrawala Pikiran Rakyat Bandung.

Ketika itu, saya mencoba mengirimkan tulisan di luar bidang yang biasa saya geluti. Biasanya, saya menulis tentang teknologi informasi dan komunikasi, khususnya open source dan internet. Sedangkan tulisan “iseng di luar bidang” yang saya kirimkan bercerita tentang ekologi dan pemanasan global.

Pikiran Rakyat sendiri salah satu media yang menganut teori intelektual publik. Jadi, ketika ada seseorang yang mengirimkan tulisannya, sang redaktur akan memeriksa latar belakang sang penulis, termasuk pendidikan dan aktivitasnya. Bila tulisannya sesuai dengan latar belakang penulis dan masuk kriteria berkualitas, maka besar kemungkinan sang redaktur akan memuatnya.

Atas dasar penilaian itu, akhirnya saya mencoba mengirimkan tulisan tersebut dengan nama dan latar belakang saya yang lain. Supaya lebih “mengaburkan” identitas saya yang biasa, saya pun membuat email baru.

Seminggu setelah naskah terkirim, tiba-tiba sang redaktur membalas email saya. Herannya, balasan email itu bukan terkirim ke email “identitas baru”, tetapi ke email yang biasa saya pergunakan sehari-hari. Di dalam email tersebut, sang redaktur meminta saya untuk membenahi beberapa hal supaya tulisan tersebut bisa dimuat.

Selidik punya selidik, ternyata sang redaktur sudah kenal karakter tulisan saya. Sehingga dengan mudahnya pula menerka penulisnya.

Kembali ke topik cara berkarya, seharusnya setiap orang tidak perlu sungkan untuk mengembangkan karyanya dengan cara apa pun sesuai dengan kenyamanan dirinya. Parahnya, di negara kita saat ini, orang berbeda dianggap “aneh” dan harus dijauhi. Daripada menanggung label “aneh” ini pula lah, banyak orang yang akhirnya berusaha untuk sama dengan kebanyakan manusia pada umumnya, khususnya dalam bidang pengembangan diri dan karyanya.

Saya kemudian menekankan bahwa penting untuk menjadi diri sendiri. Bagaimana pun, seseorang lahir dengan potensi yang berbeda-beda. Dan potensi ini luar biasa dampaknya bila setiap orang mampu mengembangkannya. Kemudian saya mengutip ucapan Albert Einstein, “Semua orang terlahir Jenius. Namun, jika engkau memaksa seekor ikan harus memanjat pohon, niscaya ikan itu akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempercayai bahwa dirinya bodoh.”

Foto: teachthought.com

Bagi saya, ucapan Einstein ini benar-benar merepresentasikan hidupnya. Ketika sekolah dasar dulu, dirinya hampir dikeluarkan karena dinilai bodoh dan payah dalam mempelajari semua pelajaran, kecuali Matematika. Bahkan, gurunya dengan seenak jidat menyatakan bahwa Einstein tidak akan menjadi apa-apa di masa dewasanya kelak. Namun, “ramalan” itu keliru besar. Eisntein menjadi Fisikawan besar yang jenius dan mengguncang sains abad 20.

Tokoh lainnya yang ikut saya ceritakan adalah Thomas Alva Edison. Edison dikeluarkan dari sekolahnya karena gurunya menyerah untuk mendidiknya. Akhirnya, ibunya lah yang mengajari Edison tentang sains. Pengajaran ibunya inilah yang akhirnya membuat dia menyenangi bahkan menyelami sains. Hingga akhirnya Edison betah mengeksplorasi 10 ribu percobaan dan berhasil membuat lampu bohlam pertama di dunia modern.

“Ghothi Seauthon, kenalilah dirimu sendiri,” saya tampilkan pada slide presentasi selanjutnya. Kalimat ini konon perkataan Apollo yang ditulis di pintu masuk kuilnya di Delphi, Yunani. Perkataan ini mengajak setiap orang untuk mengenali dirinya sendiri dan menelusuri potensi yang ada di dalamnya.

Potensi diri ini dalam bahasa kang Alfathri Adlin disebut Energi Minimal. Konsep ini merujuk pada potensi dasar atau cetak biru seorang manusia. Salah satu cirinya, seseorang akan dengan mudahnya mempelajari sesuatu tanpa harus belajar mati-matian. Dengan kata lain, seseorang hanya perlu “energi yang kecil atau minimal” untuk menguasai suatu bidang yang telah menjadi haknya.

Energi Minimal ini selaras dengan ucapan Rasulullah, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan untuk apa dia telah diciptakan.” Lebih lanjut, kang Alfathri juga kerap mengilustrasikannya dengan ucapan Konfusius, “Pilihlah pekerjaan yang engkau cintai, maka engkau tidak akan pernah merasa bekerja sehari pun dalam hidupmu.”

Einstein dan Edison sendiri, menurut kang Alfathri Adlin, tampak bodoh karena hanya memiliki satu kemampuan. Namun, keduanya berhasil menemukan energi minimun dan mengoptimalkan potensinya. Sehingga dunia memandangnya sebagai “jenius” di bidangnya.

Perihal ini, pemimpin redaksi dan editor penerbit Pustaka Matahari ini kemudian mengibaratkannya dengan lampu berdaya 10 watt. Dengan kekuatan sekecil itu, lampu tersebut hanya cukup bila digunakan untuk menerangi kamar saat kita tidur. Namun, bila lampu berdaya 10 watt tersebut dijadikan laser, maka besi pun bisa tembus.

Pun dengan manusia. Bila perhatiannya buyar ke berbagai hal, tampak seperti minyak yang tumpah di lautan. Minyak tersebut tampak menyebar, tetapi dangkal. “Lebih baik menguasai satu bidang dan fokus, dibandingkan banyak bidang tetapi dangkal,” begitulan nasihat kang Alfathri Adlin dalam sebuah kuliah tentang budaya dan agama 3 tahun lalu.

Loncat ke slide selanjutnya, saya kemudian menampilkan kembali perkataan Rasulullah, “Barang siapa mengenal jiwanya (dirinya), maka dia akan mengenal Tuhannya.” Proses pengenalan jiwa ini, selanjutnya akan membawa kita kepada paparan misi hidup dari Tuhan. Sehingga kita mampu memahami alasan-Nya menciptakan kita di dunia.

Kaitannya dengan karya, saya juga mengajak peserta untuk mengenal teori Lingkaran Emas (Golden Circle). Teori ini digambarkan dengan 3 lingkaran dengan ukuran berbeda. Lingkaran yang paling kecil berada di dalam lingkaran yang lebih besar.

Ketiga lingkaran ini menggambarkan 3 kata tanya. Masing-masing dari lingkaran yang terkecil hingga yang terbesar: Mengapa (Why), Bagaimana (How), dan Apa (What).

Foto: dybas.net

Dalam berkarya, kita harus memulai dari inti lingkaran kemudian menjalar ke luar lingkaran. Kita harus memulainya dengan pertanyaan “Mengapa”, kemudian menjabarkannya melalui “Bagaimana”, untuk kemudian menemukan bentuknya berupa “Apa”.

Saya kemudian mencontohkannya dengan beberapa tokoh kenamaan dunia seperti Steve Jobs bersama Apple, Larry Page dan Sergey Brin dengan Google, Mark Zuckerberg yang membangun Facebook, dan Bill Gates sang perintis Microsoft. Semuanya bermula dari satu kata: “Mengapa”.

Untuk lebih jelasnya, saya pun mengilustrasikannya dengan Kebun Morris yang baru saya bentuk dengan Sandro Purnama beberapa waktu lalu. Bila dirunut ke belakang, Kebun Morris ini berangkat dari kebutuhan orang-orang untuk mengakses pengetahuan yang sederhana tentang berkebun di halaman rumah.

Dari elemen “Mengapa” inilah kemudian kami memikirkan cara (Bagaimana) untuk berbagi pengetahuan yang kami punya kepada masyarakat yang lebih luas. Keputusannya adalah membuat petunjuk How-To berbasiskan infografis dan video.

Untuk mengejawantahkan ide ini, kami merasa membutuhkan “laboratorium” sebagai tempat melakukan percobaan berkebun sekaligus tempat pengambilan gambar. Namun, apa boleh dikata, cita-cita ini akhirnya “kandas” ditelan kenyataan. Kami tidak punya cukup dana untuk membangun “laboratorium” tersebut. Akhirnya, kami memilih untuk membangun bisnis penjualan benih terlebih dahulu. Hal ini menimbang kebutuhan penghobi berkebun terkait benih yang murah sekaligus cukup dan tidak berlebihan untuk bertanam di rumah.

Pada akhirnya, kami memilih nama Kebun Morris dengan layanan menyediakan pengetahuan dan benih berkebun di rumah. Produk akhir inilah yang merupakan elemen lingkaran terluar: “Apa”.

Saya juga mengingatkan kepada peserta untuk tidak memulai sesuatu dari lingkaran terluar “Apa”. Pasalnya, hal ini membuat seseorang akan kebingungan menentukan arah geraknya.

Contohnya adalah menulis. Menulis itu termasuk dalam kategori “Apa”. Sialnya, seringkali orang memutuskan untuk menulis karena aktivitas ini sedang menjadi tren, tampak keren, dan dipandang mudah. Namun, tak jarang mereka yang terjun dalam bidang ini kebingungan menentukan fokusnya. Apakah mereka akan menulis sastra semacam novel, cerpen, atau puisi? Atau kah menulis jurnalistik yang lebih populer? Mungkin juga menulis opini atau artikel ilmiah?

Pada akhirnya, mereka menulis tanpa tujuan. Biasanya, yang terjebak pada situasi ini tidak pernah benar-benar serius menulis. Mereka akan menulis pada bulan-bulan pertama. Setelahnya, mereka akan kehilangan rimba.

Mendengarkan paparan ini, beberapa peserta pelatihan seperti ciut untuk mulai menulis kembali. Beberapa lainnya mulai mengevaluasi diri dan mempertanyakan alasannya menulis. Sedangkan yang lainnya, tampak tenang-tenang saja. Mungkin karena tidak tertarik atau sudah mantap dengan pilihannya di bidang menulis.

Saya juga menekankan untuk tidak rendah diri. Asalkan kita memiliki potensi dasar di bidang tertentu, meskipun tanpa kemampuan yang mumpuni, kita mampu mewujudkannya. Bagaimana pun, Energi Minimal merupakan lokomotif ideal untuk membangun mimpi dan cita-cita berdasarkan potensi dasar diri kita masing-masing.

Tak ingin menghanguskan semangat beberapa peserta, saya pun menceritakan tentang aktivitas menulis sebagai terapi untuk mengenal diri. Menulis adalah berbicara dengan diri sendiri. Pelakunya kerap berada dalam keadaan yang kontemplatif. Keadaan ini memungkinkan seorang penulis terjun ke alam bawah sadarnya dan menelusuri “cetak biru” dirinya. Semakin sering melakukannya, semakin dalam menyelami dirinya, semakin besar kemungkinan menemukan kesejatian dirinya.

Selebihnya, saya menceritakan tentang pengenalan jurnalisme yang kerap dipaparkan dalam berbagai pelatihan. Tidak ada yang baru. Hanya saja disesuaikan dengan jenjang peserta yang masih berseragam putih-biru. Tanpa berharap banyak, semoga “racauan” saya tersebut dapat dipahami peserta dan membawa kebaikan bagi mereka.

Untuk materinya, bisa dilihat dan diunduh di SlideShare.net.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s