The Panas Dalam: Dari Kelamin hingga “Rada Cageur”


Siapa pun kamu
Bagaimana pun
Kasak kusuk mencari kelamin

Mencari orang yang terbaik
Cantik tanpa kelamin percuma
Mengaku punya cinta murni
Ujung-ujungnya minta kelamin

The Panas Dalam ketika peluncuran buku At-Twitter karya Pidi Baiq, sang vokalis. (Foto: indonesiakreatif.net)

Penggalan di atas merupakan lirik lagu Kelamin Uber Alles karya The Panas Dalam. Lagu yang menyentak dengan lirik yang menghentak, tentunya membuat siapa pun akan tersentak. Namun, beginilah ciri khas lagu-lagu The Panas Dalam. Sekilas tampak absurb, tetapi bila dipikirkan dengan mendalam, ada nilai-nilai filosofi yang menurut saya sih luar biasa, termasuk lirik di atas.

Lagu Kelamin Uber Alles seperti “mengkritik” bahwa urusan percintaan tak jauh-jauh dari urusan kelamin. Seperti yang ditunjukkan pada lirik baris kedua bait kedua. Siapa pun pasti akan setuju dengan pernyataan tersebut. Bahwa seorang manusia dinilai tidak “sempurna” bila tidak memiliki kelamin. Bahkan, secantik apa pun wanita, bila tidak memiliki kelamin, tidak akan “laku”.

Kemudian di baris ketiga pada bait yang sama, seperti menggugat makna cinta murni itu sendiri. Benarkah cinta kita kepada seseorang benar-benar dilandasi oleh kemurnian perasaan dari hati yang terdalam? Atau hanya “buaian” untuk “meminta” kelamin?

Bagi saya, lagu ini seperti menyadarkan bahwa manusia pada dasarnya akan selalu terikat dengan yang namanya kelamin. Banyak yang kemudian menikah lagi dan memiliki istri lebih dari satu, salah satunya karena “hasrat” berkelaminnya tidak mampu terpuaskan dengan satu istri.

Lebih dari itu, Kelamin Uber Alles mengingatkan saya untuk beranjak ke urusan “primitif” manusia menuju nilai-nilai yang lebih tinggi dan illahiah. Seperti yang pernah saya baca dalam literatur tasawuf. Bahwa pada hakikatnya manusia merupakan yang tertinggi dari yang tinggi. Kemudian Tuhan menempatkannya pada tempat yang terendah dari yang rendah.

Kedudukan yang “rendah” ini menempatkan manusia pada alam jasadi yang mensyaratkan makan, minum, tidur, dan tentu saja seks. Tuhan kemudian mensyaratkan manusia untuk meninggalkan kenikmatan jasadi tersebut bila ingin kembali mencapai derajatnya yang tinggi. Salah satunya dengan puasa. Karena puasa merupakan jalan penempaan jiwa dengan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan jasadi. Pada akhirnya, hanya manusia yang berhasil meninggalkan tataran jasadi lah yang mampu menjadi manusia paripurna.

Pencapaian nilai-nilai illahiah juga mensyaratkan cinta hakiki seorang hamba kepada Tuhannya. Berbeda dengan pengakuan cinta murni manusia yang ujung-ujungnya kelamin, cinta hakiki justru tanpa syarat. Hanya kerinduan akan kehadiran-Nya lah yang menjadi landasan cinta ini.

Pandangan inilah yang membuat saya menilai bahwa lagu Kelamin Uber Alles memiliki makna yang sangat dalam. Bila ingin dikaji secara filsafat, mungkin akan lebih kaya lagi. Namun, saya tidak memiliki alat analisisnya, sehingga tidak mampu memaparkannya di sini dan saat ini.

The Panas Dalam sendiri merupakan kelompok musik besutan Pidi Baiq, seorang seniman lulusan FSRD ITB yang dikenal dengan gaya dan pikirannya yang out of mainstream. The Panas Dalam merupakan “perlawanan” kaum muda di dalamnya terhadap kondisi politik Indonesia di akhir era Orde Baru pada 1995. Hal ini tampak dari visi pendirian serta ragam lagu dan liriknya.

Dari segi komposisi musiknya, saya sendiri tidak mampu menilai banyak. Namun, sepemahaman saya, The Panas Dalam menggabungkan balada, blues, dan rock. Beat musiknya seringkali kencang, tetapi tak jarang juga melankolis yang diiringi tiupan harmonika dan gesekan biola.

Komposisi musik ini berbalut dengan pemikiran out of mainstream yang tertuang dalam lirik-liriknya. Lirik-lirik ini benar-benar terasah dari pengamatan yang detail dan out of the box. Hasilnya, paduan lagu yang indah sekaligus “nendang”.

Dari tema percintaan, beberapa yang saya suka, sebutlah lagu Cinta Kandas Beda Usia, Jatinangor, Jane, Nia, Erwin Loves Mira, Rintihan Kuntilanak, Semacam Kasih Sayang, Suka Dukaku Mencari Lala, Aku Jatuh Cinta, dan Love is Giant.

Cinta Kandas Beda Usia bercerita tentang percintaan antara mahasiswa S2 dan anak TK. Di lagu ini, diceritakan bagaimana tersiksanya seorang mahasiswa S2 yang harus jatuh cinta kepada anak TK. Mereka dihadapi keputusan yang dilematis antara melanjutkan hubungan atau menyudahinya. Bila melanjutkan hubungan, pertanyaannya, bila si anak TK tumbuh menjadi seorang gadis, apakah akan menerima mahasiswa S2 yang tentunya sudah berusia lanjut dan tua bangka?

Saya pribadi menyangsikan bahwa lagu ini diangkat dari kisah nyata. Namun, kejelian dan keunikan untuk mengangkat tema percintaan seperti ini bagi saya harus diapresiasi dengan ungkapan “cerdas!”.

Juga lagu Rintihan Kuntilanak. Lagu ini menceritakan tentang hantu Kuntialanak yang menunggu mati kekasihnya. Menurut saya lagu ini juga unik.

Kapan mati kekasihku // Kumenanti kau di sini // Ayo mati bunuh diri // Agar kita jumpa lagi. Demikian penggalan sebait lirik lagu tersebut. Lagu itu benar-benar menjadi hidup dengan lengkingan vokal Pidi Baiq yang benar-benar meresapi dan menunjukkan kesetiaan dan ketidaksabaran Kuntilanak menunggu kekasihnya mati.

Pidi Baiq, sang pendiri dan vokalis. (indonesiakreatif.net)

Tak hanya tentang keputusasaan cinta, The Panas Dalam juga mencoba menggambarkan cinta antara sepasang suami dan istri dalam lagu Erwin Loves Mira. Erwin sendiri merupakan pemain harmonika dan vokal kedua The Panas Dalam. Lagu ini menceritakan cinta Erwin kepada keluarganya kendati dia ikut bermain musik dengan The Panas Dalam. Bahkan, lagu ini seperti menyampaikan jaminan kepada Mira bahwa Erwin ada di tengah orang-orang yang baik. Dalam reff, The Panas Dalam menceritakan bahwa Mira dan Mutiara (anak Erwin) bangga karena kepala keluarganya adalah anggota The Panas Dalam.

Sedangkan untuk lagu-lagu percintaan lainnya, silahkan analisis sendiri. Pastinya, coba dengarkan, hayati, dan Anda mungkin akan jatuh cinta dengan lagu-lagu The Panas Dalam.

Ada pun lagu-lagu lainnya memiliki tema dan karakter yang beragam dan unik. Beberapa yang banyak disukai oleh pendengarnya adalah Cita-Citaku, Budak Baheula, Lagu Timur, Wanita, Jangan Sombong, Bencong Sapoy, Jampi Maling, Novi Si Suara Seribu, dan Urang Mah Bae.

Cita-Citaku bercerita tentang seorang pria yang ingin menjadi wanita. Lagu ini memberikan satu per satu contoh unik tentang keengganan seorang lelaki yang tidak ingin menjadi lelaki. Misalnya dalam lirik pada bait pertama. Cita-citaku ingin menjadi Polwan // Mana mungkin aku hanya lelaki // Oh Tuhan tolong hamba-Mu // Aku tak sudi jadi bapak Polwan.

Demikian seterusnya. Dengan membandingkan status perempuan dan laki-laki, lirik ini seperti menggugat status seorang laki-laki ketika ingin menjadi perempuan.

Selain lagu-lagu yang tampak absurb seperti Cita-Citaku, juga terdapat lagu yang “rada cageur“. Dua di antaranya adalah Lagu Timur dan Jangan Sombong. Lagu Timur mengajak pendengar The Panas Dalam agar jangan takut terhadap hal-hal di dunia ini kecuali dibenci dan kehilangan teman. Sedangkan lagu Jangan Sombong mengajak pendengar untuk merenungi bahwa “Di atas langit ada langit”.

Ah, tampaknya bila menceritakan lagu-lagu The Panas Dalam tidak akan ada habisnya. Bahkan, di bank lagu saya ada 106 lagu The Panas Dalam. Saya kira bisa menjadi tema skripsi atau tesis yang menarik. Juga tidak akan pernah selesai euforia saya dalam mendengarkannya. Bila penasaran, silahkan dengarkan sendiri, dan rasakan euforianya.

Bagi saya, lagu-lagu The Panas Dalam seperti tidak pernah kehilangan “ruang” di hati saya selama ini. Komposisi musiknya yang asyik dan lirik-liriknya yang menilisik pikiran, seperti tidak pernah mau berhenti mengisi relung-relung lubang pendengaran saya di antara kotoran dan rambut telinga.

Bagaimana dengan Anda? Punya pengalaman dan sensasi dalam mendengarkan lagu-lagu The Panas Dalam?***

2 thoughts on “The Panas Dalam: Dari Kelamin hingga “Rada Cageur”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s